• Berita Terkini

    Monday, July 10, 2017

    Jalur Batang-Semarang Siap 80 Persen Tahun Depan

    JAKARTA – Musim mudik 2017 baru saja berakhir. Namun, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah bergegas memersiapkan infrastruktur untuk musim mudik 2018. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan infrastruktur mudik 2018 akan mulai dilakukan Agustus mendatang.


    Basuki menjelaskan, fokus untuk pekerjaan infrastruktur mudik 2018 adalah meningkatkan kualitas infrastruktur pendukung yang sudah ada. Terutama untuk jalan tol TransJawa. ”Tahun ini kan tolnya darurat. Tahun depan sudah tidak ada lagi tol darurat,” kata Basuki kepada wartawan saat ditemui di kompleks Gedung DPR RI kemarin (10/7).


    Menurut Basuki, dia memang belum bisa menjanjikan jalan tol tersebut nyambung dari Jakarta hingga ke Surabaya. Namun, dia bisa menjamin bahwa nantinya, Jakarta-Semarang sudah bisa tersambung dengan kondisi tol yang sudah jauh lebih baik.


    ”Yang sekarang tol darurat, musim mudik nanti badan tolnya sudah ada. Sudah seperti Bawen-Salatiga sekarang. Fisiknya 70-80 persen,” terang menteri 62 tahun itu.

    ”Untuk Solo-Surabaya pun, kondisinya akan jauh lebih baik. Akhir 2018 nanti sudah tembus (dari Jakarta) sampai Surabaya,” tambahnya.


    Ruas tol Bawen-Salatiga, kata Basuki, dalam waktu dekat akan segera resmi beroperasi. Saat musim mudik lalu, kondisi fisik ruas tol tersebut memang sudah mencapai 90 persen. rencananya, ruas tol tersebut akan resmi beroperasi Agustus mendatang. Sementara itu, ruas tol Salatiga-Solo, Basuki belum berani berbicara banyak.


    ”Baru mulai. Saya belum lihat progress-nya. Saat mudik kemarin kan baru 5 persen. Sekarang ini akan dikejar fisiknya. Tanahnya sudah 90-an persen,” ungkap dia
    .

    Kementerian PUPR tidak hanya fokus pada pembangunan jalan tol. Basuki mengatakan, pihaknya juga akan meningkatkan pelayanan jalan di jalur Lintas Selatan. Terutama di beberapa titik yang kemarin sering terjadi kemacetan. Seperti di underpass Nagreg. Menurutnya, kemacetan itu perlu dicarikan solusi yang tepat. Yakni dengan dibuat jalan alternatif baru.


    Basuki menjelaskan, jalan alternatif yang akan dibangun yakni dari Ciawi-Cikijing lalu masuk Jalan Lingkar Jatigede-Sumedang-Bandung sepanjang 30-40 kilometer. Desain jalannya sudah disiapkan. Lelang pun sudah dilakukan. Menurut Basuki, pekerjaan jalan akan dimulai Agustus mendatang. Targetnya, jalan alternatif tersebut sudah bisa dilewati para pemudik yang melintasi jalur selatan pada musim mudik 2018.


    ”Ini jangka pendeknya. Jadi jalan tambahan supaya bottle neck di Nagreg bisa kita atasi. Untuk tol ke Tasik itu nanti jangka panjangnya,” ucapnya.

    Selain mengatasi kemacetan di jalur Nagreg, Kementerian PUPR juga akan menyiapkan jalur alternatif lain seperti jalur Limbangan-Gentong yang berada di lintas tengah Jawa Barat. Untuk jalur alternatif lain di jalur Krukut, Purwokerto, Patakan, hingga Temanggung juga akan disiapkan.


    Sementara itu, pembangunan tol di Jawa Timur juga akan dituntaskan. Dia meyakini tol di Jatim akan memangkas waktu tempuh dan mengurai kemacetan secara signifikan. Sebab, pemudik akan memiliki jalur alternatif di luar jalan provinsi dan nasional.


