• Berita Terkini

    Rabu, 26 Juli 2017

    Perjuangan Dodo Ubah Pandangan Miring Tentang Tatto

    ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO
    SOLO – Tato masih menjadi stigma bagi sebagian masyarakat. Para tattoo artist terus berupaya menggerus cap miring tersebut. Salah satunya dengan menggelar Solo Skin Art di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Selasa (25/7).

    Hampir seluruh sudut pendapat TBJT dipenuhi orang-orang bertato, Baik laki-laki maupun perempuan. Tak berapa lama terdengar suara imbauan dari pengeras suara agar seluruh orang keluar dari area pendapa. Sekat yang mengelilingi pendapa dijaga ketat aparat kepolisian. Dengan peralatan lengkap, polisi menyisir ratusan stan yang telah dipersiapkan. Tidak ada seorang pun yang panik. Mereka mengikuti instruksi yang diberikan panitia.

    “Kita menjalankan event ini sesuai dengan prosedur. Sebagaimana event musik atau pertunjukan lainnya,” ucap ketua penyelenggara Solo Skin Art Prasetya Enggar Perdana.
    Agenda yang digelar mulai kemarin hingga 27 Juli tersebut diklaim bertaraf internasional. Dodo, sapaan Prasetya Enggar Perdana menampik pengamanan yang terkesan ketat sebagai bentuk ketidakpercayaan pemerintah terhadap orang bertato.

    Dia malah menyebut saat ini masyarakat berangsur-angsur mulai menggeser pandangan miring tentang tato.

    “Secara umum pemerintah mendukung. Bahkan Indonesia Subculture sebagai organisasi yang menaungi tatto artist pun sangat dekat dan sering bekerja sama dengan pemerintah,” ungkapnya.

    Ditekankan Dodo, Solo Skin Art digelar bukan untuk pribadi, komunitas, atau malah mengeruk kuntungan pribadi. Para pecinta tato berkumpul guna memberikan edukasi kepada masyarakat tentang seni rajah tubuh. “Sekarang tato itu sudah modern dan jauh dari kesan kriminal. Diharapkan dapat membuka mata masyarakat,” terangnya.

    Pria 28 tahun tersebut membagikan kisah perjuangan seniman tato yang tak mudah menyerah dengan keadaan. Mereka membutuhkan modal besar membuat studio tato dengan peralatan standar. Hingga mencapai Rp 20 juta hingga Rp 100 juta. Salah satu penyebab mahalnya peralatan itu karena tidak tersedia di tanah air. Mereka harus mendatangkan dari luar negeri. “Di Indonesia ada yang produksi tetapi kualitasnya masih kalah (dengan luar negeri, Red),” kata Dodo.

    Berbagai cara digunakan agar tato kit-set sampai di tangan seniman. Salah satunya adalah meminta tolong rekan yang sedang berlayar ke luar negeri. Atau memilih melakukan transaksi online dengan risiko barang yang tidak utuh. “Karena mahal, kita harus hati-hati. Pesannya lama, bayar mahal, sampai sini rusak,” ujar Dodo.

    Dengan resiko tinggi itu, tak pelak membuat ongkos pembuatan tato menjadi mahal. Setiap ukuran 5x5 sentimeter tato dipatok Rp 300 ribu. Atau dihitung per jam sebesar Rp 500 ribu. Wajar jika studio tato di Kota Solo hanya mendapatkan order satu orang per hari. Meski begitu, seniman tato tetap memegang komitmen setia menekuni dunianya.

    “Saya dari lulus SMA belajar dan bekerja di dunia tato. Untuk bertahan, harus tetap mengedepankan higienitas dan menjamin satu jarum dipakai satu orang. Nyatanya tato juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja,” papar Dodo.

    Dari keuletannya itu, mengantarkan Dodo meraih prestasi internasional. Dari sekitar 200 seniman tato, dia menjadi satu-satunya mewakili Indonesia dalam Body Art Unite di Australia pada 2016.

    Dia memamerkan seni tato di Australian Road Tour dari Sydney hingga Melbourne. Untuk ajang yang sama pula, Dodo akan berangkat ke Australia pada Agustus mendatang. “2018 akan ikut Inked Asia Tour,” katanya. (irw/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top