• Berita Terkini

    Thursday, February 16, 2017

    Paceklik Panjang, Nelayan Tanggulangin Kelimpungan

    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Dampak cuaca ekstrem sangat memukul warga Desa Tanggulangin Kecamatan Klirong. Pasalnya akibat cuaca yang tidak menentu hampir delapan bulan nelayan setempat tidak berani melaut.

    Cuaca ekstrem, ditandai dengan angin laut kencang dan ombak besar, serta jarangnya ikan, menjadi faktor utama para nelayan mengurungkan niatnya untuk pergi berlayar.

    Dari pantauan Ekspres, Rabu (15/2/2017), suasana Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanggulangin tampak sepi dan tidak ada aktivitas apapun. Selain itu perahu-perahu nelayan yang biasa digunakan untuk mencari ikan juga terparkir di pinggiran muara sungai Lukulo.

    Sarikun (43)salah satu warga RT 1 RW 1 Desa Tanggulangin Kecamatan Buluspesantren mengatakan, cuaca ekstrem menjadi musim paceklik bagi para nelayan Desa Tanggulangin. Para nelayan tidak berani melaut karena terlalu berisiko. “Akibat tidak dapat melaut maka nelayan melakukan aktivitas di darat, yakni bertani sembari merumput untuk ternak. Ini sudah berlangsung selama kurang lebih delapan bulan,” tuturnya.

    Menurutnya, nelayan nekat melaut akan sangat membahayakan jiwanya. Selain itu secara perhitungan rugi. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan untuk melaut, tidak sebanding dengan hasil ikan yang didapat. “Untuk sekali melaut, para nelayan membutuhkan biaya banyak. Ini untuk membeli bensin, bekal dan rokok, jika dihitung jumlahnya dapat mencapai Rp 200 ribu. Makanya kalau tidak dapat ikan akan rugi,” terangnya.

    Ketua Pokdakan Karya Mina Sejahtera ini juga menjelaskan, akibat tidak adanya ikan, maka pihaknya harus membeli ikan untuk bahan baku bahan baku nugget di Cilacap. Selain membutuhkan ongkos lebih, harga ikan di Cilacap  juga lebih mahal. “Entah sampai kapan ini cuaca ekstrem ini akan berlangsung. Jika tidak melaut maka perekonomian di para nelayan terganggu,” terangnya, sembari menambahkan, kondisi tersebut sangat berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

    Sarikun  menambahkan, dalam mencari ikan, para nelayan menggantungkan nasibnya pada kondisi alam. Jika alam sedang tidak bersahabat, yang dapat dilakukan hanya bersabar, sembari menunggu cuaca membaik. “Kami mengandalkan hidup dari alam, saat cuaca sedang tidak bersahabat maka bisa hanya bersabar,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top