• Berita Terkini

    Wednesday, April 19, 2017

    Prof Panut Mulyono, Putra Ambal yang Jadi Rektor UGM (2-Habis)

    sudarno ahmad/ekspres
    Saat SMA, Panut Bukan Termasuk Siswa Berprestasi

    Berhasil terpilih menjadi Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) untuk periode 2017-2022, banyak teman-teman semasa SMA yang merasa kaget. Pasalnya, saat masih duduk di SMA Negeri 1 Kebumen, Panut Mulyono bukan merupakan anak yang menonjol dalam berbagai hal. Terlebih Panut juga tidak aktif di organisasi sekolah. Bahkan prestasi belajarnya juga biasa-biasa saja.
    ---------------------------
    SUDARNO AHMAD NASHORI, Kebumen
    ---------------------------

    Setelah mengikuti serangkaian proses seleksi sejak Februari 2017, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng, terpilih sebagai Rektor UGM periode 2017-2022. Itu berdasarkan hasil voting pemilihan Rektor UGM oleh Majelis Wali Amanat (MWA) UGM pada Senin (17/4) lalu.

    Sejumlah teman-temannya semasa SMA merasa kaget sekaligus bangga mendengar Panut Mulyono, menjadi Rektor UGM. Salah satunya yang diungkapkan Eny Widayaningsih (57). Eny merupakan teman sekolah Panut Mulyono sejak masih duduk dibangku SMP Negeri 3 Kebumen, hingga melanjutkan di SMA Negeri 1 Kebumen.

    "Yang saya tahu anaknya biasa-biasa saja. Cuma dia kalau nggak salah pernah minder karena dia dari desa," kenang wanita warga Gang Mangga Kelurahan/Kecamatan Kebumen, ini.

    Sepengetahuannya, saat di SMP dan SMA Panut indekos di Kebumen dan pulang ke rumahnya di Desa Sinungrejo, Kecamatan Ambal, sepekan sekali untuk mengambil beras. Panut dinilai sebagai pribadi yang mandiri, karena sejak SMP sudah tinggal jauh dari kedua orangtuanya. Selain itu, Panut remaja sangat jarang jajan dan lebih memilih masak sendiri di rumah kosnya.

    Eny, yang saat ini bekerja menjadi staf Tata Usaha (TU) di SMA Negeri 1 Kebumen itu mengungkapkan Panut dan dirinya lulus dari SMP Negeri 3 Kebumen pada tahun 1976. Kemudian langsung melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kebumen. Seharusnya, kata dia, lulus dari SMA pada tahun 1979. Namun, dimundurkan menjadi tahun 1980. "Jadi sekolah di SMA-nya jadi 3,5 tahun. Namnah satu semester," tutur Eny.

    Penyebabnya, lanjut dia, karena pada akhir 1979 terjadi perubahan sistem pembelajaran. Yang sebelumnya, awal tahun pelajaran dimulai bulan Januari dan berakhir pada Desember. Sejak awal 1980 berubah menjadi Juli sebagai awal tahun pelajaran dan berakhir pada bulan Juni.

    Teman Panut lainnya saat SMA, Rini Wiratmi (57), menceritakan tidak ada prestasi yang menonjol saat Panut masih duduk dibangku SMA. Panut juga merupakan bukan siswa laki-laki yang jadi favorit para siswa perempuan. Apalagi Panut sendiri juga tidak aktif di sejumlah organisasi di sekolah.

    "Anaknya kalem banget, jadi tidak menonjol seperti teman-teman lain yang aktif," kata Rini, yang sekarang mengajar mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Kebumen.    

    Sepengetahuan Rini, kecerdasan Panut Mulyono saat di SMA juga termasuk biasa-biasa saja. Bahkan untuk kelas paralel Panut tidak masuk rangking sepuluh besar. "Tapi saya nggak tau kalau di kelasnya rangking berapa. Karena saya dengan dia beda kelas. Saya IPA 1 sedangkan Panut IPA 3," ungkapnya.

