• Berita Terkini

    Tuesday, February 21, 2017

    Kinerja Monoton, Presiden Omeli Mendag

    ILUSTRASI
    JAKARTA – Pasar baru di luar negeri menjadi sorotan Presiden Joko Widodo saat membuka Rapat kerja Kemendag di Istana Negara kemarin (21/2). Selama ini, masih banyak negara yang belum dimasuki produk-produk Indonesia. Padahal, potensi pasar di negara-negara tersebut masih sangat besar dan terbuka untuk dimasuki.


    Dalam raker itu, Secara khusus presiden menyoroti kinerja jajaran Kemendag yang dianggap minim terobosan. ’’Jangan bekerja dengan cara-cara lama yang monoton. Cari cara yang tidak linier,’’ tegasnya. Pelayanan terhadap masyarakat, pengusaha, hingga UMKM harus dilakukan dengan lebih cepat. Bila tidak, Indonesia akan terus tertinggal dengan negara lain.


    Dia sudah meminta Menkeu menghitung proyeksi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2045. Menurut hitungan, saat Indonesia berusia 100 tahun nanti, PDB akan mencapai USD 9,1 triliun atau Rp 118.300 triliun. Saat itu, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 310 juta jiwa dengn pendapatan perkapita USD 29 ribu. Itu bisa dicapai bila kinerja pemerintah ditingkatkan melalui berbagai terobosan.


    Salah satu kinerja yang paling disorot ada pada sektor ekspor. Sektor tersebut masih digarap secara monoton oleh kemendag. ’’Kita tidak bisa penetrasi di pasar-pasar baru, dan selalu berkutat pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Eropa,’’ keluh Presiden. Memang, pasar Eropa sangat besar, namun, peluang untuk pasar-pasar baru juga jauh lebih besar lagi. ’’Karena tidak pernah kita urus berpuluh-puluh tahun,’’ lanjut mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

    Sebagai gambaran, potensi pasar di Afrika saat ini senilai USD 550 miliar. Sementara, ekspor Indonesia ke Afrika baru senilai USD 4,2 miliar. Kemudian, kawasan Eurasia punya potensi pasar senilai USD 251 miliar. Nilai Ekspor Indonesia ke kawasan tersbeut lebih kecil lagi, bahkan di bawah USD 1 miliar.


    Belum lagi pasar timur tengah yang potensinya bernilai USD 975 miliar. Indonesia baru kebagian USD 5 miliar. Juga ada India yang potensinya USD 375 miliar, dan ekspor Indonesia baru USD 10 miliar. Itu pun didominasi Batubara dan CPO. Pakistan punya potensi pasar USD 44 miliar, Indonesia baru masuk USD 2 miliar.


    Ditambah lagi Sri Lanka dan Bangladesh yang punya potensi USD 19 dan 41 miliar, namun Indonesia baru ekspor senilai USD 0,3 dan 1 miliar. ’’Negara-negara ini nggak pernah kita lihat, dilihat tapi dengan cara serampangan, tidak memberikan perhatian yang serius pada mereka,’’ ucap Jokowi dengan nada kesal.


    Menurut dia, tugas pemerintah adalah memfasilitasi pengusaha dan UKM-UKM Indonesia untuk penetrasi di pasar-pasar tersebut. Salah satunya melalui pameran-pameran. Untuk pameran, Jokowi meminta Indonesia memesan stan terbaik yang posisinya paling strategis. ’’Bayar mahal tidak apa-apa,’’ tuturnya. Bila stan yang dipilih tersembunyi, bukannya menaikan citra, malah menurunkan citra.


    Kebiasan-kebiasaan bekerja secara monoton harus dihilangkan bila masih ingin menumbuhkan optimisme. Perubahan cara kerja itu harus dimulai dari level pejabat sehingga bisa ditiru oleh jajaran. Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) harus lebih gencar berpromosi dan bernegosiasi. Bila aturan negara yang bersangkutan menyulitkan, harus dicari cara agar negosiasi bisa mulus.


    Hal lain yang disoroti Jokowi adalah soal distribusi barang. Menurut dia, pola distribusi terutama untuk bahan pokok masih banyak yang tidak baik. ’’Mata rantai distribusi ini banyak yang nggak bener. Ini betulkan,’’ ucapnya. Sudah dua tahun perbaikan dilakukan, namun belum banyak hasil yang diperoleh.


    Dia mencontohkan, harga di petani misalnya Rp 5 ribu,sampai di konsumen sudah Rp 15 ribu. Sudah dipastikan ada yang tidak beres dengan distribusinya. Jajaran kemendag harus bisa membaca siapa saja pemain di sektor-sektor tersebut. Bila mata rantai distribusi masih satu atau dua, masih bisa ditoleransi. Namun, bila sudah sampai empat, bahkan tujuh, biayanya akan habis di sektor distribusi. Akhirnya konsumen, dalam hal ini rakyat yang dirugikan karena harus membayar lebih mahal.


    Menjawab omelan presiden, Mendag Enggartiasto Lukita berusaha membela diri. Menurut dia, memang ada beberapa kendala di negara-negara Afrika seperti Nigeria dan beberapa negara lain. Salah satunya, bea masuk yang tinggi bila tidak membangun industri di negara tersebut. ’’ Sebagian dari pengusaha sudah jalan, Indofood sudah jalan, bahkan sudah masuk industrinya. Mayora juga mulai masuk,’’ terangnya usai raker.


    Pihaknya masih mengupayakan negosiasi yang bisa menguntungkan kedua belah pihak. Semua hambatan non tarif akan diupayakan untuk dibereskan. Sementara, untuk kawasan Eurasia dan Asia Selatan, Maret mendatang bakal ada pembicaraan lanjutan. Yang jelas, Kemendag akan memaksimalkan pasar baru tanpa mengabaikan pasar yang sudah ada saat ini.


    Sementara, mengenai distribusi, dia mengakui hingga saat ini mata rantai distribusi untguk sebagian pangan masih terlalu panjang. Sebagai contoh, kementeriannya saat ini masih mengupayakan untuk memangkas dua dari lima level distribusi gula. ’’Mereka terbiasa seperti itu sehingga tidak mudah. tapi tidak mungkin kami diamkan,’’ tambah politikus Partai Nasdem itu. (byu)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top