• Berita Terkini

    Selasa, 18 Juli 2017

    Hari Pertama Masuk, SMK di Sragen Langsung Cukur Gundul Siswa

    ARIEF BUDIMAN/DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO
    SOLO – Hari pertama masuk sekolah bakal tak terlupakan. Khususnya bagi murid baru. Beragam tingkah lucu anak-anak usia sekolah dasar menjadikan Senin pagi (17/7) lebih berwarna.

    Jumlah murid kelas satu SDN Beskalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo tidak terlalu banyak. Sekitar belasan anak. Namun, mereka tak kalah ceria. Saking semangatnya, orang tua hingga nenek yang mengantarkan ke sekolah diajak masuk ke dalam kelas.

    Mereka pun ikut senang bisa melihat ruangan tempat putra putrinya belajar. Pihak sekolah juga tak melarang hal tersebut. Sebab, di hari pertama masuk sekolah, tidak sedikit anak yang masih malu-malu bertemu teman baru.

    Sedangkan di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah, hari pertama sekolah digunakan untuk halal bi halal seluruh murid dengan para guru. Humas SDIT Nur Hidayah Rahmat Hariyadi mengungkapkan, kegiatan tersebut melatih kebiasaan baik para murid.

    “Kebiasaan baik berupa sikap santun dan takdzim kepada orang yang lebih tua. Tentu ini sejalan dengan aplikasi Kurikulum 2013 (K-13). Salah satu poin pentingnya adalah penguatan pendidikan karakter (PPK). Kebetulan tahun ini sekolah menerapkan K-13 untuk siswa kelas satu, dua, empat, dan lima,” jelas Rahmat.

    Kegiatan sungkeman dimulai setelah bel tanda masuk dibunyikan. Para murid berbaris rapi di depan kelasnya masing-masing. Dipandu wali kelas, mereka meneriakkan yel-yel dan menyanyikan lagu nasional. Lalu mereka masuk kelas untuk doa bersama, hafalan surat pendek, dan perkenalan dengan wali kelas dan wakil wali kelas baru.
    "Tadi saat sungkem menyampaikan permohonan maaf kepada ibu guru. Sudah lama tidak bertemu,” ujar salah seorang siswi kelas empat Jianka Arkhadiva.
    Sementara itu, SD Muhammadiyah PK Kottabarat mengadakal program Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) selama sepekan ke depan. Program ini difokuskan pada pengenalan murid kelas satu kepada guru, karyawan, dan lingkungan sekolah.

    Salah seorang guru kelas satu Wahyu Widodo menjelaskan, program PLS hari pertama dan kedua digunakan mengenalkan murid kelas satu untuk mengenal guru. Hari ketiga dan keempat pengenalan lingkungan sekolah. Hari kelima dan keenam untuk pengenalan kultur atau budaya sekolah.

    “Secara formal program PLS ini kami rancang selama seminggu, tetapi pada dasarnya proses transisi dari lingkungan TK ke SD biasanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan untuk menanamkan kultur dan mengenalkan aturan-aturan formal sekolah” ungkapnya.

    PLS juga digelar di SDN 1 Klaten. Para orang tua antusias menunggu anaknya mengikuti seluruh kegiatan. “Anak saya tidak begitu rewel karena sehari sebelumnya sudah saya beritahu kalau hari ini sudah masuk sekolah. Bangunnya tadi memang pagi-pagi sekali. Anaknya begitu semangat bertemu teman-teman barunya di sekolah,” jelas Suryadi, 45, warga Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan.

    Dia hanya menemani sang anak Melodi Putri, 7, selama dua hari. “Dari pihak sekolah hanya membolehkan menunggu anak selama dua hari. Ini cukup bagus karena bisa melatih mental anak,” jelasnya.

    Kepala SDN 1 Klaten Eni Iswati menuturkan, pihaknya menggelar apel untuk mengenalkan seluruh guru. “Lantas kami ajak murid mengenal kelas masing-masing yang akan mereka tempati,” ucap dia.

    Sementara itu, di SMK 2 Sragen, seluruh murid baru diminta cukur gundul. Tentunya hanya untuk murid pria. Wah perpeloncoan? Pihak sekolah mengklaim hal tersebut untuk mengajarkan iklim kerja dan menumbuhkan kesadaran disiplin serta tertib.

    Ada beberapa tukang potong rambut yang disediakan sekolah. Mereka profesional di bidangnya dan telah menandatangani kontrak dengan pihak sekolah.  Wakil Kepala SMK 2 Sragen Setyanjadi menjelaskan, cukur gundul sudah menjadi tradisi sekolah sejak tujuh tahun lalu.

    Dengan berpenampilan rapi, lanjut Setyanjadi, para murid bisa lebih nyaman. Sebab, ketika mereka berambut gondrong, bisa membahayakan jika bekerja di bagian teknik. ”Selain itu, kegiatan ini dimaksudkan agar siswa mau dan rela berkorban. Mereka merelakan sesuatu (rambut, Red) yang dianggap berharga untuk tujuan yang lebih baik, yakni pendidikan,” jelasnya.

    Sedangkan para siswi SMK 2 Sragen diwajibkan mengenakan jilbab bagi yang muslim. Dan nonmuslim harus memotong rambut rapi sebahu.
     Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Suwardi menegaskan, belum ada laporan perpeloncoan pada hari pertama masuk sekolah kemarin. “Pengawas semua keliling memantau masing-masing daerah,” kata dia.

    Terpisah, PLS di SMAN 1 Boyolali diisi dengan materi menangkal radikalisme dan antisipasi berita hoax. “Ada enam materi yang disampaikan. Pancasila dan kebangsaan, budi pekerti dan budaya sekolah, bahaya narkoba, antisipasi berita hoax, serta menangkal radikalisme,” jelas Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan Kurniawan Yusuf.

    Salah seorang guru SMA setempat Rohmad Handoko menambahkan, materi-materi tersebut penting diketahui seluruh murid karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

    Di sisi lain, berdasar pantauan Jawa Pos Radar Solo, para orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah pagi kemarin banyak mengabaikan faktor keselamatan. Seperti tidak melengkapi sang anak dengan helm. Alasannya beragam. “Rumah saya di Mojosongo, anak sekolah di Ngemplak. Jadi saya rasa tidak perlu pakai helm karena masih kecil. Di rumah juga tidak ada helm ukuran anak-anak,” jelas Sri Haryati, 30.

    Serupa dituturkan Bahrudin, 45, warga kampung Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari yang mengantarkan putrinya masuk SMA. “Repot kalau bawa helm dua. Karena ini saya sambil berangkat kerja. Saya mengantar lewat jalan kampung,” katanya.

    Permasalah lainnya, tidak sedikit anak di bawah umur nekat mengendarai sepeda motor ke sekolah. Seperti terlihat di ruas Jalan Kapten Piere Tendean. Ketika dibuntuti, ternyata murid tersebut tidak memarkirkan sepeda motornya di sekolah. Tapi di salah satu rumah warga kompleks Stadion Manahan yang membuka jasa penitipan sepeda motor. “Tidak berani parkir di sekolah soalnya dilarang,” ujar siswa tersebut.

    Kondisi tersebut sangat disayangkan Kasatlantas Polresta Surakarta Kompol Imam Safi’i. “Seharusnya para orang lebih memperhatikan keselamatan anak. Jangan hanya memikirkan praktisnya saja,” tegas dia. (aya/ren/din/wid/atn/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top