• Berita Terkini

    Saturday, February 11, 2017

    Desa Glontor, Kampung Ceting di Kebumen

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Kampung Ceting, mungkin julukan yang tidak berlebihan bagi Desa Glontor, Kecamatan Karanggayam. Hal ini lantaran hampir seluruh penduduk di desa ini memproduksi produk anyaman bambu tersebut.

    Lokasi desa yang berbukit dan akses jalan yang terbatas, ternyata tidak menyurutkan geliat usaha kecil menengah masyarakat setempat yang sudah menjadi warisan turun temurun. Tidak jelas awal mula kerajinan anyaman bambu di desa ini.

    Namun menurut Sri Suprapti (50) salah satu perajin ceting, ketrampilan membuat anyaman bambu yang dimiliki oleh warga setempat merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang mereka.

    Dia sendiri juga tidak tahu pastinya kapan, karena kerajinan ini sudah ada sejak zaman dahulu. "Rata-rata warga disini bikin kaya gini (ceting). Dari pada nggak ada kerjaan," tutur Sri Prapti, saat Kebumen Ekspres menyambangi tempatnya bekerja.

    Sri Prapti mengaku tidak mengalami kendala dalam hal bahan baku. Bahan baku bambu di desa ini juga melimpah. Yang bekerja membuat produk anyaman bambu itu tak hanya terbatas pada wanita dan pria dewasa, namun juga anak usia sekolah dan wanita usia lanjut.

    Produk anyaman bambu khas desa ini ternyata tak kalah kreasinya dengan produk anyaman bambu pelaku lain. Rata-rata produk anyaman bambu di desa ini dibuat menjadi produk peralatan rumah tangga seperti cething (bakul), besek, dan tampah.

    Warga Dukuh Karangsambung 2 RT 02 RW 02 itu, harga jual produk anyaman bambu sangat terjangkau, seperti ceting/bakul hanya ditawarkan Rp 8 ribu, kemudian tampah  Rp 8 ribu. Pengrajin juga menerima produk pesanan dengan desain sesuai keinginan konsumen. Harganya pun menyesuaikan tingkat kesulitan dan tergantung negosiasi dengan para pengrajin.

    Sedikitnya dalam satu minggu, rata-rata kapasitas produksi masing masing pengrajin bisa mencapai 70 hingga 100 buah kerajinan tergantung tingkat kesulitan. Kualitas produk yang dihasilkan juga tak kalah dibanding dengan produk-produk serupa dari daerah lain.

    "Yang beli datang kesini. Biasanya seminggu sekali," kata wanita yang telah dikaruniai 3 cucu ini.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top