• Berita Terkini

    Rabu, 30 November 2016

    Rumah Kebanjiran, Wali Kota Solo Salahkan BBWSBS

    DAMIANUS BRAM/RASO
    SOLO – Ketika tinggi muka air Sungai Bengawan Solo meninggi, Kelurahan Pucangsawit, tepatnya di RW 9 RT 1,2, dan 3 dipastikan banjir. Begitu juga rumah Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Kondisi tersebut membuat Rudy jengah.

    Tak sabar menunggu respons dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Rudy memerbaiki sendiri saluran pembuangan air yang disinyalir menjadi penyebab banjir.

    Senin (28/11) malam, kediaman Rudy di RT 2 RW 9 ramai menjadi jujukan warga di sekitarnya sebagai tempat aman lantaran air sudah mulai menggenangi jalan. Pantauan Jawa Pos Radar Solo sekitar pukul 22.30, genangan air di sekitar rumah wali kota sudah setinggi 50 sentimeter.

    Dua unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menyedot air. Satu jam berselang, upaya tersebut sia-sia. “Sekitar pukul 01.30 (Selasa 29/11,Red) air sudah di depan rumah,” ujar Rudy ditemui di kediamannya kemarin.

    Air terus meninggi dan mulai masuk teras rumah wali kota. Untungnya, posisi lantai rumah wali kota dibangun lebih tinggi dibandingkan rumah disekitarnya sehingga jika terjadi banjir bisa digunakan untuk mengungsi.“Itu sudah dari dulu kebanjiran. Setelah memantau (banjir, Red) di luar terus pulang ngurusi omahe dewe genti (mengurus rumahnya sendiri gantian),” imbuhnya.

    Apa penyebab banjir di Kelurahan Pucangsawit? Rudy blak-blakan menyebut kesalahan BBWSBS ketika membangun konstruksi saluran air di wilayah tersebut. Secara spesifik wali kota menuturkan, saat pembangunan parapet, BBWSBS membuat saluran besar yang menghubungkan gorong-gorong kampung ke Sungai Bengawan Solo dengan maksud sebagai saluran pembuangan air dari permukiman.

    Gorong-gorong tersebut dapat terlihat di bantaran sungai yang kini sudah dibangun parapet. “Kalau air Bengawannya tinggi, otomatis masuk ke saluran itu dan mengalir ke kampung, jadinya kebanjiran,” urai Rudy.

    Semestinya, lanjut Rudy,  dalam gorong-gorong itu dipasang sebuah klep otomatis yang berfungsi menutup aliran air dari Sungai Bengawan Solo ke permukiman di Kelurahan Pucangsawit.

    Sejak awal, Rudy dan warga sudah mengingatkan pihak pelaksana proyek agar memasang klep untuk menghindari banjir, namun tidak mendapatkan respons. “Nggak direspons ya saya perbaiki sendiri. Nggak usah minta BBWSBS, nggo duite dewe ae (pakai uangnya sendiri saja),” tegas dia.

    Benar saja, kemarin Rudy meminjam ekskavator milik Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk menggali titik yang diperkirakan sebagai gorong-gorong. Setelah ditemukan, gorong-gorong tersebut segera ditutup sementara.  Sedangkan untuk pembungan air dari kampung dicarikan jalur lain. “Ini nanti nunggu kering langsung saya tutup saja, biar air nggak masuk,” tandas dia.

    Pihak BBWSBS enggan menanggapi tudingan wali kota yang dinilai kurang cermat dalam membangun konstruksi saluran air. Menurut kuasa pengguna anggaran pelaksana jaringan sumber air BBWSBS Untoro Kurniawan, pihaknya fokus pada pengerjaan proyek penanggulangan banjir kota Solo yang meliputi tiga proyek yaitu normalisasi Kali Pepe, pembangunan parapet dan pembangunan rumah pompa. (irw/wa)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top