• Berita Terkini

    Wednesday, July 26, 2017

    Mengunjungi Suku Polahi dengan Tradisi Inses di Pedalaman Gorontalo

    Juneka S Mufid/jawapos
    Tak Bisa Baca, Tapi Hafal Lebih dari 200 Nomor Kontak Ponsel

    Selain tradisi inses, sehari-hari suku Polahi mengakrabi sepeda motor, televisi, DVD, radio, dan genset. Memilih menambang emas di sungai karena tak rusak lingkungan.

    ---------------------------
    JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Gorontalo
    ---------------------------
    KERAMAIAN itu berada di sungai belakang perkampungan. Warga Polahi berkumpul di sana. Bukan untuk mencuci baju atau mandi. Tapi...sepeda motor.


    Ya, nun di pedalaman Hutan Humuholo, Gorontalo. Yang harus dicapai selama enam jam berjalan kaki melewati empat sungai besar berbatu, jalan licin terjal, dan rerimbunan semak belukar, ada Honda Revo hitam.


    Milik sang kepala suku, Babuta. Bagaimana bisa motor itu sampai kemari kalau untuk berjalan saja jalurnya demikian berat?

    ”Ada jalur lain memutar. Tapi, lebih jauh,” kata Babuta kepada Jawa Pos yang ditemani pemandu Haris Antu dan wartawan Gorontalo Post (Jawa Pos Group) Gusran Ismail pada Kamis siang (20/7).


    Sepeda motor bukan satu-satunya ”barang modern” yang telah hadir di tengah-tengah suku Polahi. Sehari-hari mereka sudah terbiasa dengan ponsel, televisi, DVD, radio, dan genset.


    Menurut Babuta, radio bahkan sudah ada sejak zaman Baba Manio, ayahnya yang juga kepala suku sebelumnya, masih hidup. Ponsel hadir berikutnya untuk berkomunikasi dengan penambang yang butuh jasa kijang. Kijang adalah sebutan untuk warga Polahi yang disewa penambang sebagai pembawa barang.


    Daya baterai ponsel diisi ulang dengan batu baterai. Caranya, empat baterai disusun paralel, lantas kabel charge yang telah dipotong itu ditempelkan di kutub positif dan negatif.


    Perjumpaan dengan para penambang emas memang seolah menjadi pintu gerbang suku Polahi dengan dunia luar. Hasan, salah seorang penambang yang kami temui dalam perjalanan menuju Kampung Polahi, mengatakan bahwa fisik orang Polahi kuat. Bisa berjalan cepat.


    ”Kuat naik tanjakan. Lajunya cepat. Khususnya yang perempuan,” tutur pria yang sudah lima tahun jadi penambang emas itu.


    Biasanya Hasan meminta orang Polahi membawa 20 kg beras dengan tarif Rp 100 ribu sampai tujuan. Sedangkan untuk bahan lainnya seperti rempah-rempah dan kecap, biaya angkutnya Rp 50 ribu. Perjalanan dari kampung ke tempat tambang itu ditempuh sehari penuh. ”Kalau orang Polahi setengah hari saja sudah sampai,” kata Hasan.

    Ero, putra Hasima, perempuan pemilik rumah pertama yang kami singgahi di pintu masuk Kampung Polahi, termasuk salah seorang kijang. ”Uangnya ditabung atau dibelikan jajan,” kata bocah belasan tahun itu.


    Alim S. Niode, sosiolog Universitas Negeri Gorontalo, mengatakan bahwa nenek moyang warga Polahi memang orang-orang melek pengetahuan. Mereka melarikan diri ke hutan di zaman penjajahan Belanda karena menolak tingginya pajak emas. Dari sana pula nama Polahi berasal: ”pelarian”.


    Menurut Babuta yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu, sepeda motor tersebut didapatkan dari diler motor kredit di kota. Ceritanya, ada seorang warga kampung di luar Kampung Polahi yang meminjam uang Rp 3 juta.


    Namun, hampir lima bulan uang itu tidak dikembalikan. Ternyata uang tersebut dipakai untuk panjer sepeda motor itu. Karena si peminjam tersebut juga tidak mampu meneruskan kredit, akhirnya Babuta melunasinya. Motor pun jatuh ke tangan Babuta. ”Saya bayar Rp 5.035.000,” kata dia.


    Sekarang motor itu dipakai saja untuk siapa pun yang mau belajar sepeda motor. Tidak pernah dibawa turun ke kampung sejak dibawa ke hutan tiga pekan lalu.

    ”Susah nyeberang sungai,” kata Babuta yang tidak tahu berapa usianya itu.


    Babuta menjadi kepala suku setelah Baba Manio meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu. Babuta sebenarnya pernah menikah dengan Ani yang tinggal di kampung.

    Tapi, pernikahan yang dihadiri bupati Boalemo dan Gorontalo itu kandas. Babuta pun kembali ke Polahi dan menikahi Anio.


