• Berita Terkini

    Sunday, April 30, 2017

    Pendidikan Karakter Jadi Fokus Sekolah di Jepang

    ISTIMEWA
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Kepala SD Muhammadiyah 1 Karanganyar, Heri Pramono SPd berkesempatan menimba ilmu di Jepang melalui kegiatan Jaringan Sekolah Muhammadiyah. Heri berangkat berada di Jepang bersama 14 kepala sekolah Muhammmadiyah se- Indonesia yang terpilih dari 11-28 April 2017.

    Seperti pada hari keenam kemarin, Heri berkunjung ke dua sekolah dasar, 1 sekolah menengah pertama, 1 sekolah menengah atas dan 2 universitas. Sekolah dasar tersebut antara lain Seiki dan Johoku Elementari School, Takakusha Junior High School, Koryo High School, Tottori University dan Tottori University Environment of Studies.

    Di lantas menceritakan pengalamannya. Menurut Heri, sekolah tingkat dasar di Jepang fokus kepada pendidikan karakter. "Mindset pendidikan di Jepang adalah sehat dulu, setelah itu anak-anak harus memiliki berbudi pekerti, baru yang terakhir adalah pintar. "

    "Pendidikan menengah tingkat pertama masih melanjutkan pembentukan karakter ditambah keterampilan hidup yang merupakan lanjutan dari pendidikan tingkat dasar. Kemudian di tingkat menengah anak-anak sudah mulai mengambil spesifikasi keahlian yang disukai. ," ujarnya dalam surat elektronik yang dikirimnya langsung dari Jepang.

    Di Jepang, masih katanya, tidak ada perbedaan antara SMA dan SMK.  SMA di Jepang sangat serius di bidang pertanian. "Laboratorium pertanian dibangun sangat ideal dengan angka yang fantastis yaitu 2 miliar yen atau setara dengan Rp 242 miliar," katanya.

    Selain mengunjungi sekolah dan berbagi ilmu dan pengalaman, Heri beserta rombongan juga diajak diajak berkunjung ke tempat-tempat wisata yang terkenal oleh Prof Khisida kepala laboratorium elektronik Universitas Tottori.

    Antara lain diajak ke Sakyu, pantai yang dipenuhi gurun pasir yang cukup luas dan tinggi pasirnya mencapai 100 meter. Selain itu rombongan kepala-kepala sekolah Muhammadiyah ini diajak ke Gunung Daisen dan mencoba merasakan salju di gunung tersebut.

    Lebih lanjut Heri menjelaskan bahwa pengelolaan tempat pariwisata di Jepang sangat serius dan kesadaran masyarakat untuk menjaganya sangat tinggi. "Tidak terlihat sampah sedikitpun. Tidak ada orang merokok di tempat wisata dan tidak ditarik retribusi alias gratis masuknya. Ini adalah hasil dari proses pendidikan yang baik,"  terangnya sembari bertekad pihaknya akan menerapkan pelajaran di Jepang setelah pulang ke Indonesia terutama hal-hal baik yang ada di sekolah-sekolah Jepang.(cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top