• Berita Terkini

    Tuesday, November 8, 2016

    Tolak Makanan Dikemas Styrofoam

    DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO
    SOLO – Mengemas makanan menggunakan styrofoam memang praktis, setelah dipakai langsung dibuang. Namun, sadarkah konsumen jika kemasan styrofoam mengandung bahan yang berbahaya bagi kesehatan? Penggunaan styrofoam oleh penjaja makanan kini mulai disorot Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Surakarta.

    Kepala Disperindag Surakarta Triyana menuturkan, penggunaan kemasan makanan styrofoam sudah sangat jamak di masyarakat. Tidak hanya sebagai bungkus makanan berat, namun juga jajanan di sekolah. “Sangat disayangkan penggunaan pembungkus yang tidak ramah lingkungan. Banyak anggota kami menemukan itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin (8/11).

    Di Kota Bandung, lanjut Triyana, penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan sudah dilarang melalui peraturan daerah (perda).  Namun untuk Kota Bengawan, pemkot  belum dapat mengambil keputusan seperti di Bandung. “Belum tahu apakah akan dibuat peraturan atau tidak. Kalau langsung seperti Bandung, saya kira belum bisa,” ujarnya.

    Disperindag lebih ingin melakukan pendekatan dari sisi konsumen. Menurut Triyana, pemilik usaha makanan tidak akan menggunakan styrofoam apabila konsumen menolaknya. Jika konsumen sejak awal menolak disertai alasan tepat, pedagang pun akan menyesuaikan. “Selama masih banyak peminat, ya pasti tetap akan ada,” kata Triyana.

    Terpisah, Ketua I Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Solo Sumartono Kardjo mengatakan, dari sisi medis bahan dasar styrofoam sangat berbahaya. Jika makanan yang dibungkus styrofoam tersebut dikonsumsi, dampak kesehatan secara tidak langsung adalah menimbulkan kanker. Selain itu, jika dibuang ke tanah, diperlukan waktu yang sangat lama hingga bahan styrofoam bisa terurai. “Karena di styrofoam terdapat kandungan kimiawi yang besar,” ujar Sumartono. (irw/ria)  

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top