    Anio adalah anak Baba Manio dari pernikahan dengan Hasima alias Wambi’i. Jadi, Anio adalah saudara tiri Babuta, seayah beda ibu. Sebelumnya Anio menikah dengan Halimo, saudara kandung Babuta, yang telah meninggal dunia. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai empat anak. Satu di antaranya perempuan.


    Pemilihan kepala suku, menurut Babuta, tidak punya ritual khusus. Hanya ada rembuk kecil untuk memutuskan siapa yang memimpin kelompok. Dia sendiri tidak mau mengungkapkan kenapa dipilih. Tapi, bisa jadi karena Babuta yang tambun itu lebih punya banyak pengalaman dan disegani. ”Tugasnya kalau ada yang beda pendapat menegur.

    Tapi, tidak pernah ada,” kata pria berpotongan rambut cepak yang biasa dipanggil Raja oleh warga Polahi itu.


    Babuta sama sekali tidak bisa membaca. Namun, dia mengerti angka. Dia bisa mengingat-ingat seluruh nomor kontak dan pemiliknya yang berjumlah lebih dari 200.
    ”Saya hafalkan empat nomor terakhir,” ujar Babuta.


    Hari pun beranjak malam. Tapi, jangan bayangkan hanya ada bunyi hewan di sini. Di rumah Babuta, genset yang ditaruh di gubuk kecil dinyalakan. Dua lampu menerangi di dalam dan luar rumah Babuta yang besar.


    Ada satu ruang keluarga dengan televisi bertengger di atas meja. Ruangan lain dipakai untuk kamar tidur Babuta dan istrinya. Ada pula kamar yang digunakan Mama Tanio yang merupakan ibu Babuta.


    Kamis malam (20/7) itu sepuluh warga Polahi berkumpul di rumah Babuta. Mereka menonton penyanyi membawakan lagu berbahasa Gorontalo dengan suara kencang dari sound system tambahan. Selanjutnya, film laga Penjaga Gunung Bromo yang berbahasa Indonesia diputar.


    Soal asal usul Polahi, Babuta menyerahkan penjelasan itu kepada Mama Tanio. Perempuan yang ditaksir berusia 50-an tahun tersebut hanya tahu cerita sampai pada kakek-neneknya yang dipanggil Abuna dan Abida.


    Mereka punya satu anak bernama Madi dan mengadopsi anak lain bernama Dula dan Amiyah. Setelah itu, mereka punya empat anak lain bernama Teno, Utaya, Muhide, dan Entolo’i.


    Praktik inses pun sudah terjadi sejak saat itu. Saat berusia dewasa, Amiyah dinikahi Abuna dan punya enam anak: Atiyah, Alima, Yeni, Naji, Maliya, dan Unani. Lantas, Atiyah menikahi saudara tirinya, Madi, dan mereka punya 12 anak.


    Karena suatu hal, Madi dan anak-anaknya berpisah ke daerah Mohiyolo yang masih dalam kawasan Gunung Boliyohuto. ”Pernah ketemu mereka, tapi sudah lama sekali. Masih pakai pedito (sejenis cawat dari daun Tumbito, Red),” kata Mama Tanio.


    Teno lantas menikahi saudaranya sendiri, Dula, dan punya sepuluh anak. Di antaranya, Hasima, Baba Manio, Mama Tanio, Bakiki Mani, dan Loonunga. Dia pun mengakui menikah dengan Baba Manio yang telah menikahi Hasima.


    Mama Tanio, seperti juga warga Polahi lain, tak mempermasalahkan poligami dan inses itu. Yang jadi masalah, saat Baba Manio kawin dengan Loonunga. Bakiki Mani tidak terima dan melarikan diri dari kelompok. ”Baba Manio itu ganteng,” kata Mama Tanio malu-malu. Dari pernikahan itu, lahirlah Babuta dan Lahiya.

    Malam terus beranjak larut. Keramaian di rumah Babuta berakhir. Satu per satu warga yang berkumpul pulang.


    Paginya, semua warga Polahi sudah sibuk masing-masing. Babuta dan Anio pergi ke Sungai Humuholo dengan jalan kaki sekitar setengah jam untuk menambang emas secara tradisional. Karpet dijajar di aliran air yang deras.


    Pasir hitam mengandung butiran emas biasanya akan menempel. Dalam sebulan dia bisa mendapatkan Rp 7 juta. ”Kami menambang di sungai saja karena ini ramah lingkungan. Kalau warga kampung itu menambang di hutan merusak lingkungan,” kata Babuta.


    Uang itulah yang membuat mereka tetap terkoneksi dengan dunia luar. Belakangan, dunia luar juga kian sering menyapa mereka. Entah itu warga luar Gorontalo atau luar negeri seperti dari Jerman dan Jepang.


    Warga Polahi menyambut semua tamu tersebut dengan ramah. Tak pernah ada pertentangan. Karena toh mereka, dengan segala pilihan hidup yang mereka yakini, tak pernah merasa diusik. (*/c10/ttg)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top