• Berita Terkini

    Tuesday, November 1, 2016

    ABG Pulang setelah 20 Hari Menggelandang

    AHMAD KHAIRUDIN/RASO
    SRAGEN – Gadis Kelas VIII SMP yang kabur dari rumah selama 20 hari akhirnya ditemukan dan kembali pada pelukan orang tuanya. FAK asal Kecamatan  Sambungmacan Kabupaten Sragen ini menceritakan pengalamannya menjadi anak punk selama pelariannya.

    Saat hendak mendapat pengobatan psikologis di Kantor Desa Tunggul Kecamatan Gondang kemarin, FAK menyampaikan awalnya dia berkenalan dengan teman lelakinya yakni Adi Nugroho dan Eko Suryadi asal kecamatan Tangen. Setelah janjian melalui pesan singkat, FAK dijemput temannya tersebut untuk main.

    FAK mengaku dirinya yang mengajak keluar untuk bermain. Namun saat hendak pulang, justru kedua temannya itu tidak mau mengantarkan pulang, tapi justru mengajak menjadi anak punk. Akhirnya dia mau dan ikut mengamen di jalanan. ”Saya makan di terminal. Tidur di terminal, ikut naik truk buat mengamen,” ujarnya

    Dia mengaku ikut anak punk tersebut dan mencari uang dengan cara mengamen. Dirinya mengamen di sepanjang jalan yang dilalui kendaraan-kendaraan besar mulai dari Solo sampai Mojokerto. FAK sendiri akhirnya mengirim pesan pada keluarganya untuk dijemput pada Minggu lalu (30/10).

    Selama 20 hari menjadi anak punk, FAK mengaku tidak pernah ganti baju dan tidak pernah mandi. Meski demikian, dia mengaku menikmati menjadi anak punk. Pasalnya dia mengaku tidak nyaman dengan kondisi keluarganya. ”Rasanya senang aja,” tuturnya.

    FAK sendiri dijemput oleh pamannya Sudarto. Dia menyampaikan saat menjemput keponakannya di sekitar Terminal Maospati Magetan, dia melihat puluhan anak punk. Keponakannya tergabung dalam rombongan tersebut.

    Bahkan ada juga warga Tangkil, Sragen kota bernama Wahyu, yang juga ikut menjadi rombongan anak punk tersebut. Setelah ditawari akhirnya anak asal Tangkil tersebut juga mau ikut pulang.
    Sementara itu dr Dede Rus Muhammad yang membantu Aliansi Peduli Perempauan Sukowati (APPS) Sragen menyampaikan, faktor utama anak-anak berperilaku menyimpang yakni kondisi keluarga yang tidak harmonis. ”Kekerasan, penelantaran, dans sebagainya dalam keluarga akan berimbas pada banyak hal yang dialami anak, termasuk pada kekerasan,” ujarnya. (din/bun)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top