• Berita Terkini

    Tuesday, April 25, 2017

    Perempuan di Panjer Hidup Dalam Pasungan 22 Tahun

    Sudarno Ahmad/Ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Diduga mengalami gangguan jiwa, seorang wanita warga Kuwarisan, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, dipasung oleh keluarganya sejak 22 tahun lalu. Hal ini menunjukan bahwa di Kabupaten Kebumen masih ada penderita gangguan jiwa yang kondisinya cukup memprihatinkan. Padahal sejak 2012 lalu Kabupaten Kebumen telah mencanangkan kabupaten bebas pasung. Ironisnya, pemasungan tersebut berada di dalam kota yang letaknya hanya berkisar sekitar 2 kilometer dari pusat pemerintahan.

    Sri Mulyani (37) warga Kuwarisan RT 002 RW 011 Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, terpaksa dipasung keluarganya. Sri Mulyani, dipasung sejak 1995 saat masih duduk dibangku SMP. Dia dikurung di dalam rumahnya di ruangan kecil dibagian belakang berdekatan dengan kamar mandi. Kondisinya sangat memprihatinkan. Keseharian waktunya hanya dihabiskan dengan duduk melamun.

    Sejak dikurung sejak 22 tahun lalu, Sri Mulyani tidak pernah mengenakan pakaian. Bahkan untuk buang air besarpun dilakukannya di tempat itu. Makanan yang disediakan pun sering tidak disentuh. Sri Mulyani, hanya tinggal bersama ibunya, Sariyah (59), yang berprofesi sebagai penjual sayuran keliling. Sedangkan bapaknya sudah meninggal dunia.

    Mendapat laporan dari masyarakat, Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kebumen, Dokter HA Dwi Budi Satrio, langsung mengecek ke lokasi. Menurut Budi Satrio, Sri Mulyani dikurung karena meresahkan yang selalu merusak perabotan rumah tangga.  

    Sebelum dipasung, Sri Mulyani normal seperti orang kebanyakan. Bahkan Sri juga dikenal sebagai anak yang berprestasi, karena selalu mendapat rangking di sekolahnya di sekolah menengah pertama.

    Keanehan mulai terlihat ketika saat menjelang ujian nasional SMP. Pada saat itu Sri sering melamun, murung dan marah-marah tanpa penyebab yang jelas. Karena sering bertindak aneh dan mengamuk, keluarga memutuskan untuk memasungnya. "Sebenarnya ini anaknya pintar, waktu masih sekolah dia selalu mendapat rangking lima besar," kata Budi Satrio, kepada Kebumen Ekspres, Selasa (25/4).

    Orang tuanya sempat membawa Sri Mulyani dirawat di Rumah Sakit Jiwa Magelang, namun karena tidak memiliki biaya akhirnya dia pun terpaksa membawa pulang kembali. Apesnya lagi, keluarga ini juga belum memiliki BPJS kesehatan. Tak hanya itu, keduanya juga tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP). "Kita masih melengkapi adminsitrasinya. Termasuk kita koordinasi dengan Disdukcapil untuk melacak KTP-nya," ujar mantan Sekretaris DPRD Kebumen ini.

    Selain itu, pihaknya juga masih menunggu daftar antre di shelter jiwa Puskesmas Pejagoan yang selalu penuh. "Mudah-mudahan minggu ini dapat kita rujuk ke Puskesma Pejagoa. Biar kita lebih gampang koordinasi, lebih bisa mengevaluasi secara bersama sama-sama," ungkapnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top