• Berita Terkini

    Monday, August 21, 2017

    Saat Sabetan Wayang Anak Jakarta Undang Decak Kagum Warga Buayan

    foto-fotoIMAM/EKSPRES
    Bangga Tampil Bareng Idola, Cita-citanya Malah Jadi Pemain Bola


    Di tengah gempuran budaya asing yang menjamah seluruh sendi kehidupan dan segala usia, dua bocah Jakarta ini seperti mengingatkan kita semua soal cinta seni budaya sendiri. Adalah  Prama Riza (12) dan Rafi Ramadan (10), dua bocah kakak beradik, asal Jakarta yang justru menggemari wayang. Tak sekedar suka, keduanya malah betul-betul mendalang saat peringatan HUT RI Ke-72 di Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan, Kebumen, Sabtu (12/8/2017) lalu.
    ----------------------
    CAHYO dan IMAM, Buayan
    ----------------------
    DARI mata turun ke hati. Mungkin kira-kira begitu awal mula Prama yang duduk di kelas 2 SMP dan Rafi yang kelas 4 SD itu mengenal wayang. Lantaran sang kakek, Profesor Sumaryoto sering nanggap wayang, Prama dan Rafi akhirnya jatuh cinta beneran. "Kenal wayang umur 2 tahun. Sejak itu suka,"kata Rama Rafi ditemui wartawan, sebelum mereka mentas pagelaran wayang dalam rangka peringatan HUT RI di Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan.

    Profesor Sumaryoto,Rektor Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI Jakarta, asli Kecamatan Buayan persisnya di Desa Banyumudal. Bagi masyarakat setempat, sosok Profesor satu ini sudah sangat familiar. Sumaryoto dikenal sebagai akademisi yang sangat mencintai wayang kulit.

    Kembali ke soal Prama dan Ravi, ada yang cerita menarik lainnya. Sebagai bocah Jakarta, keduanya tak fasih berbahasa Jawa. Ini tentu menjadi kendala saat harus ndalang yang memang menggunakan bahasa Jawa bahkan tingkat "kromo inggil" (bahasa Jawa halus).

    Lalu bagaimana mereka saat pentas? "Kami membaca teks," ujar keduanya kompak.

    Ya, itupula yang terjadi saat mereka manggung di Buayan. Wartawan yang menyaksikan langsung penampilan keduanya melihat persamaan. Baik Rama dan Rafi harus membaca teks saat melakukan dialog wayang. Logat Jakarta mereka bahkan masih sering keluar tanpa mereka sadari.

    Namun, kekurangan itu mereka bayar lunas dengan teknik sabetan wayang nyaris sempurna.  Di bagian ini, sulit percaya bila keduanya anak Jakarta. "Wah hebat dalang kecilnya," kata salah satu penonton, Jimin (45) warga Wonodadi Buayan, yang mengaku awalnya tak menyangka dalang kecil itu berasal dari Jakarta.

    Prama dan Rafi tampil bergantian dengan dalang utama malam itu, Ki MP Bayu Aji, dalang tenar dari Surakarta. Rafi tampil pertama sebagai pembuka sekitar 30 menit. Selama itu, Rafi lebih banyak memeragakan adegan perang (sabetan). Untuk dialog, dia membaca teks yang berada di depannya.

    Sedangkan Prama, tampil dengan porsi lebih besar. Bahkan benar-benar menjadi bagian dari pentas malam itu. Dia muncul di tengah pagelaran dan meneruskan sebagian adegan lakon "Wahyu Katentreman" yang dibawakan Ki Bayu Aji. Sama dengan adiknya, Prama memukau penonton dengan sabetan wayangnya.

    Prama bahkan berimprovisasi saat mendalang dengan menampilkan becak, sepeda motor matic hingga helikopter sebagai kendaraan para wayang. Sontak, aksi ini mengundang tepuk tangan ribuan warga yang menonton wayang.

    Kedua dalang cilik itu baru turun dari panggung Minggu dini hari. Mereka mengaku senang bisa tampil malam itu. Apalagi, Ki Bayu merupakan dalang idola mereka. Bahkan menurut sang Kakek Sumaryoto, Prama dan Rafi tak mau nonton wayang kalau bukan Bayu Aji. Untuk mengasah kemampuan, mereka berlatih sendiri dibantu tayangan wayang dari video You Tube.

    Lucunya, mereka mengaku masih sempat grogi juga.  "Sempat grogi juga, tapi senang," ujar Rafi.

    Tak berhenti disitu, Rafi mengaku tak tahu cita-citanya saat kelak dewasa. Sedangkan Prama, malah bercita-cita menjadi pemain bola. "Meski begitu, kami telanjur mencintai wayang. Bukan tak mungkin besok menjadi dalang," kata dua bocah yang sama-sama mengidolakan tokoh wayang Gatotkaca itu.

    Profesor Sumaryoto pun tak dapat menyembuyikan kebanggaannya melihat kemampuan mendalang kedua cucunya itu. Di sisi yang lain, Sumaryoto juga tak memaksa mereka untuk menjadi dalang saat dewasa nanti.

    Adapun pentas wayang digelar dalam rangka pengabdian masyarakat Kampus Unindra PGRI Jakarta yang dipimpinnya. Sekaligus memberikan hiburan bagi warga masyarakat di tanah kelahirannya. "(pentas wayang) Menjadi agenda rutin kampus kami. Mudah-mudahan dapat menghibur masyarakat," ujar dia. (*/cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top