• Berita Terkini

    Thursday, August 24, 2017

    Derita Prasetyo, Atlet Paralympic Difabel Wakil Jawa Tengah

    INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS
    Didiagnosa Gagal Ginjal, Butuh Bantuan Dana Pengobatan

    Prasetyo Teguh Utomo, 17, merupakan atlet paralympic difabel selama hampir tiga tahun ini. Prasetyo –sapaan akrabnya- juga telah menyabet berbagai prestasi dalam pertandingan paralympic. Utamanya dalam bidang tolak peluru dan balap kursi roda.
    ------------------
    INTAN M SABRINA, Grobogan
    --------------------

    Prasetyo merupakan salah satu siswa berprestasi di bidang Olahraga. Meskipun Prasetyo memiliki keterbatasan fisik (difabel), hal ini tidak membuatnya berkecil hati. Motivasi dan semangat yang tinggi membuatnya ingin belajar mandiri dan mulai memutuskan untuk sekolah di SMP YPAC Surakarta.

    Sebelum bersekolah di SMP YPAC Surakarta, lelaki yang tinggal di RT 2 RW 7 Dusun Kaluwan Desa Boloh Kecamatan Toroh ini, layaknya anak normal yang bersekolah di sekolah umum yakni di SDN 1 Boloh. Namun, ia ingin mengembangkan hobi olahraganya kemudian ia melanjutkan bersekolah di SMP YPAC Surakarta . Di sana ia mulai difokuskan pada olahraga bidang tolak peluru dan balap kursi roda.

    Selama tiga tahun bersekolah di SMP YPAC Surakarta, banyak hal baru yang memotivasi Prasetyo untuk menekuni bidang olahraga. Berbekal motivasinya yang tinggi, walaupun jauh dari kampung halamannya Kabupaten Grobogan. Selama tiga tahun ini ia mampu meraih berbagai prestasi.

    Bahkan, banyak prestasi yang telah dia raih selama ini. Antaranya, Juara I balap kursi roda (paralympic difabel) dan Juara II tolak peluru di ajang Pekan Paralympic Pelajar Nasional (PEPARPENAS) 2015. Juara III balap kursi roda di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

    Kemudian Juara I balap kursi roda dan tolak peluru pada PAPERDA 2014, dan kembali meraih kejuaraan yang sama pada 2016. Darisitulah ia memperoleh banyak piagam penghargaan dan medali emas hingga perunggu.

    Saat ini Prasetyo sudah duduk di kelas X di SMKN 9 Surakarta. Namun, baru berangkat dua hari Prasetyo mengalami penurunan kesehatan. Putra ke dua dari pasangan Suharto dan Aisih ini lelah karena harus naik turun tangga karena kelasnya di lantai atas.

    Selain itu, kesehariannya sebelum mengalami penurunan kesehatan. Ia sedang persiapan menghadapi Olimpiade Paralympic yang akan digelar di Surakarta pada November nanti. Namun, ia harus menghadapi diagnosa dokter dimana ia mengalami gagal ginjal kronik.

    “Sebelum jatuh sakit, ia kerap mengalami gejala pusing, mual, muntah disertai kencing berwarna agak merah dan kental. Ia kerap seperti anyang-anyangan. Karena saya khawatir, langsung saya larikan ke Puskesmas Banyuanyar pada 31 Juli lalu. Kemudian dirujuk ke RSU Surakarta,” jelas ibu Prasetyo, Aisih.
    Tak sampai disitu, dokter meminta Prasetyo dirujuk ke RS Moewardi karena di RSU Surakarta kehabisan obat saat itu. Namun karena keterbatasan biaya membuat Prasetyo dilarikan di RSUD R Soedjati Purwodadi.

    “Di sini dokter mendiagnosa bahwa anak saya terkenal gagal ginjal kronik. Untungnya saat itu kami sudah memiliki Jamkesda. Namun, kami langsung dialihkan ke BPJS kesehatan saat itu. Sehingga biaya selama perawatan di RS tidaklah berat,” ungkapnya.

    Prasetyo ditangani dengan tahap awal melakukan transfusi darah yang menghabiskan empat kantong darah golongan B+. Selama delapan hari , ia harus terbaring di kasur. Sampai saat ini, Pras telah melalui cuci darah sebanyak empat kali. Sebab setiap dua kali dalam sepekan ia harus melakukan cuci darah.
    Meski terus melakukan cuci darah setiap pekannya. Prasetyo ingin terus mengejar impiannya sebagai atlet difabel hingga tingkat internasional. Bahkan olimpiade pada Nomember nanti ia bertekad untuk mengikutinya.

    “Rencana ke depan ingin transpplantasi atau cangkok ginjal. Namun membutuhkan biaya yang cukup besar. Sedangkan bapaknya hanya bekerja di proyek selama ini. Saya pun hanya ibu rumah tangga,” keluhnya.

    Dari situ, kakak kandung Prasetyo yang bernama Yuyun Putri Aji yang kuliah di Jakarta mulai membuka penggalangan dana melalui media sosial. “Saat ini kami menunggu donasi yang terkumpul. Guna biaya cangkok ginjal adek saya. sekiranya kami membutuhkan biaya Rp 750 juta,” ungkap Yuyun.
    Sampai saat ini, Yuyun baru berhasil mengumpulkan donasi 3 persen dari target pencangkokan dan operasi. “Baru terkumpul sekiranya Rp 24 juta. Kami masih sangat butuh donasi untuk keringanan biaya ini,” keluhnya.

    Tak hanya disitu, Yuyun juga mulai meminta bantuan Kemenpora dan pemerintah kabupaten (pemkab) untuk langsung menghubungi bupati. “Berharap segera ada tanggapan yang baik. Sehingga adek saya bisa segera melakukan pencangkokan dan kembali mengejar berbagai prestasinya untuk mengharumkan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah hingga Indonesia,” pungkasnya. (int).



    Berita Terbaru :


    Scroll to Top