• Berita Terkini

    Wednesday, August 30, 2017

    Kekeringan, Warga Bonosari Sempor Gunakan Air Sungai untuk Mandi

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, merupakan salah satu desa yang mengalami krisis air bersih. Kekeringan di desa ini tergolong cukup parah. Pasalnya, sejak dua bulan lalu sumur-sumur milik warga setempat tak lagi mengeluarkan air.

    Bahkan hingga kemarin, bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen yang rutin diterima setiap kekeringan belum juga datang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga setempat mengandalkan satu-satunya sumber mata air yang ada di Dukuh Karangjati. Itupun debit airnya terus menyusut.

    Bahkan sejak satu bulan terakhir, dalam sehari paling banyak hanya mengeluarkan air empat hingga enam jerigen ukuran sedang. Perjuangan warga untuk menunggu air dapat diambil menggunakan gayung dilakukan sejak pukul 03.00 dini hari. Sebab, sampai terlambat warga pun bakal tidak dapat air bersih karena diambil warga lainnya.

    "Sehari diambil dua kali, atau paling banyak tiga kali. Sebelum subuh, pas siang dan sore menjelang magrib," kata Sutirah (43), warga Bonosari, saat mengambil air di sumber mata air tersebut.

    Sutirah mengaku, air yang didapat dari sumber mata air itu  digunakan memasak dan dikonsumsi. Terkadang air kalau pas tidak kebagian jatah, dia pun terpaksa harus membeli air dari luar desanya dengan harga Rp 1 ribu per satu jerigen. "Iya, kalau nggak kaya gitu kita yang nggak dapat air yang bisa diminum," imbuhnya.

    Untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, warga Desa Bonosari memanfaatkan sisa air di Sungai Luwer yang ada di desa tersebut. Yang airnya pun sudah surut, jika pun masih tersisa sudah tidak mengalir. Melainkan air yang menjadi genangan, yang sudah tidak layak digunakan. "Terpaksa, nggak ada pilihan lain. Kalau mandi yang disitu (di sungai)," imbuhnya.  

    Warga setempat berharap, Pemkab Kebumen secepatnya mengirimkan bantuan air bersih. Terlebih, warga sudah menyiapkan bak penampungan untuk menampung bantuan air bersih. "Kami berharap bantuannya cepat datang. Karena itu sangat membantu kami," ungkapnya.

    Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen, sedikitnya 65.730 jiwa dari 18.818 KK kekurangan air bersih. Jumlah tersebut tersebut berada di 96 desa yang tersebar di 15 kecamatan.

    Saat BPBD Kebumen telah mendistribusikan bantuan air bersih ke 59 desa di 13 kecamatan, dengan total 374 tangki. Adapun alokasi anggaran untuk penyediaan air bersih sebesar Rp 315 juta, atau setara dengan 1.600 tangki air bersih.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top