• Berita Terkini

    Rabu, 22 Maret 2017

    Satu Peserta Unjuk Rasa Tolak Semen Indonesia Tiba-tiba Meninggal

    PATI – Nasib malang menimpa Patmi, 48, warga Desa Larangan, Tambakromo, Pati. Korban mendadak meninggal dunia pada Selasa (21/3) dini hari sekitar pukul 03.00. Dia tewas setelah mengikuti aksi semen kaki dalam unjuk rasa menolak pabrik semen Rembang dan Pati di Jakarta.

    Jawa Pos Radar Kudus menyambangi rumah duka kemarin. Rumah yang berada di RT 3/RW I Desa Larangan, Tambakromo, itu tampak ramai dengan kehadiran beberapa tetangga. Mereka menunggu kedatangan jenazah yang dikirim dari Rumah Sakit St. Carolus Jakarta ke Pati. Kedatangan jenazah rencananya tiba Selasa (21/3) malam.

    Sementara itu, kedua anak korban, Sri Utami, 29, dan Muhammadun Da`iman, 22, tampak berlinang air mata. Mereka sangat terpukul atas musibah itu. dan belum bisa memberikan keterangan. Keduanya lemas menunggu kedatangan jenazah ibunya. Sedangkan suami korban, Rosad, yang bekerja di Sumatera masih dalam perjalanan ke Pati.
    Ketua RT yang rumahnya bersebelahan dengan korban, Jasmo menceritakan, korban merupakan salah satu petani yang aktif mengikuti aksi perjuangan menolak pendirian pabrik semen di Rembang dan Pati.

    Pada aksi mengecor kaki dengan semen di Jakarta, korban berangkat bersama tiga tetangga dekatnya, Dasmi, Suparmi, dan Giyen. Mereka berangkat bersama gelombang ketiga dengan keberangkatan 50 orang rombongan bus dari Desa Cengkalsewu, Sukolilo, Rabu (15/3) lalu. Gelombang sebelumnya sudah berangkat dan mulai mengecor kaki dengan semen pada Senin (13/3).

    ”Korban ingin membantu petani kendeng lainnya yang berjuang di Jakarta. Menuntut keadilan Presiden Jokowi karena tuntutan warga di PTUN Semarang sudah menang. Tapi pengoperasian pabrik semen di Rembang tetap berjalan,” ucapnya.

    Setibanya di Jakarta, korban dan rombongan beristirahat terlebih dulu sebelum ikut aksi cor kaki dengan semen. Menurut Jasmo, Patmi tidak mempunyai riwayat penyakit kronis, sehingga diperbolehkan tim dokter memasung kakinya.

    Jasmo menambahkan, keluarga korban menerima kabar meninggalnya Patmi pada Selasa (21/3) pukul 04.00 dari peserta aksi tolak semen di Jakarta. ”Berdasarkan informasi dari dulur-dulur tolak semen di Jakarta, sebelum meninggal, Patmi baik-baik saja. Setelah kakinya dilepas dari cor selama empat hari, tiba-tiba mengeluh lemas. Beberapa temannya mengantar ke kamar mandi. Kondisi Patmi semakin lemas, dingin. Dia tiba-tiba pingsan. Lalu dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanannya, Patmi dinyatakan meninggal. Diduga karena serangan jantung,” kata Jasmo.

    Ia menambahkan, berdasarkan keterangan keluarganya, tidak ada firasat apapun sebelum kepergian Patmi. Korban hanya berpesan kepada anaknya, Sri, untuk menjaga sawahnya supaya diberik pupuk, disemprot, supaya padinya tidak layu. Patmi juga berpesan kepada cucunya semata wayang, anak dari Sri, untuk tidak nakal. (put/lil)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top