• Berita Terkini

    Tuesday, April 25, 2017

    Polri Masih Berhasrat Ungkap Kasus Novel

    JAKARTA—Kendati upaya pengungkapan kasus Novel Baswedan masih gelap, namun Polri tetap memiliki hasrat untuk mengungkap kasus tersebut. Walau sempat mentok dari dua pengintai Novel dan Closed Circuit Television (CCTV), penyidik Polri mulai untuk memetakan siapa saja musuh Novel yang diuntungkan dengan terlukanya penyidik KPK tersebut.


    Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menuturkan, semua informasi prinsipnya akan dikembangkan oleh penyidik. Termasuk, siapapun musuh Novel yang diuntungkan dengan kejadian tersebut. Namun, yang penting harus berkaitan dengan fakta. ”Tidak bisa kalau sekedar asumsi,” terangnya.


    Penyelidikan kasus penyiraman asam sulfat pada Novel tidak akan berhenti hingga menemukan titik terang. Semua informasi yang didapatkan akan dikembangkan, tentunya berbagai informasi yang layak dikembangkan. ”Kami berharap bila masyarakat memiliki informasi bisa segera dilaporkan,” paparnya.


    Yang pasti, saat ini penyidik memiliki informasi yang sedang dipertajam. Namun, belum semuanya bisa dibeberkan, sebab dalam proses penyelidikan belum bisa diungkap semua fakta secara utuh. ”Belum bisa dibeberkan satu per satu ya,” jelas calon Kapolda Papua tersebut.


    Menurutnya, dalam proses penyelidikan ini tidak ada posisi mentok. Penyelidikan itu sesuatu yang dinamis, bisa cepat mendapatkan fakta. Tapi, bisa juga belum ditemukan faktanya karena minimnya sumber informasi yang terhubung dengan fakta. ”Tidak ada kata mentok,” jelasnya.


    Sementara Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Syafruddin mengatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan pada Kapolda Metro Jaya Irjen M. Iriawan untuk bsia secepatnya mengungkap kasus Novel tersebut. ”Saya sudah perintahkan secepatnya,” tegasnya.


    Namun begitu, memang investigasi sebuah kasus itu perlu waktu. Bahkan, seperti cuaca, bisa cepat dan bisa lama. ”Yang pasti masih penyelidikan,” tegasnya ditemui di Kantor Kemenkopolhukam.


    Boy Rafli menambahkan, dari kasus penyiraman asam sulfat pada Novel Baswedan ini terasa pentingnya sebuah CCTV dalam pengungkapan kasus. Kalau ada CCTV yang merekam kejadian tersebut, tentunya akan sangat berguna bagi penyidik. ”Tanpa CCTV pengembangan sebuah kasus cukup sulit,” ujarnya.


    Kalau ada CCTV yang bisa digunakan untuk mengenali para pelaku, tentu kasus ini akan lebih cepat selesai. Hanya perlu hitungan hari bila ada CCTV yang merekam kejadian. ”CCTV yang terkoneksi dengan kepolisian sangat diperlukan,” tegasnya. (idr/syn)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top