• Berita Terkini

    Thursday, February 16, 2017

    Banjir Rendam Sepuluh Kelurahan di Kota Tegal

    K. ANAM SYAHMADANI/RATEG
    TEGAL-SEPULUH kelurahan di Kota Tegal diterjang banjir, Kamis (16/2). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kesepuluh kelurahan tersebut berada di Kecamatan Margadana, Kecamatan Tegal Barat, dan Kecamatan Tegal Timur. Yakni, Kelurahan Sumurpanggang, Margadana, Cabawan, Krandon, Kaligangsa, Pesurungan Lor.

    Kemudian, Kraton, Tegalsari, Pesurungan Kidul, dan Mintaragen. “Di Sumurpanggang, banjir mencapai 50 sentimeter sampai satu meter,” kata Kepala Pelaksana BPBD Imam Sofwan, saat ditemui di posko Jalan Banyuwangi, Kelurahan Sumurpanggang, sekitar pukul 08.00 pagi. Jalan Banyuwangi di Kelurahan Sumurpanggang, menjadi salah satu titik banjir.

    Jalan ini, bersebelahan langsung dengan Sungai Kemiri. Imam menuturkan, sesuai data terakhir, sekitar 20 jiwa dievakuasi ke tempat yang lebih aman, yakni kantor kecamatan dan musala terdekat. Satu orang berusia 70 tahun yang mengalami penyakit stroke, dilaporkan dievakuasi ke rumah saudaranya. Sementara warga lainnya, bertahan di rumah masing-masing.

    BPBD dalam hal ini menerjunkan 22 personel dan mendirikan posko darurat di Musala Nurul Huda Kelurahan Sumurpanggang dan di Polder Bayeman Kelurahan Kaligangsa. Menurut warga RT 7 RW 1 Kelurahan Sumurpanggang yang daerahnya terendam banjir, Wibowo, 45, banjir hebat menerjang sekitar pukul 02.00 sampai 03.00 dini hari. Banjir mulai surut saat adzan Subuh berkumandang.

    Meski demikian, pada pagi hari warga tetap harus menyibakkan celananya tinggi-tinggi ketika melintasi Jalan Banyuwangi, karena banjir masih cukup tinggi. Bagi yang nekat memakai sepeda motor, tidak jarang yang mogok. Saat dipantau sekitar selama satu jam hingga pukul 09.00 pagi, ada empat sepeda motor yang mogok di lokasi itu. Mereka dibantu relawan BPBD.

    Wibowo menambahkan, banjir ini merupakan yang terparah selama lima tahun terakhir. BPBD sebelumnya menyatakan, cuaca ekstrem masih akan berlangsung sampai Maret mendatang. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Sugiyanto menerangkan, banjir kali ini disebabkan curah hujan sangat tinggi, yang merata di seluruh Jawa Tengah.

    Selain itu, karena salah satu bendungan di Kabupaten Tegal yang tidak mampu menampung debit air hujan. Sehingga, jebol dan mengalir ke Sungai Kemiri, yang kemudian meluap dan membanjiri wilayah Kecamatan Margadana. Terkait faktor ini, Sugiyanto mengaku sempat langsung mempertanyakan hal tersebut kepada Pengelola Sumber Daya Air (PSDA).

    Menurut dia, aliran air dari Kabupaten Tegal semestinya memperhatikan daerah yang dialiri, seperti Kota Tegal yang akhirnya kebanjiran ini. Masih kata Sugiyanto, faktor selanjutnya adalah pengaruh pasang surut air laut atau rob. Kota Tegal merupakan daerah yang secara geografis berada di pesisir pantai. “Karena pasang surut air laut atau rob, aliran sungai tidak lancar,” jelasnya.

    Sekretaris Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rofii Ali yang juga meninjau di Jalan Banyuwangi berpendapat, selain koordinasi yang harus dilakukan secara lebih intensif, perlu ada memorandum of understanding (MoU) antara Pemerintah Kota Tegal dan Pemerintah Kabupaten Tegal. “Sebab, limpasan air yang masuk merugikan Kota Tegal,” tegasnya. (nam)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top