• Berita Terkini

    Friday, April 14, 2017

    Pelaku Teror Ambarawa Tak Terkait Teroris Tuban

    ilustrasi
    UNGARAN – Pasca terjadinya teror bom molotov di Gereja Santo Yusuf Ambarawa, pihak kepolisian terus mendalaminya. Hingga, Jumat (14/4) kemarin, pihak Polres Semarang mengklaim jika terduga pelaku aksi teror tersebut, bukan bagian dari jaringan teroris yang ditumpas di Kabupaten Tuban beberapa waktu lalu.

    Kapolres Semarang, AKBP V Thirdy Hadmiarso mengatakan hal tersebut diyakini dari hasil penyelidikan sementara kepada terduga pelaku aksi teror. ”Dia tunggal, tidak ada kaitan dengan yang lain,” kata Thirdy, Jumat (14/4) kemarin.

    Berdasarkan data dari pihak Polres Semarang, pelaku teror molotov diketahui bernama Gofarodin, 37, warga Lingkungan Kauman Krajan RT 6 RW 3, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas. Bukan Muh Fahrudin, sebagaimana diberitakan Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (14/4) kemarin.

    Sebelum kejadian, dikatakan Thirdy, Gofarodin yang diketahui tinggal bersama ibu kandungnya, sudah meninggalkan rumah selama dua hari. ”Itu menurut keterangan saksi Ketua RT 06, Zaenuri,” ujarnya.

    Pihak Polres Semarang juga sudah menyimpulkan jika terduga pelaku mengalami gangguan jiwa serta tidak ada hubungannya dengan jaringan teroris di tanah air.
    Ia pernah dirawat di RSJ Prof Dr Soerojo Magelang dan RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang, dibuktikan dengan diterbitkannya dua kartu pasien dengan nomor 00098448 dan RMJ-083941. ”Sudah enam tahun jadi pasien RSJ di Kota Semarang dan Magelang,” ujarnya.

    Meski begitu, pihak Polres Semarang saat ini masih melakukan pendalaman terhadap terduga pelaku. Karena, bisa jadi terduga pelaku melakukan modus dengan berpura-pura gila saat diringkus usai melakukan teror. ”Nanti kami tunggu bagaimana pemeriksaan kejiwaan dari tim dokter,” katanya.

    Mengenai adanya kesamaan modus gangguan jiwa Gofarodin dengan salah satu anggota kelompok Ngaliyan yang berhasil ditangkap Densus 88 di Tuban, Thirdy meyakini tidak ada korelasi. ”Belum ada ke arah situ. Tapi tetap kami dalami,” tuturnya.

    Thirdy menambahkan bahwa dari hasil rekaman CCTV yang ada di gereja, sesaat sebelum menyulut bom molotof, Gofarodin terpantau berjalan sendirian di pinggir Jalan Ambarawa-Jogjakarta.

    Tepatnya di depan kompleks Gereja Jago. Dia terlihat menenteng dua tas kresek di tangan kanan kirinya. Usai menyalakan bom molotov, dia kembali terpantau berjalan menyeberang jalan depan gereja, namun hanya membawa satu tas di tangannya.

    Belakangan diketahui jika satu tas yang masih dibawanya berisi sayuran. Sebelumnya, Gofarodin juga sempat terpantau berada di sekitar toko modern di seberang Gereja Santo Yusuf. Namun disayangkan, CCTV di toko tersebut off sehingga tidak diketahui ada tidaknya orang lain bersama Gofarodin.

    ”Jumat (14/4) pagi, yang bersangkutan kami bawa ke RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang. Informasi dari rumah sakit, akan dilakukan observasi selama lebih kurang sepekan ke depan,” timpal Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Hartono.

    Hingga kini, pihak penyidik Polres Semarang belum bisa mendapat keterangan dari terduga pelaku pelemparan bom molotov dan petasan di halaman Gereja Santo Yusup tersebut. Lantaran terduga pelaku lebih banyak diam di hadapan petugas. ”Yang bersangkutan masih berbelit-belit, banyak memilih diam,” katanya.

    Seperti diketahui, Gofarodin diamankan petugas Polsek Ambarawa sesaat terjadinya aksi teror bom molotov di kompleks Gereja Jago Ambarawa, Kamis (13/4) sekitar pukul 14.00. Aksi pelemparan tersebut dilakukan tiga jam sebelum Perayaan Cinta Kasih. Dari peristiwa tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti serpihan kaca dari dua botol minuman suplemen, tiga botol minuman suplemen bersumbu dan berisi BBM premium, 16 petasan ukuran sekitar 10 sentimeter, sandal, topi dan korek api gas warna hijau. (ewb/ida/ce1)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top