• Berita Terkini

    Selasa, 15 Agustus 2017

    Gas Langka, Satgas Mafia Pangan Surakarta Turun Tangan

    SOLO-PT Pertamina telah menambah pasokan gas ukuran 3 kilogram (kg) sebanyak 174.160 tabung. Namun, upaya tersebut belum menuntaskan masalah kelangkaan gas melon di wilayah Eks Karesidenan Surakarta.

    Ny Sri, warga Kecamatan Jebres menuturkan, hanya berselang sehari setelah dilakukan penambahan pasokan gas melon, Rabu (9/8), dirinya tetap kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut.

    “Saya sudah berkeliling di sekitar 20 toko. (Mencari, Red) sampai ke wilayah Kecamatan Banjarsari juga. Tapi tidak menemukan toko yang menjual gas 3 kilogram,” ujarnya akhir pekan kemarin.

    Menyikapi hal tersebut, satuan tugas (satgas) mafia pangan Polresta Surakarta turun tangan membantu mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg. Kasatgas Mafia Pangan Kompol Agus Puryadi menjelaskan, beberapa pekan terakhir, pihaknya menerima pesan singkat dari masyakarat yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas melon.
    Anggota satgas mafia tangan kemudian turun ke lapangan menggali informasi. “Dari keterangan agen, ada permintaan lebih oleh pangkalan-pangkalan gas,” ungkap pria yang juga menjabat kasat reskrim Polresta Surakarta itu.

    Informasi dari sejumlah agen elpiji tersebut, lanjut Agus, pihaknya meningkatkan pengawasan terhadap pangkalan-pangakalan gas di Kota Bengawan. “Kita sudah mengantongi semua nomor pemilik pangkalan gas dan meminta para agen segera melaporkan jika ada pangkalan yang meminta pasokan gas tidak wajar. Dari situ akan kita lidik (penyelidikan, Red),” bebernya.

    Satgas mafia pangan tak segan menindak pihak-pihak yang aktivitasnya berpotensi menyebabkan kelangkaan gas 3 kg. Seperti sengaja menimbun atau mengoplos elpiji.
    “Kami pernah menangkap satu pelaku pengoplos gas 3 kilogram ke 12 kilogram di wilayah Gendekan, Jebres pada bulan lalu. Awal mula kasus tersebut ya seperti akhir-akhir ini, di mana terjadi kelangkaan,” tandas dia.

    Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Surakarta Subagyo menuturkan, berdasarkan pantauannya, tingkat konsumsi gas 3 kg meningkat. Hal tersebut disinyalir bisa menjadi penyebab kelangkaan.

    “Peningkatan konsumsi, pertama karena adanya budaya hajatan pada bulan Syawal hingga Muharam. Selain itu, banyak warga luar Kota Solo yang menggunakan gas 3 kg untuk untuk menghidupkan mesin disel pada sistem irigasi mereka. Lebih-lebih saat musim kemarau seperti sekarang,” urainya.

    Dinas perdagangan telah berkoordinasi dengan PT Pertamina untuk menenkan kelangkaan dengan operasi pasar di 11 titik. Antara lain Kelurahan Sangkrah, Semanggi, Ngandekan,  Sudiroprajan, Mojosongo,  Kestalan, Jebres, Karangasem, Pajang dan dua lokasi di Kelurahan Jajar.

    Direktur Pemasaran PT Pertamina Muhammad Iskandar menegaskan, operasi pasar dipilih agar kelangkaan cepat teratasi dan tidak salah sasaran.
    “Operasi pasar agar (kelangkaan gas 3 kilogram, Red) cepat teratasi,” tuturnya di sela Pesta Rakyat dalam rangka peringatan Kemerdekaan RI di Alun-Alun Kidul Pemkab Boyolali kemarin.

    Menurutnya, kebutuhan masyarakat harus dipenuhi. Termasuk gas 3 kg. Namun, mengingat pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk subsidi, maka distribusi gas melon harus selektif.

    Pemerintah, lanjut Iskandar, pada 2018 menargetkan menerapkan subsidi langsung kepada warga tak mampu. Artinya, mereka akan mendapatkan kartu khusus untuk membeli gas 3 kg. “Kebutuhan masyarakat harus kita penuhi. Cuma kan tidak bisa ngawur (sembarangan,Red) karena ini (gas 3 kilogram, Red) barang subsidi, sehingga selektif,” tandas dia.

    Dengan sistem tersebut, nantinya harga gas elpiji 3 kg, 5,5 kg, dan 12 kg, mengikuti sistem pasar. Tapi, warga tak mampu tetap bisa menikmati subsidi menggunakan kartu khusus. (gis/atn/wid/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top