• Berita Terkini

    Monday, May 1, 2017

    Mendengar Suara Guru dari Wilayah Perbatasan

    Syawaliah Hadapi Air Pasang, Samadi Keluar Masuk Hutan



    Predikat pahlawan tanpa tanda jasa saja tak cukup untuk para guru. Apalagi untuk mereka yang berjuang dengan fasilitas minim di pedalaman. Syawaliah dan Samadi adalah representasi ribuan guru di pedalaman yang butuh perhatian lebih dari pemerintah.




    -----------------
    SAHRUL YUNIZAR, Bengkalis



    -------------------------
    LUAS Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, 628,5 kilometer persegi. Nyaris sama dengan luas daratan Jakarta yang mencapai 661,52 kilometer persegi. Namun, jumlah sekolah di dua wilayah tersebut jauh berbeda.

    Di Jakarta, jumlah sekolah mencapai ribuan. Namun, di Kecamatan Rupat Utara hanya ada 22 sekolah mulai tingkat SD, SMP, sampai SMA. Persebaran guru yang mengajar di wilayah itu pun minim. Data PGRI Kabupaten Bengkalis mencatat, hanya 96 guru yang bertugas di kecamatan tersebut. Syawaliah yang saat ini menjabat kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Rupat Utara salah satunya.

    Kali pertama mengajar, Syawaliah terdata sebagai tenaga honorer di SDN 2 Tanjung Medang. "Mulai 1989," kata dia ketika membagikan kisah hidupnya kepada Jawa Pos di Bengkalis bulan lalu (18/4). Status honorer perempuan kelahiran 10 Desember 1968 itu memang tidak bertahan lama. Hanya dua tahun bertugas, dia sudah diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).


    Cepatnya perubahan status itu berbeda dengan masa penempatan kerjanya di SDN 2 Tanjung Medang. Tidak kurang dari 24 tahun dia mengabdi di sekolah tersebut. "Akhir 2013 baru dipindah," kenang Syawaliah. SDN 2 Tanjung Medang memang berlokasi di ibu kota Kecamatan Rupat Utara. Namun, jangan bayangkan serupa dengan tanah Jawa.


    Sampai saat ini, sebagian jalan di Kecamatan Rupat Utara belum diaspal. Masih mengandalkan hamparan batu di atas tanah. Meski mengkhawatirkan, bagi Syawaliah, kondisi jalan itu lebih baik. Jauh lebih bagus ketimbang ketika kali pertama dia mengajar. "Dulu jalan masih tanah, susah lewat," kata dia.


    Belum lagi bila hujan mengguyur, tanah berubah menjadi kubangan lumpur. Kalau sudah begitu, Syawaliah semakin sulit untuk berangkat mengajar. Untung, ibu tiga anak itu lahir dan besar di Kecamatan Rupat Utara sehingga sudah terbiasa berhadapan dengan kendala alam. Bukan minta pindah tugas, semangatnya untuk mendidik generasi penerus dari kecamatan itu kian membubung.


    Kesempatan pindah tugas ke ibu kota Kabupaten Bengkalis tidak dia indahkan. Bagi dia, lebih baik mengajar di Kecamatan Rupat Utara dengan peluh di sekujur tubuh ketimbang pindah tempat mengajar. Di samping asli dari Kecamatan Rupat Utara, dia kurang yakin bahwa ada guru lain yang bersedia ditugaskan di kecamatan tersebut.


    Berkat tekad itu, Syawaliah berhasil mencetak anak-anak berpendidikan dari wilayah yang bersebelahan langsung dengan Selat Malaka tersebut. Meski tidak semua meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi, setidaknya mereka bisa mengeyam pendidikan sampai tingkat SMA. Tidak berhenti di tingkat SD atau SMP.

    Berkat tekad itu pula, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengganjar Syawaliah sebagai salah satu guru berdedikasi yang puluhan tahun mengabdikan diri di wilayah perbatasan. Tempat yang jauh dari keramaian kota serta bersebelahan langsung dengan negara tetangga, Malaysia.

    Lebih dari itu, Kecamatan Rupat Utara tempat Syawaliah bertugas termasuk daerah khusus di Kabupaten Bengkalis. Sebab, untuk mencapai kecamatan tersebut dari ibu kota kabupaten, harus dua kali menyeberang laut dan melalui perjalanan darat yang melelahkan. "Kalau berangkat jam tujuh pagi, sampai Bengkalis jam tiga sore," ungkapnya.

    Artinya, sedikitnya dibutuhkan delapan jam untuk sampai di ibu kota kabupaten dari tempat Syawaliah bertugas. Ketika masih bertugas di sekolah, dia memang tidak sering bepergian ke wilayah itu. Namun, sejak tahun lalu tidak demikian.


    Sebab, Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis memberi dia kepercayaan sebagai kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Rupat Utara. Alhasil, dia harus bolak-balik ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis di ibu kota kabupaten. Dia juga harus siap inspeksi ke seluruh SD dan SMP di Rupat Utara. Meski jumlah SD dan SMP hanya 18 unit, jangan berharap bisa menginspeksi seluruh sekolah itu dalam sehari. "Tidak akan selesai," imbuhnya.


    Sebab, tidak semua sekolah dapat dijangkau dengan jalur darat. Beberapa sekolah harus disambangi setelah Syawaliah melintasi dua sungai yang bermuara di Selat Malaka. SD di Desa Kadur misalnya. "Harus naik pompong, lewati dua sungai," jelasnya.


