• Berita Terkini

    Thursday, June 1, 2017

    Sentra Takjilan Pasar Sruni Masih Sepi Pengunjung

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Pasar Sruni di Desa Bojongsari, Kecamatan Alian, yang setiap Ramadan selalu menjadi pusat takjil pada pekan pertama Ramadan masih sepi pengunjung. Hal ini lantaran masih belum banyak warga perantauan yang kembali ke Kebumen.

    Salah satu pedagang takjil, Sri Wahyuni, mengaku sepekan terakhir lapak miliknya masih belum ramai pembeli. Menurutnya, seperti tahun-tahun sebelumnya pusat takjil di Pasar Sruni akan mulai ramai pada pekan ketiga.

    "Biasanya minggu ketiga baru ramai. Karena perantauan sudah mulai pulang," kata Sri Wahyuni, yang berjualan kolak dan aneka gorengan, Kamis (1/6/2017).

    Meski masih sepi, Sri Wahyuni, bersyukur setiap hari dagangannya selalu habis terjual. "Alhamdulillah laku terjual, walaupun jualan masih belum banyak," ujar warga Desa Tanahsari, Kecamatan Kebumen ini.

    Sementara itu, selama bulan Ramadan setiap menjelang waktu buka puasa Pasar Sruni menjadi pusat takjil. Tak ada yang mengetahui persis kapan tradisi ini dimulai, tetapi setiap menjelang berbuka puasa halaman pasar ini selalu ramai diserbu pembeli. Bahkan tempat ini disebut-sebut sebagai pusat takjil terbesar di Kabupaten Kebumen.

    Ya, selama bulan Ramadan, setiap menjelang waktu buka puasa Pasar Sruni selalu dipadati ratusan warga. Mereka mendatangi pasar tersebut untuk berbelanja keperluan berbuka puasa. Pasar yang sempat kisruh terkait dengan penempatan pedagang pasar itu menjadi alternatif pilihan masyarakat dalam menyiapkan menu berbuka puasa.

    Adapun makanan yang dijual antara lain menu takjil seperti kolak, es kelapa muda, es cendol, dadar gulung, aneka gorengan hingga lumpia. Selain itu, para pedagang juga aneka lauk pauk dan sayuran dengan harga yang relatif murah. Adapun para pedagang berasal dari sejumlah desa di sekitar pasar, seperti Desa Bandung, Bojongsari, Tanahsari dan Roworejo.

    Pedagang lainnya, Wartiyah, warga Desa Bojongsari mengaku sudah puluhan tahun menjadi pedagang musiman. Perempuan sehari-hari yang ikut menjadi perajin tas itu berjualan kolak dan rujak. Dia mengaku, satu bungkus kolak dijual dengan harga Rp 3.000, aneka gorengan Rp 1.000 per biji, hingga pisang kepok per 2 bijinya Rp 2.500.

    Mengunjungi Pasar Sruni memang cukup menarik untuk berburu aneka makanan berbuka puasa. Selain beraneka ragam makanan yang ditawarkan, sejumlah barang yang dijual oleh para pedagang harganya miring. Namun begitu, tidak semua orang yang mendatangi Pasar Sruni pada sore hari ingin membeli makanan. Banyak pula yang sekadar ngabuburit menunggu waktu buka puasa. Terutama bagi para remaja banyak yang pasar tiban itu dimanfaatkan untuk cuci mata.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top