• Berita Terkini

    Tuesday, November 29, 2016

    Soal OTT di Kebumen, Petruk: Ternyata Saya Banyak Gak Tahu

    M Basikun Mualim alias Ki Petruk
    DI edisi sebelumnya, Basikun Mualim sudah memaparkan soal apa yang dia ketahui soal suap ijon proyek Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kebumen. Pria yang akrab disapa Ki Petruk tersebut mengungkapkan, dia harus bersentuhan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena berada di lingkungan orang-orang yang kemudian diperiksa KPK.

    Namun dia menegaskan, kedekatan itu dalam ranah pengusulan program di bidang pendidikan. Bila kemudian terjadi Operasi Tangkap tangan (OTT) berujung terungkapnya dugaan suap ijon proyek Dikpora, Petruk menyebut ada oknum-oknum di DPRD Kebumen yang kemudian mencari keuntungan untuk dirinya sendiri melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD. Jadi, menurut Petruk, ijon proyek Dikpora ini semuanya berawal dari Pokir. Dia berharap, kedepan pemerintah pusat mengevaluasi kebijakan Pokir ini yang pada prakteknya kemudian bermasalah.

    Dalam edisi kali ini, Petruk kembali menjawab sejumlah pertanyaan. Bahkan ia juga bersedia menjawab pertanyaan apakah ikut menikmati aliran uang suap dalam kasus ini atau tidak. Juga apa yang dirasakannya setelah dia ikut terseret dalam perkara ini. Berikut petikan lengkapnya seperti saat Kebumen Eskpres melakukan wawancara khusus dengannya, di rumahnya, Gang Cempaka Jl Pemuda Kebumen pada Senin (21/11/2016) lalu.

    1. Sejumlah orang dekat dan mantan tim sukses (timses) Bupati Kebumen, HM Yahya Fuad pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) lalu dipanggil KPK. Seperti Barli Halim (pengusaha), Imam Satibi (Rektor IAINU Kebumen), Kasran (pengacara), Agus Hasan (dosen), Zaeni Miftah (Ketua DPC PKB Kebumen), Arif Budiman (pengusaha), Suhartono (Anggota DPRD Kebumen) dan sejumlah nama lain. Menurut Anda, mengapa orang-orang terdekat Bupati dipanggil KPK?


    BM: Saya berpikir positif saja tadinya. Saya juga kaget kenapa mereka sampai terlibat dipanggil. Setahu saya beliau-beliau itu tidak sedalam itu. Sampai tahu sedalam itu. Aku angel jawabe. Saya tidak punya alasan mengapa mereka tahu dipanggil. KPK yang lebih tahu.

    2. Anda kenal dengan Arif Budiman?

    BM: Tidak. Dia punya manajemen sendiri. Itu pula yang membuat saya kaget.(mengapa Arif Budiman  ikut diperiksa KPK)


    3. Bagaimana anda menanggapi soal adanya tudingan yang mengatakan Anda ikut menikmati aliran uang suap dalam kasus ini?

    BM: Nek saya ngomong tidak orang tidak percaya. Tapi saya ngomong iya saya membohongi diri sendiri. Tetapi, KPK itu luar biasa cerdas. Tidak ada aliran dana yang tidak diketahui. Jadi nanti di persidangan disaksikan apakah ada dana mengalir ke saya. Tetapi kepada sampeyan (Kebumen Ekspres) saya pastikan, seribu rupiah pun saya tidak terima duit seperti itu.

    4. Sejumlah orang menganggap anda tahu banyak soal kasus ini. Bahkan, ada yang menyebut anda tahu desain kasus ini dari awal. Benarkan demikian?


    BM: Saya banyak kaget..Tenyata begitu banyak hal saya tidak tahu.. Seperti tadi pertanyaan jenengan kok banyak sekali yang dipanggil. Itu berati saya tidak tahu ini dari rangkaian apa. Jadi kalau dikatakan saya tahu betul yo tidak pas. Wong saya betul-betul kaget.

