• Berita Terkini

    Friday, February 24, 2017

    Pengusaha Muda Tionghoa "Cari Tuhan" Lewat Psikologi, Ini yang Terjadi Kemudian...

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Banyak cara ditempuh manusia dalam memperoleh keyakinan hakiki tentang agama. Itu pula yang dialami oleh pengusaha muda Tionghoa, Dedi Purwanto (33), yang akhirnya memilih memeluk agama Islam setelah mentok belajar psikologi.

    Pemilik Toko Buku dan Percetakan Dewi yang beralamat di Jalan Pahlawan Kebumen itu pun, kini memilih Ustadz Sayidan untuk belajar mendalami agama Islam. Bapak satu anak ini kini aktif mengaji untuk lebih memperdalam pengetahuan agama.

    Masuk Islam sebelum Bulan Ramadan 2016 silam, Dedi kini rutin datang di Mushola At Taqwa yang diasuh Sayidan selepas sholat asar, sekitar pukul 16.00 WIB.  Ia berjalan kaki dari Jalan Raya Kutoarjo Kebumen menuju mushola yang berada di gang Perkasa, RT 3 RW 10 Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen.

    Pria berkacamata itu pun kerap menyapa warga yang ditemuinya saat melintas, sembari  tidak lupa mengucapkan salam. Sementara itu Sayidan sendiri telah siap di mushola bersama santri dari berbagai usia. "Awalnya saya tanya kepada tetangga yang juga mualaf dan ditunjukkan untuk ngaji di sini," kata Dedi ditemui, baru-baru ini.

    Dedi mengaku ingin belajar mengaji agar bisa membaca Alquran. Selama ini, ia hanya membaca artinya dalam Bahasa Indonesia. Hal itu telah kerap dilakukan sebelum masuk Islam.  "Saya tidak menemukan penjelasan tentang manusia dengan belajar psikologi. Sehingga akhirnya saya nyicil belajar terjemahan Alquran dan melanjutkan dengan ngaji setelah masuk Islam sebelum puasa," terangnya.


    Bagi Dedi, jalan hidup yang dilaluinya hingga menjadi mualaf itu merupakan sebuah anugerah besar. Apalagi bisa mendalami agama Islam. "Saat ini saya sudah ngaji sampai iqra jilid enam," imbuh Dedi yang baru belajar mengaji kepada Sayidan selama empat bulan itu.

    Sayidan mengatakan, Dedi bukan orang pertama yang dibantunya memeluk Islam. Sebelumnya, juga ada Yuliana warga Gombong dan Desi Sulistyaningrum warga Wonogiri. Untuk Yuliana awalnya beragama Katolik, masuk Islam saat Sayidan menjabat  kepala SMK Farmasi Karanganyar 2011. Ketika itu, Yuliana selalu mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di kelas. "Guru agamanya, Ustadz Yuslam Khanafi lantas bertanya kepada Yuliana, kok ikut PAI. Dan Yuliana menjawab ingin masuk Islam," kenangnya.

    Sayidan pun menyampaikan kepada orang tua Yuliana. Setelah diperbolehkan untuk masuk Islam, Yuliana lantas mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Sayidan. Begitu pula Desi yang masuk Islam sebelum menikah. Adapun Dedi mengucapkan dua kalimat syahadat di Bekasi. Selanjutnya ngaji kepada Sayidan.

    Menurut Sayidan, untuk mengajari mualaf mengaji dilakukan dari nol, mulai mengenal Huruf Hijaiyah, mengenal bacaan, dan belajar tajwid. Hal itu perlu kesungguhan, kesabaran, serta ketekunan. "Jika sudah lancar, lalu mempelajari ayat-ayat Alquran," ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top