• Berita Terkini

    Jumat, 02 Desember 2016

    Cerita Mengharukan dari Peringatan Hari AIDS Sedunia di Rumah Singgah Lentera

    AMIANMUS BRAM/RASO
    SOLO – Anak-anak ini selalu ceria meskipun daya tahan tubuhnya digerogoti virus mematikan. Mereka juga tak terlalu menghiraukan bahwa 1 Desember kemarin merupakan peringatan Hari AIDS Sedunia. Yang ada di benak mereka hanya belajar dan bermain.

    11 anak itu tinggal di sebuah rumah di gang sempit kawasan Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan. Mereka tidak lagi memiliki ayah-ibu. Di rumah yang dikelola Yayasan Lentera Surakarta itu masing-masing anak bisa bercengkerama melebihi saudara.

    Seperti hari biasanya, siang kemarin mereka bermain di halaman rumah. Permainan terhenti ketika anak-anak ini melihat kedatangan seorang pria tak lain adalah Yunus Prasetyo, pembina Yayasan Lentera Surakarta.

    Anak-anak itu kemudian berebut memeluk Yunus sampil menyebut-nyebut papa…papa….papa. Mendapat sambutan hangat, Yunus menebar senyum lebar. Kedua tangannya yang membawas tas kresek berisi makanan cukup menyulitkannya memeluk balik anak-anak.

    Mereka kemudian dikumpulkan di ruang tamu berukuran sekitar 3X5 meter. Duduk lesehan mengitari hidangan nasi tumpeng. Acara seperti ini sangat jarang dirasakan anak-anak. Jadi tak heran jika mereka bertanya-tanya.

    “Tadi waktu mulai (acara, Red) ada yang bisik-bisik, bingung ini ada apa tho? Siapa yang ulang tahun. Makanya tadi saya jawab, ini ulang tahun kita, ulang tahun semua anak-anak yang ada di sini,” ungkap Yunus.

    Setelah berdoa dan memberikan sedikit wejangan, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Anak-anak tampak lahap. “Kita cuma ingin diserba-keterbatasan kita, anak-anak masih bisa menikmati sedikit rezeki,” ujar Yunus.

    Acara sederhana tersebut digelar untuk memeringati 5 tahun berdirinya Yayasan Lentera Surakarta sekaligus memeringati Hari AIDS Sedunia. “Selama ini, dana yang ada dipakai untuk menjangkau dan mendampingi teman-teman   berisiko (HIV dan AIDS,Red). Seperti teman-taman gay, pekerja seks, waria dan sebagainya. Tapi secara nasional belum ada aksi untuk anak-anak. Padahal anak-anak ini adalah kelompok yang paling rentan dari virus HIV dan AISDS di samping ibu,” papar Yunus.
    Perhatian dari pemerintah, lanjut dia, sangat diperlukan. Sebab anak-anak ini sudah tidak lagi memiliki ayah dan ibu. Kerabat mereka juga belum bisa memberikan perhatian.

    “Anak-anak ini tidak tahu dan belum bisa apa-apa. Tapi sudah ada virus ditubuhnya, sehingga mereka sangat bergantung dengan orang disekitarnya. Bila salah penanganan, umur mereka hanya 7 sampai 9 tahun,” ungkap Yunus.

    Berdasar data Yayasan Lentera Surakarta, ada 104 anak di wilayah Eks Karesidenan Surakarta mengidap virus HIV dan AIDS. Sedangkan di rumah singgah tersebut hanya bisa menampung sebagian kecilnya saja karena keterbatasan luas.

     “Kalau rumah singgah kita ini lebih besar lagi, pasti bisa muat puluhan. Tapi yang terjadi seperti ini, rumah kita sempit, kamarnya cuma 3, itupun harus dibagi dengan 11 anak dan 3 orang pemdamping,” terangnya.

    Padahal sesuai Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2014  tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS serta Peraturan Wali Kota Nomor 7B Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis (Juknis), jelas tertera anak-anak sebagai salah satu yang terjangkiti HIV dan AIDS merupakan tanggung jawab pemkot.

    “Sudah jelas (payung hukum, Red). Yang kita butuhkan sekarang memang lokasi kondusif dan dukungan lingkungan sekitar. Sehingga kita bersama-sama dapat mendampingi para anak-anak dengan maksimal,” harapnya.

    Persoalannya lainnya, anak-anak pengidap HIV dan AIDS yang dirawat di rumah singgah Yayasan Lentera Surakarta kesulitan memproses administrasi kependudukan (adminduk). Sebab ketika dijemput atau diantar keluarganya ke rumah singgah, anak-anak ini tidak membawa dokumen penting kependudukan.

     “Banyak KK (kartu keluarga,Red) yang hilang. Jadi sedikit susah memertegas status mereka di Solo,” ungkap Yunus. Status kependudukan itu sangat diperlukan anak terutama untuk jaminan pendidikan mereka.

    “Ada yang masuk usia sekolah, dari paud (pendidikan anak usia dini) sampai SMP. Jujur saja saya harus melobi secara personal dengan pihak sekolah agar mereka bisa mengenyam pendidikan, kita juga bayar, intinya apapun saya tempuh agar mereka dapat terus sekolah,” urai dia.

    Apa saja bantuan pemerintah yang sudah diberikan untuk anak-anak HIV dan AIDS? Yunus menuturkan, biaya terapi Anti Retroviral (ARV) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi telah di-cover pemerintah pusat. Terapi ARV berfungsi menekan virus HIV dan AIDS. (atn/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top