• Berita Terkini

    Wednesday, August 30, 2017

    Talangpati, Situs Peninggalan Mataram Kuno Desa Pujotirto Karangsambung

    HAKAM FOR EKSPRES
    Harta Kekayaan Sejarah yang Masih Minim Perhatian Pemkab


    Tim Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah melakukan inventarisasi benda-benda bersejarah di Kabupaten Kebumen. Sebanyak 9 kecamatan menjadi sasaran kegiatan yang berlangsung dari 14-28 Agustus tersebut. Adanya inventarisasi ini sepertinya membuka mata kita semua akan kekayaan benda-benda bersejarah di Kabupaten Kebumen ini. Salah satunya, keberadaan situs Talangpati dan Situs Pipisan yang berada di Dusun Kalipuruwetan, Desa Pujotirto, Kecamatan Karangasambung ini.
    --------------------
    CAHYO K, Kebumen
    --------------------
    SEJARAWAN Kebumen, Ravie Ananda yang juga pendiri Museum Wahyu Pancasila Panjer, Kebumen, menyampaikan, situs Talangpati ditemukan tak sengaja pada tahun 2010. Berawal dari kejadian dinding bukit yang longsor, warga lantas melakukan penggalian dan secara tak sengaja menemukan situs tersebut di lahan milik warga setempat, Umiyanto. Lokasinya tak jauh dari Sungai Talangpati yang mengalir di wilayah tersebut.

    Penemuan ini lantas ditindaklanjuti dengan penelitian oleh tim Museum Wahyu Pancasila Panjer yang dipimpin Arkeolog asal Kebumen, Sugeng Riyanto yang saat ini menjabat Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta. Tim ini melakukan penelitian dan pendokumentasian pada tahun 2015 dan 2016 lalu.

    Hasilnya, diperoleh kesimpulan Situs Talangpati merupakan struktur batu andesit berupa lantai dengan pagar pendek di kanan kirinya sehingga mirip talang air. Bahan struktur terdiri atas batu andesit yang digarap menjadi balok batu dan sebagian lainnya berbahan "boulder."

    Dari hasil pengukuran, diperoleh hasil situs talangpati ini memiliki lebar dalam 190 cm, tinggi sepatu 18 cm dan tinggi struktur di atas sepatu 15 cm. Sedangkan panjangnya belum diketahui karena masih tertimbun tanah tebal dan belum dilakukan penggalian lebih jauh.


    "Secara keruangan, struktur tersebut diduga merupakan bagian dari bukit alam yang dimodifikasi menjadi berteras yang sebagian dinding terasnya diperkuat dengan boulder," jelas Ravie Ananda.

    Melihat bentuknya, Situs Talangpati ini mengingatkan pada pada bangunan Pra Hindu, yaitu bangunan megalitik punden berundak. Dengan begitu maka secara kronologis situs Talangpati diduga termasuk dalam periode Prasejarah dan periode Hindu Budha atau masa Mataram Kuno sekitar abad VIII-X Masehi," katanya.

    Nah, penemuan Situs Talangpati itulah yang kemudian didata oleh tim BPCB Jawa Tengah kemarin. Selain Situs tersebut, tim juga mendata benda Pipisan, semacam peralatan yang biasa dipergunakan sebagai alat menumbuk.

    Ravie mengatakan, penemuan situs talang pati dan pipisan hanya menjadi salah satu dari sekian banyak penemuan benda-benda bersejarah di Kebumen. Dia lantas mendorong Pemkab dapat bekerja sama dengan pihak BPCB untuk mengembangkan situs tersebut agar lebih berdaya manfaat baik secara sejarah maupun ekonomi.

    "Apalagi sekarang lagi gencar-gencarnya promo wisata. Karena kebumen tidak hanya punya objek wisata landsacape. Tetapi juga banyak objek wisata sejarah yang bisa dikembangkan sebagai ecoturism," ujar Ravie.

    Pemerhati sejarah dan budaya Kebumen lainnya, Hakam Satibi menambahkan, Kabupaten Kebumen sedang menjadi sorotan nasional bahkan dunia persejarahan. Terbukti setelah Kepala Balai Arkeologi (Balar) Jateng beberapa kali melakukan penelitian di Kebumen. "Dalam penyusunan database dan fokus penelitian cagar budaya, dari 35 kabupaten se jawa tengah ternyata Kabupaten Kebumen lah yang yang terpilih menyisihkan kabupaten kabupaten lain di Jateng," katanya.

    Hal itu bisa dimaklumi, mengingat peran Kebumen di masa lampau dalam sejarah nasional begitu besar. Dalam babad Giyanti yang ada di beberapa museum, disebutkan bahwa embrio Keraton Jogjakarta adalah Kebumen atau saat itu disebut dengan Pandjer.

    "Kebumen mempunyai andil sangat besar terbentuknya kerajaan Jogjakarta, karena pertalian sejarah jaman dulu, Panjer sebagai pendukung utama berdirinya kraton, didukung 30 ribu pasukan Panjer, 3 ribu pasukan berkuda."

    Bahkan Pangeran Mangkubumi I  (HB 1) dahulu pernah menetap sekian lama di Panjer. Kala itu pasukan Belanda merasa ketakutan dengan kekuatan yang dimiliki HB 1, kemudian diadakanlah perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Giyanti," jelasnya.

    Dari hasil perjanjian tersebut, HB I kemudian memperoleh tanah yang selanjutnya dibangun menjadi Kraton Jogjakarta. Pertalian sejarah Kebumen-Jogjakarta makin kuat saat Pangeran Mangkubumi setelah dinobatkan menjadi Hamengkubuwana 1, mempunyai istri selir bernama Raden Ayu Handayasmara putra Raden Ngabei Kramaleksana Selang.

    "Sekarang nama Kramaleksana (mertua HB I) menjadi nama jalan kecil tepat sebelum perlintasan kereta api panjer. Ini beberapa fakta sejarah yang sampai saat ini banyak yang tidak tahu kenapa tanpa dukungan pemkab Kebumen," ujarnya.

    Meski demikian, Hakam dan komunitas sejarah telah berkomitmen untuk tetap menggali dan melakukan penelitian sejarah serta benda benda purbakala di Kebumen. "Daerah lain terutama Jogjakarta bahkan mancanegara begitu antusias dengan berbagai situs dan benda-benda prasejarah di Kebumen. Kok kita sebagai warga asli Kebumen malah tidak perduli dan peka terhadap harta yang sangat berharga milik kita sendiri," katanya.(cah)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top