• Berita Terkini

    Tuesday, November 22, 2016

    Merdunya Biola Bambu Buatan Ngatmin

    Tepis Anggapan Biola Hanya untuk Kalangan Atas

    Berawal dari bekerja sebagai pengukir kayu membuat Ngatmin berinovasi dengan bambu untuk menciptakan alat musik gesek, biola. Tidak hanya itu, dia juga memberikan khas pada biola ciptaanya dengan ukiran wayang, hewan atau bahkan huruf pada bagian kepala pegangan biola.

    ---------------------
    SHALYA MAUREEN, Kudus
    ---------------------

    Memiliki karir sebagai tukang kayu tidaklah mudah bagi lelaki yang memiliki nama Ngatmin. Selama kurang lebih 20 tahun dia bekerja sebagai buruh pengukir kayu di Jepara. Tidak ingin lama menjadi buruh, dirinya pun bertekad untuk keluar dari pekerjaannya dan mulai membangun usah kecil yang tidak jauh dari mengukir kayu. Hingga akhirnya dia mendapatkan ide untuk menciptakan sebuah alat musi gesek dari bambu.

    Bertempat tinggal di daerah yang cukup sejuk di desa Japan Timur, Dawe, Kudus membuat Ngatmin menciptakan banyak ide kreatif. Rumahnya cukup dekat dengan makam sunan muria bila ditempuh dengan motor. Di depan rumah terlihat dari jauh seorang laki-laki memakai pakaian khas jawa, sorjan lurik berwarna cokelat dengan celana kain hitam tengah memainkan biola karyanya.

    Lelaki jangkung itu merupakan satu-satunya seniman kayu yang menciptakan biola bambu dari Kudus. Alat gesek yang pernah dibuatnya itu sempat juga dimainkan oleh musisi Iwan Fals dalam sebuah acara. Setelah memainkan biola bambu, Iwan membubuhkan tanda tangan di atas badan biola. Hingga saat ini, biola tersebut tersimpan rapi di sudut rumah Ngatmin.

    Dirinya mengaku sempat mempelajari beberapa jenis kayu dari beberapa daerah. Salah satunya dengan mengikuti Balai Latihan Kerja Kudus tentang instruktur kayu. “Untuk membuat biola kan butuh banyak modal, sehingga saya harus bisa meminimalisir kayu yang saya dapatkan supaya tidak boros dan mubazir,” ungkapnya kemarin saat ditemui.
    Sebelumnya, lelaki kelahiran Pati, 30 Oktober 1977 itu bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor pada tahun 2012. Di dalamnya Ngatmin banyak belajar tentang pengolahan kayu. “Saya kan hanya lulusan SD, tapi saya ingin memiliki pemikiran seperti para sarjana. Sehingga saya tidak pernah malu untuk belajar kapan pun, dimana pun, dan dari siapa pun. Terutama bagi orang yang lebih ahli dari saya dan mau membagi ilmu,” paparnya.

    Setelah belajar bagaimana mengolah kayu di IPB, saya mulai membuat usaha biola. Kali pertama mendapatkan ide itu secara tidak sengaja saat bertemu dengan Bupati Kudus Musthofa. Ngatmin sempat diberi wejangan untuk menciptakan alat musik yang terbuat dari bambu. Dia sempat berpikir untuk membuat suling. Namun, itu hal yang biasa, hingga akhirnya terpikir untuk membuat biola bambu.

    “Membuat ornamen pada biola itu sulit sulit mudah. Saya harus pintar bermain pada ukiran, karena bentuk biola sudah paten tidak bisa diubah. Untuk ide sendiri saya dapatkan dari internet dengan cara sistem ATM; Amati, Tiru, dan Modifikasi. Selain itu juga saya mengikuti permintaan dari konsumen. Jika di stelan suara, saya biasa ikut dari pemesan,” terang suami dari Sri Sudarwati itu.

    Ayah dari dua anak itu membuat biola tidak hanya dari bambu saja. Dia juga sempat membuat biola dari kayu. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu petung dan wulung. Sedangkan biola kayu itu dari Manggabacang, Pinus, dan Sono Keling. “Dalam satu bulan paling tidak menghasilkan lima biola kayu atau dua biola dari bambu. Bambu lebih rumit pengerjaannya karena detailnya. Saya harus membuatnya dengan sempurna jika ingin bersaing dengan produk luar,” tambahnya.

    Untuk biaya penjualan biola kayu, Ngatmin biasa mematok dengan harga Rp. 1-1,5 juta. Berbeda dengan biola bambu yang harganya bisa mencapai Rp. 3-5 juta. Nilainya terbilang fantastis namun cukup terjangkau. Ngatmin sendiri memiliki keinginan untuk mengenalkan biola di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

    “Biola itu kan dari dulu hanya dimainkan oleh masyarakat menengah ke atas. Dari sini, saya berharap semoga biola bisa masuk ke kalangan menengah ke bawah juga. Saya pun siap membantu dengan memberikan kursus gratis secara Cuma-cuma. Asal nanti, biola bambu mampu membawa nama Kudus ke Mancanegara,” harapnya.

    Hingga saat ini, Ngatmin sudah mengikuti banyak pameran untuk memperkenalkan produknya. Mulai dari sekitar Jawa Tengah hingga ke Batam. Bahkan salah satu karyanya ada yang dipajang di Museum Ranggawarsita, Semarang, sebagai salah satu warisan budaya khas Kudus.

    Kini, Ngatmin sedang memanfaatkan limbah kayu untuk dijadikan ornamen kaligrafi yang dibingkai indah. “Saya kan hanya tukang kayu yang kebetulan bisa mengukir, menciptakan ide, dan memproduksi tapi tidak pintar dalam menjual. Semoga dari sini, saya bisa bersaing dengan yang lain, karena saya mengutamakan kualitas,” akunya. (*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top