• Berita Terkini

    Tuesday, May 2, 2017

    SBY Ziarah Makam Sarwo Edhie Wibowo

    PURWOREJO- Presiden ke enam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ani Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono beserta keluarga besar ziarah ke makam Sarwo Edhie Wibowo, Senin (1/5). Moment ziarah tersebut dijadikan SBY dan keluarga besar sebagai wahana untuk melakukan kontemplasi dan refleksi untuk mengenang sosok Sarwo Edhie Wibowo.
    ”Setiap ziarah ke makam bapak Sarwo Edhie Wibowo, kami selalu melakukan kontemplasi dan refleksi untuk mengenang sosok yang amat kami cintai,” kata SBY sesaat setelah melakukan tabur bunga.

    Pada kesempatan itu, SBY menceritakan tentang nilai-nilai yang menjadi tinggalan atau warisan heritage dari bapak Sarwo Edhie Wibowo, saat menjadi Gubernur Akademi ABRI (AKABRI) dulu. Sebelum menjadi bagian dari keluarga besar, dulu dirinya diasuh oleh almarhum saat menjadi Gubernur AKABRI.

    ”Saya dan rekan-rekan ketika mengikuti pendidikan di AKABRI mengenal betul almarhum tentang visi, nilai-nilai dan wisdom dari Bapak Sarwo Edhie Wibowo selaku Gubernur waktu itu,” kata SBY.

    Diceritakannya, ia masuk akademi militer tahun 1970 bulan Januari dan selesai bulan Desember tahun 1973. Angkatannya selama empat tahun penuh, sejak memasuki akademi militer sampai menjadi Perwira diasuh oleh bapak Sarwo Edhie Wibowo.

    Di era kepemimpinan bapak Sarwo Edhie Wibowo dulu, Akademi ABRI bagian darat atau yang sekarang bernama Akademi Militer (AKMIL) melakukan reformasi dan juga transformasi awal.

    Sebelumnya Akademi Militer penuh dengan materi-materi kemiliteran, yang memang harus dan wajib, baik teori maupun praktek. Tetapi Almarhum berfikir mendahului zamannya. Ia menyadari betul bahwa militerpun harus memilik pengetahuan dibidang non militer. Namun tetap materi wajibnya berkaitan dengan bidang militer.
    ”Waktu itu banyak kontrofersi, banyak yang tidak setuju dan menentang Akademi Militer belajar ilmu non militer. Tetapi almarhum mempertahankan argumentasinya,” terang SBY.
    Namun pada kenyataannya, sekarang ini perwira-perwira ABRI yang sekarang Perwira TNI dan Polri harus menguasai pengetahuan non militer. Bahkan tranformasinya berlanjut, kini banyak sekali pendidikan tambahan.

    "Artinya, buah pikiran almarhum yang dulu dianggap aneh, keluar dari tujuan pendidikan akademi militer ternyata benar adanya. Boleh dikatakan bapak Sarwo Edhie Wibowo berfikir mendahului zamannya, memiliki visi kedepan bahwa itu akan diperlukan," ucapnya.

    Kemudian, SBY juga flasback selaku pelaku reformasi yang bersejarah tahun 1998. Ia bersyukur dengan pertolongan tuhan dan kebersamaan dengan perwira yang lain, dirinya bisa mengemban tugas karena mempunyai modal. Yakni, modal pengetahuan yang tentunya lebih dari yang dimiliki beberapa perwira militer yang menggunakan cara pandang dan kurikulum yang lama.

    ”Saya selaku pelaku reformasi yang bersejarah tahun 1998, tidak mungkin saya bisa mengemban tugas yang tidak mudah dulu memimpin sebuah tim reformasi. Membuat blue print, menetapkan agenda dan memulai reformasi ABRI menjadi TNI/Polri. Sepuluh tahun kemudain Indonesia menjadi anggota G20 hingga sekarang,” tuturnya.

    Menurutnya, hal itulah yang menjadi tinggalan atau warisan heritage dari bapak Sarwo Edhie Wibowo sebagai Gubernur Akademi ABRI waktu itu.
    ”Menurut saya ini benar, relevan dan sekarang pun masih valid. Tentu sekali lagi tidak meninggalkan pengetahuan dasarnya yaitu pengetahuan militer,” ujarnya.

    Lebih jauh dikatakan SBY, nilai kedua yang didapat dari Bapak Sarwo Edhie Wibowo adalah ketika situasi panas tahun 1973-1974 kemudian memuncak peristiwa Malari di era Presiden Soeharto. Banyak gerakan tokoh-tokoh yang tidak puas terhadap Presiden Soeharo. Sebagian adalah Purnawirawan ABRI.

    ”Bapak Sarwo Edhie Wibowo yang masih menjadi Gubernur Akademi ABRI diajak, tetapi tidak setuju dengan gerakan tersebut,” terang SBY.

    Keluarga besar ingat betul apa yang dikatakan Bapak Sarwo Edhie Wibowo waktu itu, kenapa kita harus melakukan tindakan yang bisa mengganggu negara. Namun secara moral beliau juga ikut menyuarakan agar negara dikelola dengan cara yang benar.

    ”Demokrasi harus benar-benar hidup, tidak boleh ada kekuatan yang sangat absolute sehingga memadulkan kebebasan, hak dan ruang bagi rakyat untuk ikut serta dalam kehidupan bernegara,” kata SBY menjelaskan maksud perkataan Bapak Sarwo Edhie Wibowo kala itu. (ndi)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top