• Berita Terkini

    Friday, January 6, 2017

    Terlambat, Siswa di Jepara Dihukum hingga Pingsan

    ilustrasi
    JEPARA – Diduga karena datang terlambat, puluhan pelajar di SMAN 1 Mlonggo dihukum berdiri dan berlari dalam kondisi hujan deras. Akibatnya, 12 pelajar pingsan. Lima di antaranya harus dilarikan ke Puskesmas Mlonggo untuk mendapat penanganan medis.

    Kejadian bermula saat siswa diharuskan datang ke sekolah pukul 06.30 setiap hari Jumat. Namun karena cuaca pagi kemarin hujan deras, banyak siswa yang datang terlambat. Siswa yang terlambat datang ke sekolah kemudian diberikan hukuman dengan berdiri di halaman sekolah. Beberapa siswa juga diminta berlari dari gerbang sekolah hingga depan jalan raya. Padahal kondisi saat itu hujan deras.

    Karena tak tega melihat banyak pelajar menggigil dan hampir pingsan dihukum sekitar 1,5 jam, sebagian pelajar di sekolah tersebut kemudian meminta pada kepala sekolah agar menghentikan hukuman. Karena tak kuat tertimpa hujan deras lebih dari satu jam. Ada 12 pelajar yang pingsan.

    Dari jumlah itu, lima di antaranya dilarikan ke Puskesmas Mlonggo. Namun dua di antaranya, kemudian dirujuk ke RSI Sultan Hadirin untuk mendapat perawatan yang lebih intensif.

    Bahkan puluhan pelajar dari sekolah itu langsung mendatangi kantor Dinas Pendidikan Jepara untuk melaporkan kejadian tersebut. Mereka diterima langsung Kepala Dinas Pendidikan Jepara Khusairi didampingi Kabid Pendidikan SMP yang dulunya merupakan Kabid Pendidikan Menengah Mustaqim.

    Khusairi menyatakan, ada sekitar 50 pelajar yang datang. Karena tempat terbatas, pihaknya kemudian memanggil perwakilan anak untuk menyampaikan laporannya. ”Ada empat anak yang masuk ke ruangan saya. Sisanya kami arahkan masuk ke aula. Di sana juga diberikan pembinaan oleh Kabid Pemuda dan Olahraga,” katanya.

    Mengenai apa yang disampaikan para pelajar itu, Khusairi menyatakan, para pelajar menyampaikan temannya yang datang terlambat dihukum dengan berbaris dan berlari dalam keadaan hujan oleh kepala sekolah. Mereka diminta berlari mulai dari depan jalan raya hingga masuk gerbang sekolah. Jaraknya sendiri sekitar 100 meter. ”Banyak yang menggigil, tapi tetap dihukum sehingga banyak yang pingsan,” katanya.

    Para pelajar itu juga menyampaikan peristiwa itu bukan kali pertama. Kejadian serupa pernah dialami para pelajar di sekolah tersebut. Misalnya setelah mid semester pada September lalu, siswa yang datang terlambat dihukum berdiri berbaris di tengah lapangan sampai jam pulang sekolah pukul 13.30. ”Mereka juga menyampaikan guru sering di-briefing dalam waktu lama, sehingga kelas sering kosong. Keinginan siswa, kepala sekolah diganti,” urainya.

    Menanggapi laporan itu, Khusairi belum bisa berbuat banyak. Sebab saat ini bidang pendidikan SMA/SMK telah diambil alih provinsi. Meski begitu pihaknya tetap menyusun laporan itu untuk kemudian dikirimkan ke bidang SMA Provinsi Jawa Tengah. ”Kewenangan dinas sangat terbatas, jadi kami hanya bisa mengirimkan materi laporan itu pada provinsi,” tegasnya.

    Salah satu pelajar yang mendapatkan perawatan intensif di RSI Sultan Hadirin  berinisial RA mengaku, sempat pingsan saat mendapat hukuman dari kepala sekolahnya. Dia dan sejumlah pelajar lainnya kemudian dilarikan ke Puskesmas Mlonggo untuk mendapat pertolongan medis.

    Karena tak kunjung membaik, sekitar pukul 08.30 dia dan satu temannya kemudian dirujuk ke RSI Sultan Hadirin untuk mendapat perawatan intensif. Setelah beberapa jam mendapat perawatan, kondisi RA berangsur membaik. Dia juga mulai bisa diajak berkomunikasi.

    RA menceritakan, dia sudah berupaya menepati jam masuk sekolah yang diberlakukan setiap Jumat, yakni pukul 06.30. Hanya saja, dia sedikit terlambat kemarin pagi karena kondisi hujan deras. ”Dari rumah saya tidak sarapan, mengejar waktu agar tidak terlambat. Saat sampai sekolah sekitar pukul 06.30, tapi pintu gerbang sudah ditutup,” ucapnya.

    Setelah itu, masih banyak pelajar yang juga datang melebihi pukul 06.30. Mereka dihukum berdiri meski kondisi hujan deras. Ada pula yang dihukum berlari. Hukuman berlangsung sekitar 1,5 jam dan baru dihentikan saat para pelajar berbondong-bondong meminta pada kepala sekolah agar tak melanjutkan hukuman karena banyak siswa dan menggigil dan hampir pingsan. ”Banyak jumlahnya, hampir dari semua kelas ada yang terlambat,” tegasnya.

    RA sendiri belum tahu sampai kapan dia akan mendapat perawatan di RSI Sultan Hadirin. ”Belum tahu diperbolehkan pulang kapan,” ujarnya.
    Sementara itu, Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan saat dihubungi mengaku masih sibuk dan belum bisa memberikan keterangan. ”Ini masih sibuk, ada banyak tamu dan sedang berkomunikasi dengan orang tua juga,” katanya mengakhiri sambungan telepon. (emy/lil)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top