• Berita Terkini

    Tuesday, April 11, 2017

    Mati Suri 35 Tahun, Kelompok Jamjaneng Mulyoasri "Hidup" Kembali

    istimewa
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Setelah 35 tahun lamanya mati suri, kelompok kesenian Jamjaneng Dukuh Muktisari Desa Mulyosri, Kecamatan Pembun, kembali menunjukkan eksistensinya. Kebangkitan kembali paguyuban jamjaneng ini ditandai dengan latihan bersama di desa setempat, Senin (10/4/2017
    ) malam.

    Latihan bersama tersebut dihadiri oleh Pj Kepala Desa Mulyosri Sutijo SSy, Ketua BPD setempat Hartono, Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo. Selain itu, juga dihadiri puluhan tamu undangan, yang merupakan perwakilan beberapa grup jamjaneng dari kecamatan lain. Seperti dari Desa Sidototo Kecamatan Padureso, Kradenan Kecamatan Ambal, dan Kelurahan Bumirejo Kecamatan Kebumen.

    Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, dalam sambutannya mengingatkan bahwa jamjaneng merupakan kesenian Islami asli Kebumen yang harus dilestarikan. Sehingga DKD memberikan apresiasi yang tinggi dan ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang turut berperan didalam upaya menghidupkan kembali kesenian jamjaneng di Desa Mulyosri.

    Dalang Jamjaneng Desa Mulyosri, Muhroji (75 th), menyambut acara tersebut dengan sangat bahagia. Dengan diliputi wajah bahagia dan haru, Muhroji menuturkan keberadaan kesenian tersebut. Menurutnya kesenian jamjaneng di Desa Mulyosri telah ada sejak tahun 1935, tetapi sejak 35 tahun yang lalu kesenian jamjanen berhenti berkegiatan. "Karena peralatannya rusak dan tidak mempunyai biaya untuk memperbaiki. Beberapa peralatan itu kemudian mangkrak tersimpan di rumah sesepuh desa," ungkapnya.

    Hingga saat ini beberapa pemain inti dari grup jamjaneng tersebut sudah banyak yang meninggal dunia. Saat ini hanya tersisa enam orang, itupun keadaannya sudah renta. Atas keluhan dari tokoh masyarakat setempat Slamet Sugiharto, DKD mendorong agar kesenian Jamjaneng dihidupkan kembali.

    "Atas kesepakatan dengan PJ Kepala desa, akhirnya beberapa peralatan yang rusak  diperbaiki. Serta dibentuk kepengurusan sebagai upaya tindak lanjut menghidupkan kembali kesenian tersebut," ujar Slamet Sugiharto.

    Ia berharap nantinya akan ada regenerasi pemain jamjaneng di Mulyosri. Selain itu keberadaan kesenian jamjaneng tersebut akan dapat turut berperan didalam memajukan pembangunan spiritual di desa tersebut.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top