• Berita Terkini

    Wednesday, February 1, 2017

    Jeglongan Sewu, Sebutan Baru untuk Jalur Pantura

    ROCHMAN GUNAWAN/RADAR SLAWI
    Lubang Dimana-mana, Sumber Malapetaka


    Jalan pantura memiliki sebutan baru di kalangan pengendara yang setiap hari melintas. Lantas, darimana datangnya julukan tersebut yang kerap menjadi banyolan antar pengemudi ?

    LAPORAN : R.GUNAWAN

    DI tengah perbincangan sejumlah pengemudi kendaraan berat seperti truk hingga trailer yang sedang asyik menikmati segelas kopi untuk menghilangkan dahaga, mereka menyebut ada destinasi wisata baru di pantura. Yaitu Jeglongan Sewu. Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata destinasi tersebut adalah jalur pantura yang dipenuhi lubang. Saking banyaknya lubang, para pengemudi akhirnya memberikan julukan baru bagi jalan yang menjadi salah satu jalur terpadat di Pulau Jawa tersebut.


    Helmi, 45, pengemudi trailer asal Jepara mengatakan, jalur pantura yang dimaksud bukan sebatas yang ada di Kabupaten Tegal tetapi secara menyeluruh mulai dari wilayah Jawa Barat hingga Jawa Tengah. Pengemudi kendaraan berat, kata dia, harus mengeluarkan tenaga ekstra karena banyak lubang bertebaran di sepanjang jalur pantura.

    Ternyata, keluhan tersebut juga dirasakan hampir sebagian besar rekan-rekannya yang rutin melintas di jalur pantura sehingga dalam guyonan mereka muncul istilah baru yaitu Jeglongan Sewu yang berarti seribu lubang. Tentunya nama itu sengaja disematkan untuk menyindir kondisi jalan pantura yang berlubang dimana-mana.
    Menurut dia, musuh utama dari pengemudi kendaraan berat adalah tanjakan yang curam serta jalan berlubang. Jika salah menempatkan posisi salah satu roda dan masuk secara tiba-tiba ke dalam lubang jalan, maka as roda bisa patah dan kemungkinan terburuk adalah kendaraan menjadi terguling. Ini tentu bisa menjadi sumber malapetaka bagi kendaraan yang melintas di jalur pantura.

    “Jeglongan Sewu menjadi sindiran karena jalur pantura yang tidak kunjung diperbaiki,” ujarnya.

    Pengemudi lainnya, Taufan, 41, menambahkan, kondisi jalur pantura di beberapa kota terutama yang belum dibeton sebagian mengalami kerusakan. Padahal, kendaraan besar setiap hari hilir mudik mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari bahan bahan, sembako hingga kendaraan yang dikirim melalui jalur pantura. Jika dibiarkan lebih lama, tidak tertutup kemungkinan istilah baru untuk jalur pantura yaitu Jeglongan Sewu akan terus melekat di dalam benak pengguna jalan. Bukan hanya bagi pengemudi kendaraan besar saja, tetapi semua jenis kendaraan mulai dari roda dua hingga roda empat.

    Sebagai pengemudi yang rutin melintas, dia berharap agar jalur pantura secara keseluruhan bisa segera diperbaiki sehingga tidak ada lagi istilah tersebut.
    “Semua bermula dari kondisi jalan yang rusak sehingga muncul julukan baru,” pungkasnya. (*/ima)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top