• Berita Terkini

    Selasa, 22 Agustus 2017

    Ironis, Genteng Sokka Kian Terpinggirkan

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Meski semakin banyak alternatif bahan untuk atap, genteng Sokka Kebumen masih menjadi menjadi salah satu pilihan dalam pembangunan gedung kantor dan rumah. Pemasarannya juga tak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal tapi juga ke luar daerah.

    “Pemasaran tergantung kemampuan produsen dalam mengakses pelanggan. Kalau produksi kami sudah sampai ke Kudus, Gresik, Palembang, bahkan pernah juga sampai Malaysia,” jelas pemilik usaha genteng HASA Sokka Kebumen, H Fathudien (16/8/2017).

    Industri genteng di Kebumen yang dirintis sejak jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1920-an sampai sekarang mengalami beberapa kali pasang surut. Lokasi yang dipilih Pemerintah Belanda untuk membangun industri genteng pertama kalinya di daerah yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Pejagoan.

    Hasil riset menunjukkan struktur tanah di kawasan tersebut cocok untuk membuat genteng, agar atap bangunan milik Pemerintah Belanda menjadi kokoh. Dengan pertimbangan kemudahan distribusi, pabrik didirikan dekat stasiun kereta api, di Dusun Sokka. Genteng produksi Kebumen lalu dikenal dengan sebutan genteng Sokka.  

    Pribumi yang menjadi perintis pabrik genteng di Kebumen adalah H Ahmad, dengan pembuatan masih dilakukan secara manual. Produk gentengnya dikenal dengan nama genteng jawa atau genteng plum. Abu Ngamar, putra H Ahmad, mempelopori pembuatan genteng dengan mesin produksi buatan Jerman. Produknya disebut genteng press kodok dengan merk dagang AB Sokka.

    Tahun 1940-an banyak pabrik genteng AB Soka hancur selama perang kemerdekaan. Industri genteng di Kebumen surut, baru berkembang lagi setelah Indonesia merdeka. Puncak kejayaan genteng AB Sokka terjadi antara tahun 1970-1980. Atap bangunan milik pemerintah Indonesia banyak menggunakan genteng AB Sokka seperti komplek Akademi Militer Magelang dan komplek perkantoran Pemerintah Indonesia di kawasan Kebayoran Baru Jakarta.

    Kesuksesan AB Sokka menginspirasi bermunculannya pabrik-pabrik genteng baru pada tahun 1980-an. Lokasinya menyebar di Kecamatan Pejagoan, Klirong dan Sruweng.

    Ironisnya saat Pemkab Kebumen membangun Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen pertengahan tahun 1980-an yang mula-mula digunakan adalah genteng sirap bukan genteng Sokka Kebumen. Setelah direnovasi baru kemudian menggunakan genteng sokka. Gapura Masjid Agung Kebumen (sekarang sudah tidak ada), juga menggunakan atap genteng sirap yang di tahun 1980-an mulai nge-trend.

    Seiring perkembangan jaman, bentuk genteng mengalami modifikasi. Pencetakan genteng press kodok dinilai sukar. Permulaan 1990-an mulai dikenal genteng plentong, baik bentuk papak maupun bulat. Lalu pada tahun 2000-an menyusul jenis magaz dan morando.

    “Sekarang yang umum dipakai jenis plentong dan magaz, baik bentuk papak maupun bulat. Genteng kodok sudah jarang karena model dan bentuknya sulit, pemasangannya harus pas antara genteng dan rangka atapnya, agar tidak tampuh (bocor) saat hujan,” jelas H Fathudien, yang keluarganya mulai menekuni usaha genteng sejak 1996 di Desa Kebadongan, Klirong.

    Untuk jenis morando, menurut H Fathudien, pasarannya khusus. Selain harganya lebih mahal, juga membutuhkan konstruksi atap yang kokoh. Tidak sembarang kayu bisa menopang genteng morando,” jelasnya.

    Bahan baku, genteng Sokka yang berupa tanah liat suatu saat bisa dihadapkan pada kendala ketersediaan stok. Beberapa tahun lalu sempat pula mencuat polemik terkait bekas galian tanahnya yang dibiarkan begitu saja. Saat musim hujan menjadi tempat genangan air tempat nyamuk bersarang.

    “Tanah di kawasan Pejagoan, Klirong dan Sruweng masih bisa digali. Hanya penggaliannya dibatasi dilarang melebihi 2 lungka (krikil) atau maksimal 50 cm dari permukaan tanah. Biasanya pada musim kemarau pabrik-pabrik genteng mencari bahan baku dan mengumpulkannya di lahan kosong sekitar pabrik,” terang H Fathudien, terkait stok bahan baku genteng.

    Ketentuan lainnya, bekas galian harus diurug kembali dengan lapisan teratas lungka (krikil). “Khusus pada saat musim hujan, maka pengusaha genteng yang mengambil galian bahan baku harus mengganti dengan tanah untuk mengurug bekas galian,” lanjutnya.

    Bahan bakar kayu didatangkan dari luar Kebumen. “Seringnya dari daerah pegunungan seperti Pituruh, Kaligesing dan Bruno (Purworejo) serta Wadaslintang. Terkadang dari Banjar, Jawa Barat Jenisnya kayu sawer (sawernane, maksudnya kayu apa saja, red.) yang penting kering dan bisa menjadi bara untuk menstabilkan pembakaran,,” sambungnya.

    Proses pembakaran bisa mencapai 3 hari 2 malam. Kalau musim hujan malah bisa sampai 4 hari, sehingga biaya pembakaran lebih mahal. Belum ada terobosan inovatif untuk pengganti bahan bakar kayu, yang bisa lebih hemat dan cepat prosesnya. Padahal kebutuhannya lumayan banyak. Untuk sekali pembakaran dengan kapasitas tobong (tempat pembakaran) antara 15.000-20.000 genteng, menurut H Fathudien dibutuhkan sekitar 3,5 truk kayu bakar.

    Pembangunan perumahan di berbagai daerah masih tumbuh pesat, pasar potensial bagi industri genteng Sokka Kebumen. Industri genteng Sokka masih berpeluang menjadi primadona industri rumahan (home industry) Kabupaten Kebumen. Untuk menghindari persaingan tidak sehat antar sesama produsen, lazimnya memang dibentuk asosiasi.

    Menurut H Fathudien, keberadaan asosiasi genteng Sokka Kebumen, baru sebatas forum pembahasan standarisasi harga pasar. Produksi genteng saat ini masih didasarkan pesanan, belum bisa berproduksi secara kontinyu. Pekerja yang umumnya ibu rumah tangga juga belum bisa mendapatkan upah yang sesuai UMK.

    “Kami baru mampu memberi upah Rp 35 ribu/hari untuk pekerja pembuatan genteng dengan jam kerja pukul 08.00 -15.00. Sementara untuk bongkaran sesudah pembakaran, dikerjakan borongan dengan upah Rp 400-500 ribu,” imbuhnya.

    Untuk ukuran Kebumen, terlebih sebagai penghasilan tambahan, upah sebesar itu sudah cukup membantu. Tentunya besaran upah tersebut akan bisa lebih meningkat bila pesanan genteng Sokka kembali melonjak seperti di era keemasannya tahun 1980-an.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top