• Berita Terkini

    Tuesday, April 4, 2017

    Dampak Konflik Internal Keraton Solo , Loket Pariwisata Ditutup

    DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO
    SOLO – Hanya segelintir orang yang berpolemik. Tapi dampaknya begitu luas. Diantaranya dirasakan langsung para wisatawan yang kemarin (4/4) berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta. Tanpa keterangan dan alasan jelas, loket parisiwata ke objek cagar budaya tersebut ditutup.

    Selain itu, Selasa siang, suasana keraton menjadi cukup menegangkan. Kendaraan taktis Barracuda dan truk anggota pengendali massa (Dalmas) tersebar di sejumlah titik kompleks keraton. Masih ditambah lalu-lalang sepeda motor trail bertuliskan Brimob yang dikendarai personel berseragam dan bersenjata lengkap. Sudah mirip markas satuan tempur, bukan keraton sebagai sumber budaya.

    Yang lebih membuat orang mengelus dada, konflik internal antara Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XIII Hangabehi dan adik-adiknya adalah ditutupnya loket pariwisata. Sehingga, mereka hanya bisa melihat aktivitas aparat keamanan.

    Penjagaan cukup ketat terlihat mulai sekitar pukul 07.00 untuk mengamankan pertemuan dua kubu yang selama bertahun-tahun berseberangan. Wisatawan pun berdatangan. Mereka menunggu dibukanya loket pariwisata untuk bisa mengakses Museum Keraton, dan lokasi menarik lainnya.

    Namun, hingga pukul 09.00, pintu loket tak kunjung dibuka. Tidak terlihat papan informasi atau petugas yang disiapkan untuk memberikan keterangan secara detail kepada wisatawan tentang alasan penutupan loket. Beberapa pengunjung keraton akhirnya memutuskan kembali pulang.

    "Bingung juga, kok baru jam segini (09.00,Red) loketnya sudah tutup," jelas Reza, 48, wisatawan asal Jakarta ditemui di pelataran keraton.
    Datang jauh-jauh dari Jakarta dilakoni Reza karena penasaran dengan keindahan keraton dan koleksi benda-benda bersejarah di dalamnya. Namun, semua itu harus dibayar dengan rasa kecewa.

    “Tidak setiap tahun bisa ke Solo. Kebetulan ini tadi ada acara gereja. Mumpung di Solo, niatnya mau melihat langsung keratonnya. Kata teman saya unik dan bisa diakses dari pagi sampai sore. Tapi sampai sini malah ditutup,” keluhnya.

    “Ya jelas kecewa karena tidak ada pemberitahuan sama sekali kalau tutup. Cuma dari juru parkir yang bilang (objek wisata keraton, Red) tutup beberapa waktu," imbuh Reza.

    Kekecewaan serupa dirasakan puluhan mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Mereka mendapat tugas dari dosen untuk memotret sejumlah objek menarik di dalam keraton.

    “Tapi karena loketnya tutup, jadi hanya bisa motret di bagian luar keraton saja,” ujar salah seorang mahasiswi UMS Fikri Sofiani, 20.

    Menutur Fikri, dirinya sempat bertanya ke prajurit yang berjaga di Kori Kamandungan dan mendapatkan informasi bahwa wisatawan dilarang masuk karena ada kegiatan di dalam keraton. “Kata juru parkir (objek wisata keraton, Red) juga tutup sampai 6 April 2017,” ungkapnya.

    Sementara itu, usai pertemuan antara kerabat keraton, adik PB XIII Hangabehi, GPH Suryo Wicaksono menuturkan, objek wisata keraton ditutup sementara. "Hari ini sudah ditutup. Sampai kapan saya juga kurang tahu," katanya.

    Sedangkan Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton  KP Eddy Wirabhumi tidak mengetahui terkait penutupan objek wisata keraton. “Saya malah baru tahu dari Anda. Mungkin penjaganya (loket objek wisata, Red) ketakutan banyak aparat. Kanjeng Satryo (Satryo Hadinagoro, Pengageng Museum Keraton,Red) sedang berada di Jakarta,” ucap Eddy. (ves/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top