• Berita Terkini

    Thursday, August 17, 2017

    Peringkat Kampus Nasional, UGM Sodok ITB

    JAKARTA – Urutan teratas peringkat kampus nasional hasil pengukuran Kemenristekdikti mengalami perubahan. Universtias Gadjah Mada (UGM) berhasil menggeser Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dua tahun berturut (2015 dan 2016) menjadi nomor satu.


    Hasil pemeringkatan kampus nasional oleh Kemenrsitekdikti selalu diumumkan bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Tahun ini Menristekdikti Mohamad Nasir mengumumkan hasil pemeringkatan terbaru setelah memimpin upacara di Puspiptek, Tangerang Selatan kemarin (17/8). ’’Sebelum ini beredar hasil-hasil peringkat nasional. Itu tidak benar. Hoax. Ini yang terbaru,’’ jelasnya.


    Nasir mengumumkan UGM behasil menempati posisi pertama dengan skor 3,66 poin, menggantikan ITB (3,53 poin). Di bawahnya disusul IPB (3,45 poin), UI (3,38), dan ITS (3,23). Kemudian untuk kategori politeknik atau vokasi, Politeknik Elektronika Negeri (PEN) Surabaya (2,24 poin), Poltek Negeri Sriwijaya dan Poltek Negeri Semarang (keduanya 1,96), serta Poltek Negeri Malang (1,95).


    Mantan rektor terpilih Undip itu menjelaskan ada beberapa indikator penilaian yang baru. Sehingga ada perbedaan hasil pemeringkatan tahun ini dengan periode sebelumnya. Diantara indikator baru yang signifikan adalah pengabdian masyarakat.


    Selain itu juga akreditasi internasional untuk program studi (prodi) serta keberadaan mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan. Nasir juga menjelaskan tahun ini dilakukan pemeringkatan tersendiri untuk kampus vokasi. Tujuannya adalah melihat langsung capaian kampus-kampus kelompok vokasi.


    Dengan dimasukkannya penilaian pengabdian masyarakat, nilai UGM terkatrol lumayan tinggi. Seperti diketahui kampus yang berbasis di Jogjakarta itu memiliki segudang program pengabdian masyarakat. Sejumlah hasil riset atau inovasi di UGB, banyak yang telah digunakan di masyarakat.


    Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemenrsitekdikti Muhammad Dimyati mengatakan parameter atau indiaktor pengabdian masyarakat nilainya cukup signifikan. Dia menjelaskan ada sejumlah pertimbangan memasukkan pengabdian masyarakat sebagai unsur penilaian. ’’Diantaranya kita ingin supaya kampus itu lebih dekat dengan masyarakat. Kampus jangan sampai dicap sebagai lembaga eksklusif,’’ jelasnya.


    Dimyati mengatakan ada empat jenis kategori pengabdian masyarakat. Yakni unggul, sangat bagus, memuaskan, dan kurang memuaskan. Total ada 15 kampus yang nilai pengabdian masyarakatnya masuk kategori unggul. Sebaliknya ada 610 kampus dengan nilai pengabdian masyarakatnya kurang memuaskan.


    Dia berharap kampus benar-benar menggarap misi pengabdian masyarakat. ’’Supaya inovasi-invoasi itu tidak mandeg (berhenti, red) di laboratorium atau perpustakaan,’’ jelasnya. Inovasi seperti alat bantu menanam kedelai dari UGM, supaya petani tidak lagi terus membungkuk, menurutnya cukup besar manfaatnya.


    Jika dicermati ada perbedaan hasil pemeringkatan yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti dengan QS World University Ranking. Hasil pemeringkatan terbaru dari QS menempatkan UI sebagai nomor satu. Kemudian disusul ITB baru kemudian UGM di urutan kedua.


    Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Intan Ahmad menuturkan ada perbedaan indikator diantara keduanya. ’’Sehingga hasil akhirnya beda,’’ turunya. Intan mengatakan salah satu perbedaan mencolok adalah, pemeringkatan QS tidak menghitung skor pengabdian masyarakat.


    Selain itu QS juga menggunakan survei persepsi publik tentang kinerja sebuah perguruan tinggi. Sementara Kemenrsitekdikti murni penilaian dari akademik masing-masing kampus. Tidak melibatkan persepsi masyarakat dalam penilaiannya. Dia mengatakan pemeringkatan Kemenristekdikti, QS, maupun lembaga pemeringkat lainnya sama-sama baik. (wan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top