• Berita Terkini

    Monday, June 5, 2017

    Indonesia Kurang 17 Ribu Profesor, Dorong Dosen S3 jadi Guru Besar

    ILUSTRASI
    JAKARTA – Kebutuhan dosen bergelar guru besar (profesor) di Indonesia mencapai 22 ribu orang. Tetapi jumlah profesor yang tersedia saat ini baru 5.389 orang. Dengan demikian Indonesia mengalami defisit atau kekurangan profesor mencapai 17 ribu orang.


    Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menjelaskan, beragam cara dilakukan pemerintah untuk mendongkrak jumlah profesor. Diantaranya mengubah total skema dari manual menjadi online. ’’Sehingga pengajuan guru besar yang semula dua sampai enam tahun kini tinggal dua bulan saja,’’ katanya di Jakarta kemarin (5/6).


    Mantan wakil menteri kesehatan itu menjelaskan pada 2015 lalu jumlah guru besar di Indonesia mencapai 4.600-an orang. Kemudian setelah dilakukan perubahan birokrasi pengusulan guru besar, dalam dua tahun terakhir bertambah menjadi 5.389 orang. Dia berharap ke depan ada percepatan penambahan jumlah profesor di Indonesia.


    Ghufron menjelaskan jumlah program studi (prodi) saat ini sekitar 22 ribu orang. Idealnya jumlah profesor sebanding dengan jumlah prodi. Menurutnya menjadi guru besar memang tidak mudah. Meskipun dari aspek birokrasi sudah dimudahkan, bukan lantas bisa menambah jumlah personel profesor.


    Menurut dia untuk menjadi profesor membutuhkan dorongan dari diri sendiri. Diantaranya adalah dorongan untuk melakukan penelitian dan publikasi ilmiah internasional. ’’Kemenristekdikti sudah mengeluarkan regulasi untuk mendorong para dosen lektor kepala untuk meneliti. Supaya bisa menjadi bekal untuk pengusulan jadi guru besar,’’ pungkasnya.


    Wakil Ketua Asosiasi Profesor Indonesia (API) Fasli Djalal menjelaskan secara makro jumlah profesor idealnya 10 persen dari jumlah dosen. Jadi dengan jumlah dosen sekitar 260 ribu orang, maka jumlah guru besar yang ideal 26 ribu. Menurutnya ada beberapa cara untuk mendongkrak jumlah guru besar di Indonesia.


    Diantaranya adalah mendorong dosen-dosen yang sudah bergelar doktor untuk menjadi guru besar. Dia mengatakan jumlah dosen bergelar doktor saat ini sudah mencapai 25 ribua orang. ’’Separuh saja bisa menjadi guru besar, itu lumayan menambah angka nasional,’’ katanya.


    Untuk bisa mendorong para dosen bergelar doktor itu menjadi profesor, tidak cukup dengan himbauan atau surat perintah. Tetapi juga butuh dukungan anggaran riset dari pemerintah. Sebab untuk menjadi profesor dibutuhkan penelitian yang kompetitif. Dia berharap semakin banyak penelitian di sektor ekonomi. Sehingga bisa ikut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia. (wan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top