    Sebagai gambaran, tuturnya, tahun ini jalur tol fungsional antara Kertosono hingga Ngawi sudah mampu memecah arus kendaraan yang tadinya hanya melewati pertigaan Mengkreng, Kediri. ’’Biasanya enam jam (macet), tahun ini tinggal setengah jam,’’ terang Basuki.


    Kondisi itu diharapkan bisa lebih baik lagi ketika seluruh rusas sudah tersambung menjadi tol. Rencananya, ruas tol dari Ngawi hingga Nganjuk bakal beroperasi paling cepat September mendatang. di saat bersamaan, Kementerian PUPR juga mengebut pengerjaan ruas tol Nganjuk-Kertosono sepanjang 37,39 km yang saat ini progresnya masih 9,7 persen.


    Sementara itu, Pengamat Transportasi Ellen Sophie Wulan Tangkudung menilai arus mudik dan balik tahun ini relatif lancar. Semua berkat koordinasi yang cukup baik sehingga tidak ada kejadian menonjol seperti tahun lalu. Dia berharap pada 2018 kesiapan serupa untuk arus mudik dan balik juga dijalankan.


    ”Minimal enam bulan sebelumnya harus sudah memulai koordinasi,” ujar dia kemarin (10/7). Salah satu yang harus diatasi adalah mengurangi kemacetan panjang yang masih saja menjadi pekerjaan rumah tiap tahun. ”Meskipun tahun ini bisa lebih baik begitu ada kemacetan langsung bisa diurai,” kata dia.


    Dosen di Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu mengungkapkan kesiapan infrastruktur jalan itu bukan hanya masalah penambahan kapasitas jalan. Seperti bertambah lebar atau bertambah panjang. Tapi, perlu diperhatikan juga kelayakan kondisi jalan.


    ”Jalan tidak berlubang, jembatan yang kuat, dan sarana prasarana pendukungnya dinilai layak,” ungkap dia.


    Disamping itu, dia mengingatkan bahwa pembangunan jalan tol trans Jawa itu bukan hanya diorientasikan untuk keperluan mudik dan balik saja. Tapi, harus untuk keperluan harian. Infrastruktur itu juga harus diintegrasikan dengan penggunaan angkutan umum masal. ”Jadi bukan hanya untuk kendaraan pribadi saja. Sistem transportasi dan infrastrukturnya harus memperhatikan kendaraan umum juga,” tambah Ellen.


    Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit menuturkan kinerja keselamatan dan kemacetan, tahun ini kondisinya lebih baik dibandingkan tahun 2016. Namun dari sisi program pemerintah, tidak ada yang baru. “Kecuali pengoperasian jalan tol yang belum selesai dibangun untuk meningkatkan kapasitas jaringan secara sementara,” ujar dia kemarin (10/7).


    Dia menuturkan dari regulasi penambahan satu hari cuti bersama dan himbauan tidak beroperasinya angkutan barang hingga 3 Juli sangat membantu. Sehingga akumulasi lalulintas terbagi dari dua hari di Jumat dan Sabtu menjadi Kamis, Jumat, dan Sabtu. ”Kebijakan ini sangat berarti dan sebenarnya telah direkomendasikan oleh MTI beberapa tahun ini,” kata dia.


    Selain itu, penurunan minat mudik warga Jabodetabek. Hal itu terlihat dari ramainya Jakarta saat hari H hingga H+2 Lebaran. Kondisi ini diduga karena terjadinya penurunan daya beli masyarakat. Kodisi tersebut terkonfirmasi dari laporan Apindo dan Aprindo tentang berkurangnya penjualan ritel sebelum Lebaran. ”Koordinasi sebenarnya sudah berjalan. Yang belum nampak adalah inovasi program yang lebih progresif,” ungkap Danang. (and/byu/jun)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top