• Berita Terkini

    Sunday, May 14, 2017

    Warga Temanggung Sulap Hutan Bambu Jadi Pasar

    setyo wuwuh/temanggung ekspres
    Hutan bambu bagi masyarakat di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu awalnya hanya dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah, kini ditangan Komunitas Mata Air Desa setempat, hutan bambu tersebut disulap menjadi sebuah pasar berkonsep tradisional.
    ------------------
    SETYO WUWUH Kedu
    -------------------
    Kondisi hutan bambu yang kian bertambah hari semakin memperihatinkan, membuat komunitas mata air di di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu tergerak memanfaatkan hutan bambu sebagai pasar berkonsep tradisional.

    “Dulu hutan bambu yang ada didesa kami ini hanya sebagai tempat untuk membuang sampah, kondisinya kotor dan sangat tidak nyaman,” kata Ketua Komunitas Mata Air, Imam Abdul Rofik (29).

    Diakuinya, konsep membuat sebuah pasar di bawah rimbunnya vegetasi tanaman bambu ini sebenarnya terispirasi oleh pasar papringan yang sebelumnya pernah digelar di Dusun Kelingan Desa Caruban Kecamatan Kandangan beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, ide membuat pasar papringan ini tidak hanya sebagai upaya konservasi alam, terutama vegetasi tanaman bambu, namun pasar papringan juga ditujukan untuk mengangkat segala kearifan lokal masyarakat sekaligus merangsang pertumbuhan ekonimi warga setempat.

    “Di hutan bambu seluas kurang lebih 2.500 meter persegi, pasar ini hanya akan dibuka setiap Minggu Wage dan Pon saja, mulai pukul 6.00 sampai 12.00 WIB,” terangnya.
    Tidak seperti pasar pada umumnya, di pasar ini lanjut Imam, pedagang yang mayoritas adalah warga dusun setempat akan menyajikan berbagai kuliner tradisional, hasil pertanian, hingga kerajinan produksi lokal masyarakat.

    “Ada 42 lapak dagangan, setiap pedagang akan menyajikan barang dagangan mereka yang berbeda,” ujarnya.

    Uniknya, pengunjung dan pedagang di tempat ini diwajibkan bertransaksi menggunakan kepingan uang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bambu. Setiap keping bernilai Rp2.000 yang dapat ditukarkan di berbagai titik di dalam komplek pasar papringan.

    “Ada yang menjual nasi jagung, mangut, jamu, dawet anget khas Ngadiprono, jajanan pasar, serta yang paling khas adalah makanan bernama Nglemeng. Yaitu campuran ubi dan gula merah yang dimasukkan ke dalam batang bambu dan dimasak dengan cara dibakar. Harganya macam-macam, ada yang 1 keping dan seterusnya. Semua ini untuk mempekenalkan kekayaan produk lokal masyarakat dusun,” imbuhnya.

    Di hari pertama pembukaan, pasar ini mampu menyedot pengunjung sekitar 1.000 pengunjung. Mereka berasal dari Temanggung dan sekitarnya, luar daerah seperti Bali dan Surabaya, hingga wisatawan mancanegara. Di antaranya Thailand, Amerika Serikat, dan Jepang.

    Salah seorang warga setempat yang turut berdagang nasi jagung, Noimah (47) mengaku dibukanya pasar ini cukup berpengaruh dengan pendapatan serta perekonomian warga. Ia menjual 1 porsi nasi jagung dengan harga 2 keping dan 3 sampai 4 keping apabila ditambah lauk seperti telur atau tahu.

    “Lumayan belum sampai habis saja saya sudah dapat 110 keping koin bambu. Lumayan untuk tambahan keluarga,” kata wanita yang sehari-hari hanya menjadi peternak kambing ini.

    Sementara itu, pengunjung asal Bangkok Thailand, Teerapoj Teerapos (27) mengaku sangat takjub dengan konsep pasar papringan di Dusun Ngadiprono ini. Pasalnya, ia belum pernah melihat pemandangan serupa di negaranya, khususnya Bangkok yang merupakan salah satu kota besar dengan berbagai kemajuan serta moderenisasi di dalamnya.

    “Its my first time visit Indonesia. Pasar papringan very nice and inspiratif, may be for my country, Thailand. In Bangkok all bamboo trees vegetation had been cut and used to rice plant. So no one village scenary like this,” ungkapnya.

    Bupati Temanggung, Bambang Sukarno yang hadir dalam pembukaan berharap inspirasi-inspirasi seperti ini dapat terus dikembangan oleh masyarakat agar mampu menggerakan perekonomian berbasis kerakyatan.
    “Luar biasa, patut menjadi contoh yang lain. Masyarakat harus lebih kreatif, ” pesannya.(*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top