• Berita Terkini

    Tuesday, April 11, 2017

    Rencana Hotel Tumenggungan Kembali Disorot

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Rencana Pemkab Kebumen yang bakal membangun hotel di Pasar Tumenggungan, kembali mendapat sorotan. Kali ini Pengamat Pembangunan Kota Kebumen, M Yusuf SH mengkritik rencana tersebut.

    M Yusuf berpendapat mengubah fungsi dan peruntukan lahan Pasar Tumenggungan menjadi hotel akan mencederai sejarah. Selain itu juga memarginalkan pedagang kecil dan berpotensi menyalahi rencana tata ruang Kota Kebumen. Terlebih Pasar Tumenggungan merupakan ikon Kota Kebumen serta aset ekonomi yang telah lama tumbuh dan berkembang bersama. "Yang saling melengkapi dengan sejarah Kota Kebumen yang kita cintai ini," kata M Yusuf, kepada Kebumen Ekspres, Selasa (11/4/2017).

    Yusuf meminta Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad, mengurungkan niatnya untuk merubah fungsi pasar menjadi hotel berbintang. Menurutnya, membangun hotel berbintang itu mahal biayanya, meski secara teknis mudah prosesnya. "Wong tinggal ngeplot anggaran. Yang sulit adalah apakah nantinya usaha hotel tersebut feasibel dan menguntungkan secara ekonomi," ujarnya.

    Dia khawatir justru sebaliknya akan mengalami kerugian yang nantinya menjadi beban APBD berkepanjangan. Terlebih sudah menjadi rahasia umum, sistem birokrasi secara umum belum mampu mengelola entitas ekonomi dengan profesional. Apalagi harus berhadapan dengan hotel yang dikelola oleh swasta.

    Bupati, kata dia, seharusnya introspeksi dan berterima kasih kepada pihak swasta yang telah mau berinvestasi membangun hotel yang cukup berkelas di Kebumen. "Sudah seharusnya memberikan iklim yang kondusif kepada mereka untuk berkembang. Bukan malah ikut-ikutan mendirikan hotel dan bersaing dengan mereka," sesalnya.

    Selain itu, di Kebumen juga sudah cukup banyak hotel kelas melati. Bahkan dalam tiga tahun terakhir sudah berdiri dua hotel berbintang yang sangat representatif untuk seukuran kota kecil seperti Kebumen.

    "Pertanyaan kami apakah tingkat okupasi hotel-hotel di Kebumen sudah tidak bisa menampung tamu yang akan menginap?  Karena berdasarkan pengamatan sekilas okupasi kamar hotel di Kebumen masih rendah. Pertanyaan selanjutnya, apakah hotel yang dikelola Pemda Kebumen nantinya akan mampu bersaing dengan hotel milik swasta?," tegas Yusuf.

    Dia melanjutkan, Pasar Tumenggungan merupakan tempat beberapa pedagang menengah dan ratusan pedagang kecil yang menggantungkan harapannya di pasar tersebut. Dengan membuka kios atau lapak untuk mencari rejeki yang halal dan barokah. "Yang dari waktu ke waktu serasa semakin sulit karena harus bersaing dengan pasar swalayan, minimarket dan rendahnya daya beli masyarakat," bebernya.

    Yusuf membenarkan, ada puluhan kios yang tutup. Khususnya yang berada di sebelah barat di lantai dua. Hal ini menurut Yusuf, disebabkan ukuran semua kios yang ada di Pasar Tumenggungan tidak ideal karena terlalu kecil. Penyebabnya, saat merencanakan pembangunan Pasar Tumenggungan tidak memperhatikan pola perilaku konsumen. "Pengalaman dikota-kota lain hampir dipastikan pedagang di lantai 2 akan sepi. Karena tidak sesuai dengan pola perilaku dan kebiasaan masyarakat," imbuhnya.  
     
    Yusuf meminta Bupati Mohammad Yahya Fuad, membatalkan niatnya untuk membangun hotel di Pasar Tumenggunga. Bupati diminta untuk mempertahankan Pasar Tumenggungan tetap menjadi pasar tradisional. Yang melindungi pedagan kecil yang mencari nafkah demi melangsungkan hidupnya. "Kalaupun sekarang terdapat beberapa kios yang tutup bukankah penduduk Kebumen terus bertambah. Sedangkan lahan pertanian dan lapangan kerja semakin sempit. Tentunya dimasa datang diantara mereka dipastikan akan ada yang menjadi pedagang dan membutuhkan fasilitas. Baik kios ataupun lapak yang ada di Pasar Tumenggungan," tandasnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top