• Berita Terkini

    Tuesday, November 15, 2016

    Chikungunya dan DBD Mengganas di Sukoharjo

    SUKOHARJO – Berbarengan dengan cuaca ekstrem yang berpotensi longsor, banjir dan puting beliung, ada ancaman tidak kalah ganas. Gigitan nyamuk aedes aegypti. Serangga berukuran tak lebih besar dari bulir padi itu membuat sejumlah warga di Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar kalang kabut. Korban sudah berjatuhan.

    Dalam sebulan terakhir, di Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, sedikitnya 70 warga setempat mengalami gejala chikungunya. Hasil pemantauan dinas kesehatan (dinkes) Sukoharjo, nyamuk dengan corak garis putih di tubuhnya itu menyerang warga Desa Kemasan, Desa Jatisobo, Desa Mranggen, Desa Polokarto, dan Desa Godog.

    ”Sudah kami tindak lanjuti,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo Bambang Sudiyono kemarin.

    Bambang mewanti-wanti, warga yang mengalami gejala chikungunya segara melapor dan beraobet ke puskesmas atau layanan kesehatan terdekat lainnya. Petugas medis dipastikan segere melakukan verifikasi dan terjun ke lapangan.

    Salah seorang warga Desa Kemasan Andrie Eka menuturkan, petugas dinkes Sukoharjo telah meninjau permukimannya untuk melakukan penanganan chikungunya. ”Saya sejak beberapa hari terakhir mengalami gejala chikungunya. Tidak bisa bergerak bebas,” katanya.

    Menutur Andri, teror nyamuk belang-belang itu sudah terjadi sekitar dua bulan lalu di desa lain. Tak lama kemudian meluas ke Desa Kemasan. “Ada warga yang sampai tidak bisa bangun dan mengeluh tubuhnya nyeri,” ungkapnya.

    Sedangkan di Kabupaten Karanganyar, hingga bulan ini ada lima orang meninggal karena mengalami demam berdarah dengue (DBD). Mayoritas adalah anak-anak. Sedangkan total kasus DBD yang tercatat mencapai 450 kasus.

    ”Memasuki penghujan, kerawanan serangan DBD berkurang karena air di tempat-tempat genangan mengalir lancar. Namun demikian tetap harus diantisipasi terutama genangan-genangan air di dalam rumah,” kata   Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar Fatkhul Munir.

    Dijelaskan Fatkhul, dari pengalaman sebelumnya, DBD melonjak pada November hingga April. Adanya kasus pasien meninggal dunia karena terlambat mendapat penanganan medis. ”Orang yang sudah tergigit nyamuk pembawa DBD harus segera mendapat pertolongan pertama,” ucapnya.

    Lebih lanjut diterangkan dia, tahun ini merupakan siklus lima tahunan kasus DBD di Karanganyar. Pencegahan terus dilakukan agar tidak terulang seperti 2015 yang mencapai 500 kasus DBD.

    ”Kami peringatkan ke tim gerak cepat dan kader pemantau jentik nyamuk lebih aktif. Masyarakat ikut dilibatkan dengan metode tilik tonggo (mengingatkan warga, Red) dan gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk, Red). Cara itu lebih efektif dari pada pemberantasan jentik nyamuk,” urai Fatkhul.

    Apakah tidak dilakukan fogging? Fatkhul menegaskan pengasapan tidak akan menyelesaikan masalah. Cara yang paling ampuh mencegah penyebaran DBD adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan. (yan/adi/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top