• Berita Terkini

    Tuesday, November 22, 2016

    Sekolah Dibongkar untuk Bangun Tol, Nasib Siswa Belum Jelas

    MUHAMMAD HADIYAN
    PEKALONGAN - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalongan soroti kelangsungan nasib siswa-siswi SDN Purwodadi di Desa Purwodadi, Kecamatan Sragi yang sekolahnya digusur untuk proyek tol. Dewan meminta, pembangunan sekolah baru dapat segera dilakukan. Pasalnya, lokasi kegiatan belajar mengajar (KBM) yang saat ini dialihkan sementara di balai desa dan TPQ setempat dinilai membuat para siswa tidak nyaman.

    "Mendapatkan pendidikan yang nyaman adalah tugas pemerintah. Dalam persoalan ini, pemerintah harus hadir untuk kelangsungan pembangunan sekolah itu bisa segera dilakukan. Kalau tidak cepat makan akan mengganggu KBM," ujar Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Pekalongan, Moh Nurkholis, kemarin.

    Menurutnya, pembangunan sekolah baru yang menunggu APBD 2017 dinilai terlalu lama. Sebab, pembelajaran yang dilangsungkan di balai desa, juga dikhawatirkan mengganggu pelayanan masyarakat di tingkat desa, selain ditakutkan menghambat target kompetensi dasar dalam KBM.

    "Ini harus diprioritaskan. Belajar di balai desa itu hanya sementara sih boleh-boleh saja, sembari menunggu pembangunan dilakukan. Bukan menunggu anggaran. Kalau sementara sambil menunggu anggaran kelamaan. Bisa mengganggu prestasi sekolah dan target pembelajaran tidak terpenuhi. Apalagi sebentar lagi ujian," tegas politisi PDI-P itu.

    Sementara, ratusan pelajar di SDN Purwodadi di Desa Purwodadi, sampai sekarang nasibnya memprihatinkan. Hal itu akibat bangunan sekolah terkena imbas proyek jalan tol ruas Pemalang - Batang. Siswa-siswi SD ini terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di kantor balai desa setempat dan 'numpang' di TPQ Sabilunajah.

    Dari pantauan, bangunan SDN Purwodadi memang belum digusur atau dibongkar. Namun, seluruh pintu ruang kelas dan kantor di SD ini sudah digembok. Memang, bangunan dan lahan yang terkena proyek jalan tol di sekitar SD ini sudah diratakan dengan tanah. Ratusan pelajar SDN Purwodadi sendiri sudah sejak dua pekan ini terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di balai desa dan TPQ di desa itu. Siswa-siswi kelas 1, 2, dan 3, mengikuti pembelajaran di balai desa, sedangkan kelas 4,5, dan 6 dipindah ke TPQ Sablinajah.

    Salah satu siswi SDN Purwodadi, Santika, mengakui tidak nyaman mengikuti proses belajar mengajar di TPQ, meskipun Taman Pendidikan Alquran ini pada pagi hari tidak digunakan oleh murid-muridnya. Sebab, proses belajar mengajar di TPQ dilaksanakan pada sore hari.
    "Tidak nyaman. Enak di sekolahan sendiri. Padahal, sebentar lagi akan ada ujian," tutur dia. (yan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top