    Bayangkan bila hendak meminta bantuan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis. Dia mesti menyeberangi dua sungai untuk minta restu ke UPTD Rupat Utara. Kemudian menyeberangi dua laut agar bisa sampai di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis. Syawaliah mengatakan, memang setiap guru butuh energi dan tenaga ekstra ketika memutuskan untuk bertugas di wilayahnya.


    Jika tidak, sulit bertahan sebagai abdi negara di daerah tersebut. Sebab, bukan hanya kendala akses yang menjadi tantangan. Letak geografis Kecamatan Rupat Utara yang berada tepat di selat yang memisahkan Indonesia dengan Malaysia memaksa para pengajar itu untuk siap berhadapan dengan pasang surut air laut. Termasuk pasang besar yang terjadi saban bulan. "Kalau pasang, beberapa sekolah banjir," ungkap Syawaliah.


    Kondisi seperti itu masih terjadi sampai saat ini. Apalagi jika pasang besar terjadi ketika hujan deras mengguyur, para guru pasti dibuat repot bukan kepalang. Sebab, sebelum berhadapan dengan banjir di kelas, mereka harus bersusah payah untuk bisa sampai di sekolah.


    Syawaliah pun mengalaminya. Setelah bertugas di SDN 2 Tanjung Medang, dia sempat ditugaskan sebagai guru di SDN 11 Kadur. Sekolah itu hanya bisa dijangkau dengan melewati dua sungai apabila bertolak dari ibu kota Kecamatan Rupat Utara.


    Setiap pasang besar terjadi, Syawaliah dibuat bingung lantaran jembatan yang juga harus dilalui sudah lapuk. Apabila salah perhitungan, bukan tidak mungkin nyawanya menjadi taruhan. "Rusak parah jembatan itu. Ibu biasanya minta bantuan teman untuk melintas," tuturnya. Dia tidak bisa mundur lantaran para anak didiknya menanti untuk belajar. Karena itu, berpeluh sekujur tubuh pun dia ikhlaskan demi mengajar di sekolah tersebut.


    Di sekolah itu pula, Syawaliah sempat dipercaya untuk menjadi pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah. Meski tidak lama, tetap saja pengorbanannya besar. Bukan hanya tenaga dan pikiran. Harta pun harus siap dia sisihkan.


    Setiap kali sekolah butuh, dia tidak segan merogoh kocek sendiri untuk memberikan bantuan. Misalnya untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak di sekolah. Karena meminta bantuan ke UPTD Pendidikan Rupat Utara dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis membutuhkan waktu, dia memilih jalan cepat dengan menggunakan uang pribadi. "Sedikit banyak Ibu bantu," kata dia. Sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya bahwa bantuan yang diberikan harus kembali.


    Yang penting baginya, kebutuhan anak didiknya terpenuhi. Tidak heran, Kemendikbud mengapresiasi kiprah Syawaliah. Tidak hanya dinobatkan sebagai guru berdedikasi, dia juga menjadi salah satu di antara delapan guru yang dipilih untuk mewakili Indonesia dalam studi banding ke Australia.


    Kesempatan itu dia terima dua tahun lalu. Ketika masih bertugas di SDN 11 Kadur. Selama seminggu, Syawaliah diajak studi banding ke Australia oleh Kemendikbud. "Belajar banyak dari sana," jelasnya. Kisah Syawaliah patut menjadi teladan bagi guru lain di tanah air. Khususnya yang tidak perlu bersusah payah menjalankan kewajiban seperti yang harus dilakoni Syawaliah.


    Kisah inspiratif lain datang dari Samadi. Pria yang juga terdata sebagai salah satu tenaga pendidik di Kabupaten Bengkalis itu pun sudah makan asam garam dengan mengajar di wilayah perbatasan. Samadi merupakan rekan Syawaliah yang bertugas di Kecamatan Bukit Batu.


    Saat ini dia bertugas sebagai kepala SDN 27 Tanjung Leban. Sekolah itu berada di tengah hutan akasia. Kecamatan Bukit Batu memang lebih dekat dengan ibu kota kabupaten apabila dibandingkan dengan Rupat Utara. Namun, perjuangan Samadi tidak kalah hebat. Guru yang juga perintis SDN 27 Tanjung Leban itu harus keluar masuk hutan untuk mengajar. "Karena lokasinya di hutan akasia," tutur Samadi.


    Jangan bayangkan mudah keluar masuk hutan akasia. Lantaran jalan belum diaspal, Samadi harus berjibaku melewati jalan berlumpur. "Kendaraan besar juga lewat. Jadi, jalannya tambah rusak," ucapnya.


    Namun, itu tidak menghalangi semangat Samadi. Dia tetap tulus mengabdikan diri. Meski dia harus jauh dari anak dan istri, perjuangan itu tetap dilakoni. Selama bertugas sejak 1985, Samadi tidak pernah merasa lelah. Semakin lama, semangatnya untuk terus mengajar malah kian terpompa. Sama sekali tidak terlintas di benak maupun isi kepalanya untuk pindah tugas dari wilayah perbatasan. Meski tawaran untuk mengemban tugas di ibu kota kabupaten sudah diterima, Samadi memilih tetap bertugas di tempatnya mengabdi saat ini. (*/c11/owi)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top