• Berita Terkini

    Friday, November 4, 2016

    Dari Tur Malaysia Journalist Competition Astra Motor 2016 (bag 1)

    fuadhasyim/ekspres
    Dari Berebut Souvenir hingga "Puan Comel" yang Jadi Favorit

    Sebanyak 18 jurnalis dari berbagai media cetak dan online di seluruh Indonesia mendapat kesempatan langka menyaksikan langsung gelaran MotoGP 2016 seri 16 di Sirkuit Internasional Sepang (SIC), Malaysia, Minggu (30/10/2016). Berikut laporan Kepala Biro Kebumen Ekspres, Fuad Hasyim yang ikut dalam tour seru itu.
    ---------------------------
    Fuad Hasyim, Kuala Lumpur
    -------------------------

    NONTON langsung MotoGP di Sepang ini adalah rangkaian kegiatan yang diadakan Astra Honda Motor bagi para pemenang Journalist Competition Astra Motor 2016, termasuk Kebumen Ekspres yang menjadi juara I untuk regional Yogyakarta, Kedu dan Banyumas.

    Sementara 17 peserta lainnya berasal dari Regional Sulawesi, Kalimantan Barat, Makassar, Papua, Bali, Bengkulu, Jawa Tengah, Sumatera dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Rombongan berangkat Sabtu (29/10) petang dari Bandara Soekarno Hatta Tangerang menuju bandara Kuala Lumpur menggunakan maskapi KLM Belanda setelah sebelumnya dijamu makan siang oleh jajaran petinggi Astra Honda Motor di Saung Sampieriun Ancol. Tiba di Kuala Lumpur, rombongan kemudian beristirahat di Hotel Dorsett di kawasan pusat kota Kuala Lumpur.

    Selain Sepang, para awak media yang dikawal Corporate Communication Astra Motor, Djamilah, juga diajak mengunjungi belasan lokasi menarik di Malaysia. Mulai dari Istana Negara, Kuala Lumpur (KL) Tower, Sungai Wang, Cocoa House, Freeport Famosa Fos Outlet, Kota Tua Malaka hingga Petronas Twin Tower, bangunan tertinggi di dunia yang menjadi ikon negeri jiran tersebut. Tapi, MotoGP di sirkuit Sepang tetap yang paling ditunggu.

    Akhir pekan kemarin, Sepang memang menjadi magnet raksasa yang mampu menyedot puluhan bahkan ratusan ribu manusia dari berbagai penjuru dunia.
    Padahal sebelumnya, banyak yang memprediksi balapan di Sepang tahun ini bakal hambar setelah Marc Marquez mengunci gelar juara dunia di Jepang, dua minggu sebelum gelaran MotoGP Sepang. Nyatanya di sirkuit tidak demikian halnya.

    Sejak sesi kualifikasi pada Sabtu (29/10), penonton sudah ramai memadati sirkuit yang berada di tengah-tengah area perkebunan sawit di kawasan Selangor. Puncaknya pada race day, sehari kemudian. Ribuan kendaraan, mulai motor, mobil hingga bus tumpah ruah di jalanan menuju sirkuit Sepang.

    Imbasnya, kemacetan pun tak terhindarkan. Hebatnya, semua tetap antri dengan tertib. Tak ada saling serobot jalur. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat tetap melaju pada jalurnya. Meski jalur menuju Sirkuit Sepang berstatus jalan tol, namun sepeda motor roda dua tetap dibolehkan masuk. Beda dengan di Indonesia, di Malaysia, semua jalan tol memang terbuka bagi sepeda motor dan ada jalur khusus di lajur paling kiri. Pengendara mobil jangan coba-coba melintasi jalur sepeda motor ini. Jika nekat, polisi setempat tak ragu-ragu mengeluarkan surat tilang.

    Satu yang berbeda, di tengah kondisi macet sekalipun, nyaris tak ada suara klakson yang melengking bersahutan. "Kalau di Malaysia, pengemudi membunyikan klakson berlebihan bisa dibilang orang gila," kata Mr Azhari, guide local Malaysia yang mengawal tur para wartawan sambil memberi tanda silang melintang dengan tangan di dahinya.

    Tiba di Sirkuit Sepang, tempat parkir sudah penuh terisi. Setelah foto sesion dengan background landmark Sirkuit Sepang, rombongan selanjutnya menuju pintu masuk sirkuit menggunakan shuttle bus gratis yang disediakan pengelola sirkuit.

    Begitu tiba di pintu gerbang sirkuit, kemeriahan pun langsung tersaji.

