• Berita Terkini

    Sabtu, 12 Agustus 2017

    Di Tegal, Sudirman Said Bicara Tiga Pokok Pembangunan Jateng

    TEGAL – Ada tiga fenomena yang membuka kesempatan bagi orang orang biasa untuk maju dan berkembang di semua level dan semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Tiga fenomena itu adalah teknologi informasi yang menghadirkan keterbukaan, demokrasi, dan meritokrasi.

    ”Ketiganya saat ini mulai menyisihkan paham feodalisme,” kata Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said dalam acara bedah buku Berpihak Pada Kewajaran, Antologi Pemikiran Sudirman Said di Kampus Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Jumat (11/8).

    Menurut Sudirman, teknologi informasi membuat dunia makin terbuka. Informasi dan pengetahuan begitu murah dan mudah didapat. ”Sekarang untuk menjadi pintar caranya sangat banyak, tidak terbatas pada sistem pendidikan formal,” terang dia.

    Kemudian, demokrasi membuka kemungkinan bagi siapa pun masuk berkompetisi, menjadi bagian dari kepemimpinan politik, baik eksekutif maupun legislatif dan cabang-cabang pemerintahan lainnya. ”Demokrasi membuat orang biasa, orang desa memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin daerah, bahkan nasional,” lanjutnya.
    Dan ketiga, imbuh Sudirman, adalah meritokrasi. Yakni sistem yang menghargai mereka yang berprestasi, bukan asal usul. Dengan demikian, siapa pun yang jujur, kompeten, dan berprestasi punya kesempatan menjadi pemimpin, menjadi orang yang punya pengaruh.


    Tentang Jawa Tengah (Jateng), Sudirman berpandangan, wilayah ini adalah kesempatan besar. Ruang tumbuhnya terbuka lebar. Demikian juga dengan ruang untuk perbaikan di segala sektor.

    ”Banyak ruang perbaikan yang bisa ditangani untuk membuat Jateng menjadi provinsi yang kuat, maju, sejahtera dan berharkat. Namun pembangunannya  harus ada keseimbangan antara membangun jiwa dan membangun badan,” imbuh dia.

    Sudirman menyebut tiga kunci untuk membangun Jateng ke arah yang lebih baik.  Pertama adalah mencetak sebanyak mungkin pemimpin yang jujur, berani, kompeten, dan kreatif. Pemimpin demikian akan banyak membuat terobosan-terobosan untuk memajukan daerah dan memperbaiki keadaan.

    Kedua, mendorong sebanyak mungkin lahirmya wirausaha. Rasio minimal adalah 2 persen dari penduduk. ”Secara nasional, Indonesia baru punya 1,65 persen. Jauh tertinggal dibanding Thailand 3 persen, Malaysia 5 persen, Singapura 7 persen, apalagi Jepang dan USA yang sudah mencapai 10 persen,” urai Sudirman.

    Kunci ketiga adalah memperbanyak tenaga terampil dengan memajukan pendidikan vokasi. Sekolah-sekolah kejuruan yang mengajarkan keterampilan dan keahlian diperbanyak. ”Perguruan tinggi mencetak sarjana banyak sekali, tapi pendidikan yang menyiapkan tenaga terampil amat kurang. Indonesia kekurangan 91 ribu guru SMK produktif. SMK perlu diperkuat dengan alat-alat agar bisa fokus ke pendidikan ketrampilan teknis,” lanjut Sudirman.

    Tiga kunci itu jika berhasil dilaksanakan akan menjadikan Jateng bukan saja maju dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga kualitas SDM-nya menjadi mumpuni. Dengan begitu, Jateng bisa sejajar, bahkan lebih maju dibanding tetangga sebelah, Jawa Barat dan Jawa Timur.

    Sementara itu, Rektor UPS Prof Dr Wahyono SH MS berharap, bedah buku semakin menjadi tradisi di kalangan civitas akademika UPS. ”Mohon kesediaan Pak Sudirman apabila suatu waktu UPS menginginkan kuliah umum dari Bapak,” ujar rektor. (nam/fat)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top