• Berita Terkini

    Thursday, March 16, 2017

    Melihat Semangat Ibu Hamil 8 Bulan Ikut Demo Jalan Tol

    TRIYONO
    Jadi Korban Debu dan Bela Anak yang Terkena Ispa

    Pembangunan Megaproyek Tol Batang-Pemalang ternyata tidak hanya menimbulkan kerusakan jalan yang dilalui armada truk galian tanah. Namun anak balita yang setiap hari menghirup udara yang tercemar debu tanah hingga terpaksa diopname di rumah sakit. Hal itulah yang membuat ibu hamil delapan bulan ini nekat ikut aksi demo di Aula Kelurahan/ Kecamatan Sragi. Kenapa?
    ---------------------
    Triyono, Sragi
    --------------------
    BERSEMANGAT. Hal itu ditunjukkan Raisa Umami (32). Wanita yang tengah hamil 8 bulan tersebut terlihat antusias mengikuti demo warga hingga pemblokiran jalan dan penyenderaan armada milik PT SMJ.

    Wanita hamil ini ditemani temannya ibu rumah tangga lain yang anaknya menjadi korban akibat setiap hari menghirup debu. Kedua ibu muda asal Kelurahan/ Kecamatan Sragi Rt 02 Rw 14 ini tinggal di tepi jalan yang dijadikan sebagai hilir mudik armada galian tanah.

    Dengan mengenakan masker, wanita yang berperut buncit ini mengaku sengaja datang bersama tetangganya, Dian Pusparini (33) yang juga pemilik konter di tepi jalan. Mereka nekat ikut aksi untuk menyampaikan aspirasi atau keluhan secara langsung kepada Pimpinan PT SMJ selaku rekanan Proyek Tol yang menggarap di wilayah Kota Santri.

    Karena sejak adanya pembangunan proyek tol, rumah dan pakaian yang di dalam almari ikut kotor lantaran banyak debu yang beterbangan masuk ke rumah.
    "Meskipun saya hamil delapan bulan saya sengaja ikut kesini untuk menyampaikan keluhan sebagai rumah tangga yang di rumah," ungkap Raisa Umami ketika di lokasi.

    Keluhan senada disampaikan Dian Pusparini yang juga kesehariannya sebagai Guru SD. Ia mengaku di depan umum, gara-gara debu tol, anaknya Sean Alhaedar yang masih berusia empat tahun selama dua minggu masuk rumah sakit karena terkena ispa. Dari keterangan dokter anaknya terkena udara kotor.

    "Bayangkan anak saya selama dua minggu masuk rumah sakit karena debu tol. Setiap hari saya bangun jam 04.00 untuk mencuci pakaian sebelum berangkat mengajar, namun apa yang saya dapatkan ketika di jemur pulang mengajar bukanya dicuci itu menjadi bersih namun malah menjadi kotor akibat debu, coba bapak bayangkan. Sudah ngurusi anak, ngurusi pakaian kotor ditambah ngurusi suami," ungkap Dian.

    Ditambahkan, dalam sebulan dirinya juga harus mengeluarkan uang untuk membeli masker sebagai pelindung dalam kesehariannya. Dalam sebulan setidaknya dua dus masker berisikan masing-masing 50 lembar dengan harga tiap dus Rp 25 ribu.

    "Selain membeli masker dalam satu jam sekali saya harus menyapu rumah dan tiap hari harus mengepel karena debu yang tebal," keluhnya.
    Untuk itu ia meminta agar pembangunan tol berjalan namun tidak membuat masyarakat menjadi korban, karena kesehatan itu benar-benar mahal. (*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top