    Soal entertainment, MotoGP di Sepang memang jauh lebih seru daripada F1. Mall Area dijejali stan-stan motor dan aksesori sepanjang pintu gerbang hingga pintu masuk sirkuit. Hampir semua brand yang menempel di baju tim membuka stan di tempat itu.

    Puan comel (cewek cantik) mengisi hampir semua stan sebagai sales promotion girl (SPG). Mereka sangat menarik perhatian dengan baju yang cukup berani. Asyiknya lagi, SPG ditiap booth sangat welcome dan antusias menyambut setiap lensa kamera dengan gaya yang atraktif nan menantang pula.
    Selain memajang SPG seksi, tiap booth juga membagi-bagikan souvenir gratis. Mulai dari kipas, payung, mantol hujan hingga stiker. Nah untuk urusan ini, penonton dari Indonesia paling mudah dikenali. Tiap ada pembagian souvenir gratis, penonton dari Indonesialah yang paling banyak maju ke depan. Saya pun tak mau kalah berebut souvenir gratis ini.

    "Lumayan buat kenang-kenangan di Indonesia," kata Ahmad, penonton dari Blitar Jawa Timur.
    Harga berbagai souvenir yang dipajang di tiap booth memang cukup menguras isi kantong. Kaos Valentino Rossi atau Marc Marquez yang dijual di counter resmi bisa mencapai 150-400 Ringgit Malaysia (RM). Jika dirupiahkan, harganya bisa lebih dari satu juta rupiah. Memang ada kaos KW di luar sirkuit. Harganya cukup murah, hanya sekitar 40-60 RM. Tapi kualitasnya jelas jauh beda. Tipis dan agak kasar, mirip kaos harga Rp 50 ribu-an yang dijual di Malioboro Yogyakarta.

    Dibawah guyuran hujan, kami pun langsung menuju ke tempat duduk di grand stand yang berada persis di depan line start.

    Sayang, kami tidak bisa mengakses paddock atau garasi tim yang menjadi titik fokus balapan sehingga musnah harapan saya untuk berfoto dengan Marc Marquez atau Valentino Rossi. Meski begitu, kekecewaan saya cukup terobati melihat langsung pembalap-pembalap MotoGP seperti Jorge Lorenzo, Andrea Dovizioso hingga rising star Maverick Vinales beracu cepat di lintasan.

    Jangan dibayangkan menonton MotoGP langsung di sirkuit lebih nyaman dibanding nonton di rumah. Jujur saja, saya lebih suka menonton MotoGP di rumah sambil makan minum sembari menghisap rokok. Di sirkuit, kita hanya bisa menonton aksi pembalap hanya di satu spot sirkuit saja. Itupun hanya sekejap mata saja, karena laju pembalap sangat cepat. Bahkan di tribun tempat saya yang merupakan trek lurus (dibawah payung jamur raksasa), kecepatan pembalap bisa diatas 300 km/jam.

    Jadi cuma wusss...wusss saja. Memang ada sejumlah layar berukuran besar di sejumlah titik sirkuit. Namun tetap tak bisa dinikmati. Tak heran jika kemudian banyak penonton pindah tempat duduk dan beralih ke giant screen di luar sirkuit agar bisa lebih menikmati pertarungan para pembalap.

    Soal suara jangan ditanya pula. Sangat-sangat bising dan super memekakan telinga, apalagi jika tak memakai ear pludge (peredam suara) di telinga. Tak sedikit penonton yang kaget dengan suara bising ini. Tapi kebisingan inilah yang justru dicari para penonton sehingga rela datang langsung ke sirkuit yang memiliki panjang lintasan 5.543 km.

    "Super bising tapi asyik, kalau tak datang kesini mana bisa tahu bagaimana suara mesin motor yang dipakai Rossi," kata Hendrikus Buan Kleden, wartawan Bali Tribune.

    Pada balapan kemarin, Andrea Doviszio boleh saja menjadi juara setelah bertarung selama 19 lap. Tapi Valentino Rossi-lah tetapi 'juara sesungguhnya'. Tiap aksi si pembalap legendaris pemilik nomor 46 ini selalu menjadi perhatian penonton. Bahkan ketika Rossi keluar dari paddock, gemuruh tepuk tangan langsung bergema di sirkuit.

    Apalagi ketika aksi overtaking Rossi dengan Marquez maupun Dovisiozo. Tribun Valentino Rossi pun menguning oleh puluhan ribu penggemar yang kompak mengenakan kaos warna kuning khas Rossi. Meski demikan, pendukung Marc Marquez pun tak kalah banyak, meski masih kalah dengan pendukung Rossi.

    Yang patut diacungi jempol, meski memiliki jagoan berbeda, namun pendukung kedua pembalap ini tetap kompak dan tak ada saling ledek. (bersambung)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top