• Berita Terkini

    Sunday, February 12, 2017

    Meriahnya Kirab Cap Go Meh di Kebumen

    sudarno ahmad/ekspres 
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Kirab budaya Cap Go Meh yang diselenggarakan oleh Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kong Hwie Kiong Kebumen, Sabtu (11/2/2017) berlangsung meriah. Meski sempat diguyur hujan tak menyurutkan masyarakat untuk menyaksikan acara langka tersebut di sepanjang rute kirab. Kirab Budaya Cap Gomeh 2017 atau yang lebih dikenal dengan ritual jut bio itu menyajikan sejumlah kesenian khas Tionghoa seperti barongsai dan liong.

    Masyarakatpun tumpah ruah disekitar jalan depan Klenteng Kong Hwie Kiong di Jalan Pramuka Kebumen, Jalan Pemuda ke utara hingga Tugu Lawet. Selanjutnya, mereka menyusuri Jalan Pahlawan ke arah barat hingga SMP 5 Kebumen. Masuk ke Jalan S Parman, rombongan kirab melanjutkan perjalanan melalui Jalan Mayjen Sutoyo hingga simpang empat Bakso Urip. Kemudian berbelok ke selatan melalui Jalan Letjen Suprapto hingga Jalan Kolonel Sugiyono dan kembali ke klenteng. Lokasi tersebut merupakan bagian dari rute kirab budaya  Cap Go Meh.

    Sepanjang rute kirab, suasana di jalan ramai dengan bunyi genderang dan kecrekan serta nuansa warna merah dan emas. Ditengah-tengah rombongan aksi kesenian Tinghoa, ada juga kesenian asli Indonesia Tari Saman Polwan Polres Kebumen.

    Selain itu, juga dimeriahkan arak-arakan drum band, sepeda gowes, kesenian ebleg, angklung, hingga tek-tek. Ada yang berbeda pada kirab Cap Go Meh kali ini, yaitu dengan bergabungnya berbagai tokoh lintas agama yang tergabung dalam komunitas "Sedulur Kebumen" turut memeriahkan kirab.

    Ketua Panitia, Henki Halim, menjelaskan pada kirab tersebut rupang (patung) tuan rumah Klenteng Kong Hwie Kiong Kebumen Dewa Makco Thian Sang Senmu Klenteng dikeluarkan dan ikut diarak keliling Kota Kebumen.

    Tak hanya patung Dewa dari Klenteng Kong Hwie Kiong Kebumen, acara tersebut juga mengundang tuan rumah Klenteng Hok Tek Bio Gombong, Kong Co Hok Tek Cin Sin atau disebut sebagai Dewa Bumi. "Ini bukan hanya sekedar ritual arak-arakan, tetapi juga diyakini sekaligus sebagai ritual menghalau musibah yang bisa datang dari darat dan lautan," kata Henki Halim, disela-sela acara.

    Umat di klenteng meyakini dengan mengarak Dewa Penguasa Laut dan Dewa Bumi, maka Dewa Dewi akan bahagia dan kemudian akan memberikan hasil bumi dan laut yang berlimpah bagi seluruh warga Kebumen.

    Tak hanya berhenti sampai disitu, pada malam harinya Klenteng Kong Hwie Kiong Kebumen juga menggelar malam perayaan Cap Go Meh atau hari ke-15 pada tahun baru Imlek. Pada malam Cap Go Meh, panitia menggelar pesta rakyat yang mengundang ribuan masyarakat untuk menikmati berbagai sajian kuliner nusantara secara gratis.

    Berbagai kuliner yang disediakan panitia, diantaranya soto, sop, batagor, bakso, siomay, dawet, kembang tahu dan aneka kuliner lainnya. "Kami menyediakan sekitar dua ribu kupon yang disebar ke masyarakat agar bisa menikmati berbagai sajian," imbuh bosa Roti Jempol ini.

    Ketua Yayasan TITD Kong Hwie Kiong Kebumen, Sugeng Budiawan, mengatakan perayaan Cap Go Meh bukan sekadar untuk mengakhiri perayaan Imlek, melainkan bukti bahwa masyarakat bersatu dalam keberagaman dan ini patut dipertahankan.

    Perayaan Kirab budaya Cap Go Meh bukan hanya milik keturunan Tionghoa saja. Namun, merupakan kebudayaan bersama dimana ada akulturasi budaya di dalamnya. "Kami melibatkan warga lokal untuk partisipasi," kata Sugeng Budiawan..(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top