• Berita Terkini

    Friday, August 11, 2017

    Produsen Lanting dan Krupuk Kebumen Diminta Gunakan Pewarna yang Aman

    sudarno ahmad/eskpres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Produsen lanting dan krupuk di wilayah Kebumen diminta menggunakan pewarna buatan yang aman. Yaitu zat pewarna  yang diperuntukan  untuk pangan. Sehingga tidak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala  Balai Besar  Pengawasan Obat dan makanan (BB POM) Semarang, Endang Pudjiwati, saat sosialisasi dan fasilitasi pencegahan penggunaan bahan berbahaya pada pangan. Acara tersebut diselenggarakan di Desa  Gunungsari, Kecamatan Karanggayam, Jumat ( 11/8/2017).

    Menurut Endang, saat ini penyalahgunaan bahan makanan berbahaya masih ditemukan pada pangan. Terutama pangan industri rumah tangga dan jajanan anak sekolah. Penyalahgunaan tersebut, selain karena kepedulian masyarakat yang masih rendah terhadap  keamanan pangan. Juga karena kemudahan  memperoleh  bahan berbahaya.

    Harga  yang relatif murah, serta keefektifan fungsi dari bahan  berbahaya tersebut  untuk menghasilkan efek yang diinginkan dalam pangan. "Dampak kesehatan yang tidak langsung terlihat atau dirasakan menjadi  faktor penguat para pelaku usaha  pangan untuk mengubah cara produksinya," kata Endang.

    Endang menambahkan,  berdasarkan pantauan di lapangan, saat ini  masih banyak ditemukan  krupuk  yang  menggunakan bahan pengawet yang tidak aman dan berbahaya bagi tubuh. "Seperti pemakaian rhodamen B  pada krupuk, sangat berbahaya. Karena   bahan pangan  adalah jenis bahan pewarna  tekstil," ujarnya.

    Dari sosialisasi ini  diharapkan dapat terjadi perubahan kesadaran masyarakat produsen krupuk dalam penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan. Mereka menjadi tahu dan mau menggunakan pewarna pangan dan tidak berlebihan dalam pemakaiannya. Sosialisasi juga sebagai  salah satu langkah untuk meminimalkan kebocoran bahan berbahaya di pasaran.

    Sementara  Wakil Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, saat membuka sosialisasi tersebut meminta kepada para produsen krupuk agar mengindari jalan pintas dalam mengejar keuntungan. Misalnya mengunakan zat pewarna berbahaya agar kerupuk kelihatan “ngejreng”.

    "Dalam jangka pendek, mungkin cara ini efektif. Tapi dalam jangka panjang, justru akan merugikan," kata Yazid Mahfudz. Karena bisnis sekarang ini sangat tergantung dengan kepercayaan. Sekali produk kita diketahui mengandung bahan berbahaya, maka kepercayaan masyarakat akan hilang. Dan sulit sekali untuk memulihkannya. Kita juga yang rugi," paparnya.

    Sosialisasi  diikuti oleh sekitar  60 produsen  krupuk di tiga desa  di Kecamatan Karanggayam.  Ketiga sentra produksi krupuk tersebut adalah Desa Gunungsari, Selogiri dan Desa  Kalibening Kecamatan Karanggayam.  Dalam kesempatan tersebut juga  diserahkan  bantuan berupa  bahan pewarna  yang dianjurkan kepada para produsen  krupuk.

    Selain di  Kecamatan Karanggayam, sosialisasi serupa juga digelar di Kecamatan Kuwarasan, Kamis (10/8). Di Kecamatan Kuwarasan setidaknya saat ini  terdapat sekitar 160 produsen lanting, baik yang berproduksi secara  kontinue maupun musiman. Mereka tersebar di Desa  Lemahduwur, Harjodowo, Madureso dan Desa Kuwarasan.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top