    5. Menurut anda, kemana muara penanganan KPK akan kasus ini?


    BM: Muaranya ke penyelesaian OTT. Saya sangat yakin KPK itu luar biasa profesional. Tidak mungking KPK ditumpangi kepentingan lain. KPK juga tak punya kepentingan politik Pilkada. Saya sangat yakin KPK profesional. Saya optimis dan sangat yakin bupati saya itu sangat konsekuen slogannya no upeti korupsi. Bukan pula soal tim ses wong muaranya pada Pokir. DPR yang ketangkep bukan tim ses yang ketangkep.

    6. Apakah menurut anda akan ada lagi tersangka dalam kasus ini?

    BM: Saya berdoa jangan. Ya saya berharap tidak ada orang salah. Ini kita ambil hikmah de depan hati-hati. Tidak semua niat yang baik itu diterima dengan baik.

    7. Kasus ini berawal dari adanya proyek senilai Rp 4,8 miliar di Dinas Pendidikan Pemkab Kebumen dalam APBD-P Kabupaten Kebumen.  Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga tersangka masing-masing Mantan Ketua Komisi A DPRD Kebumen Yudi Trihartanto, Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Sigit Widodo serta Direktur PT OSMA Hartoyo oleh KPK.
    Hartoyo disangka memberikan suap agar perusahaannya lolos menjadi penggarap proyek tersebut. Perusahaan Hartoyo memang berkembang di bidang kargo, percetakan, penyedia alat peraga untuk kebutuhan anak sekolah, dan mebel, sesuai dengan proyek tersebut yang memang berada di Dinas Pendidikan. KPK menyebut awalnya imbalan yang diberikan kepada para tersangka seharusnya 20 persen dari nilai proyek, tapi akhirnya disepakati imbalannya sebesar Rp 750 juta. Soal suap senilai Rp 750 juta dari tersangka Hartoyo. Menurut anda, apakah suap itu sudah dilakukan apa belum?

    BM: Bahasa informasi 750 juta itu saja saya tahu ketika ada di media. Jadi saya tidak tahu uang itu ada atau tidak. Kalau betul itu terjadi, kecolongan saya. Ada deal-dealan yang saya tidak lihat dan saya tidak tahu. Le kecolongan habis-habisan saya. Kok ini dipanggil. Ini dipanggil. Ada apa mereka dipanggil. Ada informasi juga  ini mengalir ke sini mengalir ke sini. Lho kok bisa. Berarti selama ini, ntong-ntongan saya le kecolongan. Desain yang seperti ini mestinya berjalan kok ternyata sudah milik orang lain.

    Baca juga:
    (Ini Kata Petruk Soal "Kedekatannya" dengan Dian Lestari)



    Padahal kita ke depan menyiapkan beberapa teman-teman rekan-rekan pemula kita dorong untuk berkompetisi lelang. Pemula semua itu. Saya itu kan mencoba memposisikan pemberdayaan masyarakat A pemberdayaan masyarakat B tapi kan tidak banyak dong yang memotivasi rekanan pemula agar tidak takut berkompetisi.

    Kalau ada aliran 750 juta ya berati rekanan pemula yang ikut lelang nanti ya genep. Pelengkap penderitaan. Kalau tujuan saya kesana rekan-rekan pemula jangan takut lelang. Mereka harus belajar bersaing dengan rekanan yang berpengalaman.

    8 . Soal anda disebut ikut mendapat bagian kasus ini, khususnya dari pengadaan buku?

    BM: Saya itu hidup dari jualan eceran di buku  sekolah-sekolah. Dadi nek ana wong sing ngomong Kang Petruk nduwe kepentingan jualan buku kok saya mengelak, saya ya munafik. Saya jualan buku di sekolah-sekolah. Retail. Kalau ini ada peluang, saya sudah ngomong saya mendorong rekanan pemula untuk ikut lelang.

    (Yang terjadi) Ini bagian dari mengawal proses dan apa yang saya usulkan itu tidak ada kaitannya dengan proyek-proyekan yang diisukan di luar. Ini aspirasi. Muncul karena usulan bukan jatah. (cah).


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top