• Berita Terkini

    Sunday, June 4, 2017

    Bertahan Lima Tahun, Majelis Pengajian bagi PSK di Solo ini Meredup

    Add caption
    Beragam upaya dilakukan untuk menekan penyakit masyarakat (pekat). Mulai dari sanksi tegas, hingga pendekatan persuasif. Seperti mendirikan majelis taklim dengan jamaah khusus pekerja seks komersial (PSK).

    SALAH satu hotel berdiri cukup kukuh di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari. Bangunan berlantai dua tersebut menjadi saksi bisu kegiatan majelis taklim. Namun kini, semua itu tinggal cerita. Sudah tidak ada lagi kegiatan pengajian yang diikuti para PSK.
    “Sudah sekitar delapan bulan ini tidak ada lagi (kegiatan pengajian PSK, Red). Soalnya, makin hari, yang ikut pengajian semakin sedikit,” ungkap Daryanto, pengelola hotel.

    Diakuinya, ketika awal didirikan sekitar 2012, banyak PSK ikut pengajian rutin setiap pekan. Jumlahnya bisa mencapai 70 orang. Tapi, seiring berjalannya waktu, jamaah mereteli. Tersisa 30 orang, berkurang lagi 20 orang.

    “Terakhir sebelum bubar tinggal lima orang yang ikut pengajian. Biasanya diadakan sebulan sekali setiap Sabtu minggu pertama,” jelas Daryanto.
    Apa penyebab rontoknya jamaah majelis taklim? Daryanto tidak mengetahui dengan pasti. Tapi, dari keterangan beberapa PSK yang ikut majelis taklim, mereka berdalih kelelahan.

    “Biasanya bangun kesiangan, karena malamnya harus melayani tamu hingga pagi. Banyak yang mengeluh capek, dan sebagainya. Padahal dulu saya sering jemput mereka satu per satu dari rumah kos-nya. Ya sudah saya tidak bisa memaksa,” urainya.

    Diakui Daryanto, dengan adanya majelis taklim tersebut, bisa mengubah kehidupan para PSK menjadi lebih baik. “Mau bilang apa lagi, memang mereka belum bisa disadarkan. Ini persoalan niat hati seseorang,” ungkap dia.

    Sementara itu, dengan bantuan Daryanto, Jawa Pos Radar Solo menemui salah seorang PSK yang dulunya aktif di majelis taklim. Sebut saja namanya Zaskia. Dia menyayangkan majelis taklim tersebut akhirnya bubar.

    “Saya baru awal 2015 ikut pengajian. Waktu minggu terakhir saya datang (ke majelis taklim,Red), ternyata Pak Coro (sapaan akrab Daryanto,Red) bilang kalau pengajiannya sudah bubar. Sayang sekali, padahal Cuma dengan cara itu saya bisa dekat dengan agama,” paparnya.

    Zaskia pernah ikut majelis taklim di luar Kelurahan Kestalan. Namun, dia merasa canggung. “(Jamaah) majelisnya tidak seperti saya,” jelasnya.

    Meskipun majelis taklimnya vakum, namun Zaskia masih merasakan manfaatnya hingga sekarang. Dia tetap berusaha mengaji di kos-nya. “Ya tidak tentu (mengaji,Red). Kadang pagi, kadang sore. Seminggu lima kali pasti saya rutin. Saya tahu, saya ini penuh dosa,” terang dia.

    Rasa kangen menghadiri majelis taklim sering menghinggapi Zaskia. Dia akan mencari lokasi pengajian jauh dari Kelurahan Kestalan. “Keliling dulu tanya jadwal pengajian di masjid-masjid lain. Kalau (lokasi majelis taklim, Red) jauh, kan tidak ada yang kenal saya. Jadi saya dinggap orang biasa,” beber Zaskia.

    Kenapa tidak segera meninggal profesi sebagai PSK? Zaskia mengaku sebenarnya sudah risih menjai kupu-kupu malam. Dia melakoni pekerjaan itu karena menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal pada 2014. Zaskia harus memenuhi kebutuhan sekolah adiknya.

    Menjadi PSK, lanjutnya, karena dijebak temannya di Cirebon, Jabar. “Setelah lulus SMA diajak teman saya ke Solo. Katanya mau dijadikan pelayan kafe. Karena butuh uang buat bantu ibu, ya sudah saya terima saja. Ternyata sampai di Solo suruh bekerja seperti ini. Mau pulang kampung tidak bawa uang,” katanya.
    Dua tahun di Kota Bengawan, Zaskia baru sekali pulang kampung saat Lebaran tahun lalu. “Saya ngaku-nya kerja di rumah makan. Malu kalau mau bilang sebenarnya. Takut ibu shock, terus jadi aib keluarga,” ucap dia.

    Berbeda diungkapkan rekan seprofesi Zaskia. Sisil (nama samaran), masih enggan segera tobat. “Sudah terlanjur dosa. Nanti saja tobatnya kalau sudah ketemu pekerjaan yang layak atau tidak laku lagi,” ungkapnya.

    Dia menjadi PSK untuk membiayai hidup anak semata wayangnya pasca-bercerai dengan suaminya. “Suami saya tidak tanggung jawab. Dia selingkuh terus menceraikan saya dan kawin sama selingkuhanya. Waktu itu bingung mau kerja apa, soalnya cuma lulusan SD. Terpaksa seperti ini,” kata dia. (atn/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top