• Berita Terkini

    Thursday, August 24, 2017

    Pemkab Kebumen Tuding Pengecer Jadi Biang Kerok Kelangkaan Elpiji

    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Pemkab Kebumen menuding pengecer dan warga tergolong mampu namun masih menggunakan elpiji 3 kg, sebagai biang kerok kelangkaan elpiji yang saat ini tengah dialami warga Kota Beriman.


    Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Kebumen, Wahyu Siswanti, Kamis (24/8/2017) menyatakan, seharusnya sudah tak ada lagi kelangkaan elpiji di Kebumen. Mengingat, alokasi elpiji sudah ditambah hingga 5000 tabung dari kebutuhan.

    Kalaupun masih warga yang kesulitan mendapatkan elpiji, kata Wahyu, dimungkinkan karena masih ada pengecer yang "nakal". Bisa juga, masih adanya masyarakat mampu yang tetap menggunakan elpiji bersubsidi yang seharusnya hanya untuk warga miskin itu.

    “Jika dilihat dari kuota maka tidak akan terjadi kelangkaan, sebab masih terdapat kelonggaran 5.000 tabung dari kebutuhan yang seharusnya,” tuturnya, Kamis (24/8/2017).


    Sesuai aturan lanjutnya, pangkalan merupakan pendistribusian elpiji terakhir yang harus sampai langsung kepada konsumen. Adanya pengecer hanya dilaksanakan guna memfasilitasi daerah yang jauh dari pangkalan. Kendati demikian saat ini pengecer sangat banyak, tentunya beberapa tabung gas justru mandek di pengecer dan tidak langsung sampai kepada masyarakat.  “Jika sudah demikian maka seberapa banyak gas yang beredar tetap saja akan mengalami kekurangan,” paparnya.

    Untuk itu ke depan diperlukan penambahan pangkalan elpiji. Meski saat ini jumlahnya pangkalan telah mencapai 827 pangkalan, namun penyebarannya belum merata.  Selain itu untuk pangkalan juga harus tegas, dalam melayani pembeli.  Penjualan elpiji 3 kilogram tidak untuk pengecer dan masyarakat mampu.

    Selain itu jika memang memungkinkan, masyarakat jangan membeli gas pada pengecer, melainkan langsung beli di pangkalan. “Kemarin telah ada deklarasi bagi PNS, TNI, Polri untuk tidak menggunakan elpiji  kilogram. Saat ini ketegasan dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan untuk menanggulangi persoalan kelangkaan elpiji,” paparnya.

    Wahyu Siswanti menambahkan, kendati  terdapat kelangkaan elpiji, namun keluhan justru lebih banyak dari para pengecer dari pada dari konsumen. Adanya hal itu menimbulkan kesan bahwa pengecer lebih membutuhkan elpiji dari pada masyarakat miskin. Padahal yang seharusnya membutuhkan justru masyarakat. “Untuk Hari Raya Idul Adha kebutuhan dinaikan 2% atau 15.000 tabung, itu akan didistribusikan pada tanggal 28, 29 dan 30 Agustus,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top