• Berita Terkini

    Saturday, February 18, 2017

    Slamet, 25 Tahun Berburu Kroto, Menguntungkan Lho

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Mencari kroto (larva atau telur semut rangrang) ternyata dapat menjadi pekerjaan sampingan yang sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, saat ini harga kroto dapat mencapai Rp 130-170 ribu perkilogram.

    Kendati demikian pekerjaan ini tidaklah mudah untuk dilakukan. Pencari kroto harus berani diserbu ribuan semut rangrang yang gigitannya terkenal menyakitkan. Selain itu, pencari kroto juga harus berjalan puluhan kilometer dan memeriksa pohon satu persatu.

    Hal inilah yang telah dilakukan oleh Slamet (57) warga Desa Ngasinan Kecamatan Bonorowo. Hampir setiap hari, jika ada waktu luang bapak enam anak ini selalu mencari kroto. Pekerjaan sampingan ini telah dia kerjakan selama lebih dari 25 tahun. “Dulu sekali mencari bisa mendapatkan 1-2 kilogram kroto. Saat ini paling hanya mampu mencari 5-7 ons saja,” tuturnya saat bertemu Ekspres di Desa Maduretno Kecamatan Buluspesantren.

    Menurutnya, penurunan penghasilan kroto dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni telah banyaknya pencari kroto dan semakin sedikitnya jumlah kroto di alam liar. Kendati hanya mendapatkan setengah  kilogram, namun tingginya harga membuatnya selalu semangat untuk berburu kroto hingga keluar daerah. “Dulu harga perkilo hanya Rp 6 ribu saja. Seiring dengan banyaknya permintaan dan sedikitnya persediaan di alam harga terus, melambung. Kroto merupakan sumber gizi terbaik untuk burung,” terangnya.

    Dengan semakin banyaknya permintaan dan sedikitnya persediaan di alam, maka kroto sangat penting untuk diternak. Namun peluang keberhasilan berternak kroto tanpa pohon sangat sedikit. “Yang mudah dalam beternak kroto sebenarnya tetap menggunakan pohon yakni dilakukan pada perkebunan. Di samping akan mendapatkan penghasilan tambahan, semut rangkang juga akan selalu menjaga pohon dari berbagai hama tanaman,” paparnya, didampingi Wartino pencari kroto lainnya.

    Slamet menambahkan, maraknya pencinta burung berkicau akan membuat permintaan kroto selalu meningkat. Di sisi lain, semakin lama persediaan alam semakin menurun seiring dengan  banyaknya para pemburu. Ini dapat menjadi peluang ekonomi yang sangat menjanjikan. “Untuk dapat beternak kroto pada perkebunan, tentunya diperlukan biaya yang tidak sedikit. Selain memerlukan lahan yang lumayan, perkebunan juga harus terbebas diri insektisida. Sebab jika tanaman disemprot menggunakan insektisida, tentunya semut rangrang akan mati,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top