• Berita Terkini

    Friday, October 28, 2016

    Sutrisno, Tukang Tapel Kuda yang Masih Tersisa

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Kepiawian dan konsistensi Sutrisno (48) warga Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun dalam memasang tapel kuda patut diacungi jempol. Pekerjaan yang sudah ia tekuni sekitar 25 tahun lebih, menjadi tambatan hidupnya dalam memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan kedua buah hatinya, yakni Agus Suliyanto (15) dan Agung Risdiyanto (10).

    Setiap hari mulai pagi sampai sore hari, Sutrisno selalu sibuk dengan aktivitas memasang tapel kuda andong dokar yang biasa mangkal di Pasar Prembun. Dia adalah satu-satunya tukang tapel kuda yang masih tersisa. Dia selalu setia melayani permintaan pelanggan yang kini hanya sebanyak 35 dokar.

    Dulu, profesi tukang tapel kuda di Pasar Prembun dan Kutowinangun cukup banyak. Seiring berjalannya waktu, jumlah tukang tapel kuda itu terus berkurang. Begitupun dengan jumlah andong dokar yang dari tahun ke tahun juga mengalami penurunan. Namun, hal itu tak menghentikan Sutrisno untuk tetap menekuni usaha jasa tersebut. "Saya sudah 25 tahun kerja seperti ini," katanya, kemarin.

    Untuk pemasangan empat tapel kuda atau seekor kuda ia membanderol harga Rp 36.000, sedangkan untuk satu tapel kuda seharga Rp 9.000. Meski jumlah pelanggannya mengalami penurunan jumlah, namun pendapatan yang dia peroleh cukup banyak, kisaran Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per hari.

    "Tapel kuda merupakan kebutuhan pokok para andong dokar. Seminggu sampai 10 hari, tapel kuda itu harus diganti," tuturnya.

    Menurut penuturannya, biasanya setiap menjelang hari besar seperti lebaran, tingkat pendapatan Sutrisno mengalami peningkatan, karena kebanyakan tukang andong dokar mengganti tapel kudanya guna mempersiapkan peningkatan penumpang.

    Pekerjaan yang digeluti Sutrisno pun sangat berisiko. Ia pernah mangalami luka wajah akibat tendangan kaki kuda saat memasang tapel. "Pada dasarnya memasang tapel itu mudah. Yang susah kalau kudanya rewel," jelasnya.

    Hingga saat ini Sutrisno masih menekuni usaha jasa pemasangan tapel kuda dengan menggunakan peralatan sederhana, seperti palu, paku tapel kuda dan kikir.

    "Tukang tapel kuda di sini tinggal saya saja yang masih bertahan, sementara yang lain sudah gulung tikar sejak lama, karena makin sepinya order," pungkasnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top