• Berita Terkini

    Friday, February 10, 2017

    Sampel Makanan Korban Keracunan Massal Purbalingga Dikirim ke Semarang

    PURBALINGGA - Polisi dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Purbalingga terus meneliti penyebab keracunan massal yang terjadi di Kecamatan Mrebet pada Kamis (9/2/2017) lalu. Untuk kasus ini, petugas sudah mengirimkan sampel yang didapatkan dari korban dan lokasi kejadian ke laboratorium di Semarang.

    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Purbalingga drg Hanung Wikantono MPPM mengatakan, pemeriksaan sampel sisa makanan dan sisa daging olahan minimal membutuhkan waktu sampai seminggu. Itu waktu minimal yang dibutuhkan di laboratorium.

    “Di sini kami masih fokus koordinasi dengan rumah sakir tempat dirawat, baik secara administrasi maupun penanganan terhadap pasien korban dugaan keracunan. Namun kami belum bisa sampaikan perkiraan penyebab gangguan pada manusia itu. Tunggu hasil pasti laboratorium,” tegasnya, Jumat (10/2).

    Hanya saja, melihat kasus ini ada kemungkinan berkembangnya bakteri yang bisa menganggu bagian pencernaan manusia. Misalnya bakteri Salmonella,sp atau lainnya. Yang jelas hasil pasti tetap menunggu laboratorium.

    “Kalau dilihat sesuai kasus yang pernah ada, meski sumber ayamnya sama, namun lebih berpotensi ayam yang dipanggang atau bakar ini. Kalau daging ayam digoreng pasti bakteri mati, tapi kalau bakar, bisa saja masih ada yang berkembang atau hidup,” tambahnya.

    Sementara itu untuk pembiayaan perawatan pasien KLB ini, Hanung meyakinkan sedang diurus pemerintah melalui rumah sakit yang digunakan perawatan. Prinsipnya sudah ditetapkan free bagi pasien dan akan ditanggung Pemkab Purbalingga.

    Kapolsek Mrebet, AKP Imam Sutiyono mengatakan, sampai saat ini pembuat makanan, Sukarti (41) dipersilakan menetap di rumah. Tidak ada wajib lapor, hanya saja untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan, sewaktu- waktu dibutuhkan, bisa diperiksa lanjutan.

    “Belum ditemukan ada unsur kesengajaan dalam kasus ini. Dia (Sukarti, red) juga mengaku tak menyangka masakannya bermasalah pada banyak orang,” tegas Imam, kemarin (10/2). (amr)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top