    Menurutnya, anak-anak yang berprestasi saat melanjukan kuliah ke perguruan tinggi tidak perlu ikut seleksi. Sedangkan Panut saat akan kuliah harus mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Namun dia merasa bangga setelah masuk kuliah ternyata Panut bisa menjadi mahasiswa berprestasi hingga akhirnya menduduki jabatan tertinggi di UGM Yogayakarta.

    "Sebagai teman satu angkatan saya ikut merasa bangga. Ini juga kebanggan bagi SMA Negeri 1 Kebumen, karena salah satu lulusannya bisa jadi Rektor UGM," ujar Rini.

    Berdasarkan daftar nilai Panut Mulyono dari Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) yang diterbitkan SMA Negeri 1 Kebumen, dari 11 mata pelajaran Panut meraih total nilai 94. Tidak ada nilai sempurna pada STTB itu, nilai paling tinggi delapan dan terendah enam. Ada lima mata pelajaran dengan nilai delapan yaitu, Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Bahasa Indonesia, Fisika, Kimia, dan Ilmu Bumi Antariksa.

    Sementara enam mata pelajaran meraih nilai tujuh, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Kesenian, Bahasa Inggris, Biologi, dan dua mata pelajaran ketrampilan. Selanjutnya, ada dua mata pelajaran dengan nilai enam. Yakni mata pelajaran olahraga dan kesehatan dan mata pelajaran matematika.  

    Rasa bangga juga dikatakan Nugroho Tri Waluyo, yang juga teman seangkatan di SMA Negeri 1 Kebumen. Nugroho, yang saat ini menjabat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kebumen, mengaku bangga dengan prestasi yang diraih Panut Mulyono.

    Dia berharap, Panut Mulyono, dapat membawa UGM lebih maju dan amanah dalam menjalankan tugas sebagai Rektor UGM. "Saya ikut bangga dengan prestasi Pak Panut. Apalagi ini juga membawa nama Kebumen dan nama SMA Negeri 1 Kebumen, sebagai almamater," kata Nugroho.

    Sementara Azam Fatoni, yang merupakan adik kelas Panut di SMA Negeri 1 Kebumen, berharap dengan terpilihnya Panur Mulyono sebagai Rektor UGM dapat memotivasi anak-anak muda Kebumen. Sehingga pelajar Kebumen semakin semangat dalam belajar.

    "Perlu suatu saat kita undang untuk memberikan kuliah umum, supaya anak-anak Kebumen termotivasi. Ternyata lulusan dari Kebumen bisa berprestasi," kata Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dispora Wisata) Kebumen, ini.

    Panut Mulyono, Dekan Fakultas Teknik UGM, unggul dalam voting di Majelis Wali Amanat (MWA) dan menjadi Rektor UGM periode 2017-2022. Pria yang terkenal murah senyum dan ramah ini lahir dan besar di Desa Sinungrejo, Kecamatan Ambal, pada 1 Juni 1960 silam. Panut merupakan anak pertama dari 7 bersaudara dari pasangan Samadi Hadi Siswoyo (almarhum) dan Rembyuni.

    Lahir di keluarga sederhana, sejak kecil, Panut terbiasa hidup prihatin. Sang ayah, yang berprofesi sebagai guru SD, berpenghasilan tak seberapa. Karenanya, ia harus bersusah payah menghidupi keluarga sekaligus menyekolahkan Panut dan adik-adiknya.

    Selain belum ada listrik, Panut dan adik-adiknya berangkat sekolah dengan telanjang kaki tanpa sepatu. Namun, keterbatasan tidak membuatnya patah arang dalam meraih pendidikan. Penghasilan ayahnya sebagai guru tidaklah seberapa. Sedangkan anak yang dinafkahi cukup banyak.

    Beruntung sang ayah memiliki sawah garapan, sehingga setiap panen, padinya disimpan untuk mencukupi kebutuhan nasi sehari-hari. Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, orangtuanya tetap memperjuangkan agar anak-anaknya tetap mengenyam pendidikan.(*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top